Dikeluhkan Penumpang, PT Transjakarta Dukung DKI Bongkar JPO HI
Senin, 30 Juli 2018 - 20:18 WIB
Dikeluhkan Penumpang, PT Transjakarta Dukung DKI Bongkar JPO HI
A
A
A
JAKARTA - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menyambut baik rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghilangkan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Pasalnya, hal itu merupakan salah satu keluhan penumpang bus Transjakarta.
Direktur Utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono mengatakan, selama ini pihaknya sangat ingin menghilangkan JPO halte bus Transjakarta yang kerap dikeluhkan pelanggan. Namun, karena keterbatasan kewenangan, pihaknya sulit untuk menghilangkan JPO tersebut.
"Nah Pak Gubernur (Anies) sudah memutuskan (untuk) menghilangkan JPO. Kami sangat senang, ini merupakan bentuk dukungan supaya penumpang bus Transjakarta lebih besar," kata Budi Kaliwono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/7/2018).
Budi menjelaskan, sebagai pengganti JPO, pelanggan bus Transjakarta nantinya akan menggunakan pelican crossing sebelum adanya underpass Mass Rapid Transit (MRT) yang beroperasi pada Maret 2019 mendatang. Menurutnya, dengan adanya underpass yang informasinya menggunakan naik turun eskalator, pelanggan Transjakarta menjadi lebih nyaman dan tidak terkena hujan.
Terkait penggunaan pelican crossing sebagai pengganti sementara, Budi optimis pelican crossing tidak akan membahayakan pelanggan Transjakarta lantaran pihaknya akan menempatkan petugas untuk membantu keamanan pelanggan bus.
"Kami akan mengkaji dan menginventarisasi halte mana saja yang berhimpitan dengan underpass dan pelican crossing. kan kaya di HI kan underpass. Mana yang belum ada underpass kita sama-sama carikan jalan keluarnya. Contoh misalnya halte Monas itu tidak ada JPO pake pelican? Haltenya terbatas jugakan? Bus kita percepat supaya tidak ada antrean," katanya.
Saat ini, kata Budi, halte bus Transjakarta Sudirman-Thamrin mulai dimodifikasi tanpa harus menggunakan JPO. Salah satunya di Halte Bus Bank Indonesia (BI). Artinya, keputusan gubernur untuk menghilangkan JPO halte Transjakarta benar-benar akan dilakukan dan dia optimis bahwa akan selesai tahun ini.
"Tim gubernur cukup banyak dan pastinya sudah mengkaji terlebih dahulu apa yang dibicarakan oleh pak gubernur. Jadi kami optimis Transjakarta tetap ada tanpa JPO meski MRT nanti beroperasi," ungkapnya.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menegaskan, penghilangan JPO itu perlu pembiasaan, baik bagi pengendara ataupun pejalan kaki dan difabilitas. Untuk itu, dalam penggunaan pelican crossing harus ada petugas yang menjaga 24 jam.
Nantinya, lanjut Anies, seluruh JPO Sudirman-Thamrin akan dirobohkan dan diganti dengan pelican crossing. Saat ini semuanya sedang bangun. Sehingga, pengguna Transjakarta tidak perlu lagi menaiki JPO untuk menggunakan Bus Transjakarta.
"kita sebentar lagi punya jembatan underpass. Tadi kita sudah mendengar dari Pak Rahmat Effendi, beliau adalah project managemnet instrukrur bahwa menyampaikan secara projek sudah selesai. Ada beberapa hal yang harus dituntaskan dulu. kalau itu dituntaskan maka kita akan menggunakan underpass saja. Mengapa? Karena kalau ada underpaass potensi interupsi lalu lintasnya rendah. karena lalu lintas akan lebih lancar. Karena kita pakai dulu dua-duanya," terangnya.
Sementara itu, anggota komisi B DPRD DKI Jakarta, William Yani meminta Gubernur Anies mengkaji kembali wacana merobohkan seluruh JPO, apalagi JPO Transjakarta. Menurutnya, hal itu justru membahayakan dan menurunkan pengguna layanan bus Transjakarta.
Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, MRT Jakarta baru beroperasi pada Maret 2019 dan hanya sampai Bundaran HI. Artinya, masyarakat masih butuh Transjakarta untuk bermobilitas sebelum adanya MRT.
"Kalau enggak ada JPO, masyarakat gimana naik bus yang haltenya ada di tengah? Yakin mau dijaga 24 jam? Jangan sampai menjadi masalah baru, kemacetan justru malah bertambah dengan kebijakan itu," tegasnya.
Direktur Utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono mengatakan, selama ini pihaknya sangat ingin menghilangkan JPO halte bus Transjakarta yang kerap dikeluhkan pelanggan. Namun, karena keterbatasan kewenangan, pihaknya sulit untuk menghilangkan JPO tersebut.
"Nah Pak Gubernur (Anies) sudah memutuskan (untuk) menghilangkan JPO. Kami sangat senang, ini merupakan bentuk dukungan supaya penumpang bus Transjakarta lebih besar," kata Budi Kaliwono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/7/2018).
Budi menjelaskan, sebagai pengganti JPO, pelanggan bus Transjakarta nantinya akan menggunakan pelican crossing sebelum adanya underpass Mass Rapid Transit (MRT) yang beroperasi pada Maret 2019 mendatang. Menurutnya, dengan adanya underpass yang informasinya menggunakan naik turun eskalator, pelanggan Transjakarta menjadi lebih nyaman dan tidak terkena hujan.
Terkait penggunaan pelican crossing sebagai pengganti sementara, Budi optimis pelican crossing tidak akan membahayakan pelanggan Transjakarta lantaran pihaknya akan menempatkan petugas untuk membantu keamanan pelanggan bus.
"Kami akan mengkaji dan menginventarisasi halte mana saja yang berhimpitan dengan underpass dan pelican crossing. kan kaya di HI kan underpass. Mana yang belum ada underpass kita sama-sama carikan jalan keluarnya. Contoh misalnya halte Monas itu tidak ada JPO pake pelican? Haltenya terbatas jugakan? Bus kita percepat supaya tidak ada antrean," katanya.
Saat ini, kata Budi, halte bus Transjakarta Sudirman-Thamrin mulai dimodifikasi tanpa harus menggunakan JPO. Salah satunya di Halte Bus Bank Indonesia (BI). Artinya, keputusan gubernur untuk menghilangkan JPO halte Transjakarta benar-benar akan dilakukan dan dia optimis bahwa akan selesai tahun ini.
"Tim gubernur cukup banyak dan pastinya sudah mengkaji terlebih dahulu apa yang dibicarakan oleh pak gubernur. Jadi kami optimis Transjakarta tetap ada tanpa JPO meski MRT nanti beroperasi," ungkapnya.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menegaskan, penghilangan JPO itu perlu pembiasaan, baik bagi pengendara ataupun pejalan kaki dan difabilitas. Untuk itu, dalam penggunaan pelican crossing harus ada petugas yang menjaga 24 jam.
Nantinya, lanjut Anies, seluruh JPO Sudirman-Thamrin akan dirobohkan dan diganti dengan pelican crossing. Saat ini semuanya sedang bangun. Sehingga, pengguna Transjakarta tidak perlu lagi menaiki JPO untuk menggunakan Bus Transjakarta.
"kita sebentar lagi punya jembatan underpass. Tadi kita sudah mendengar dari Pak Rahmat Effendi, beliau adalah project managemnet instrukrur bahwa menyampaikan secara projek sudah selesai. Ada beberapa hal yang harus dituntaskan dulu. kalau itu dituntaskan maka kita akan menggunakan underpass saja. Mengapa? Karena kalau ada underpaass potensi interupsi lalu lintasnya rendah. karena lalu lintas akan lebih lancar. Karena kita pakai dulu dua-duanya," terangnya.
Sementara itu, anggota komisi B DPRD DKI Jakarta, William Yani meminta Gubernur Anies mengkaji kembali wacana merobohkan seluruh JPO, apalagi JPO Transjakarta. Menurutnya, hal itu justru membahayakan dan menurunkan pengguna layanan bus Transjakarta.
Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, MRT Jakarta baru beroperasi pada Maret 2019 dan hanya sampai Bundaran HI. Artinya, masyarakat masih butuh Transjakarta untuk bermobilitas sebelum adanya MRT.
"Kalau enggak ada JPO, masyarakat gimana naik bus yang haltenya ada di tengah? Yakin mau dijaga 24 jam? Jangan sampai menjadi masalah baru, kemacetan justru malah bertambah dengan kebijakan itu," tegasnya.
(mhd)