Puncak Musim Panas di Bekasi, Penderita Demam Capai Belasan Ribu
Selasa, 24 Juli 2018 - 12:03 WIB
Puncak Musim Panas di Bekasi, Penderita Demam Capai Belasan Ribu
A
A
A
BEKASI - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mulai mewaspadai penyakit demam yang menyerang ribuan warganya saat puncak musim panas. Sebab, panas yang menyengat wilayahnya dapat berpengaruh kepada kesehatan masyarakat yang berada di timur DKI Jakarta tersebut.
Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Bekasi ada 11.247 kasus penyakit demam yang tidak diketahui penyebabnya.
"Demam itu biasanya disebabkan karena kondisi daya tahan tubuh yang lemah," ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati di Bekasi, Selasa (24/7/2018).
Sejauh ini, kata dia, tingkat penyebaran penyakit teridentifikasi untuk seluruh usia. Dan wilayah penyebarannya sendiri hampir terjadi di tiap-tiap kecamatan dengan kasus yang sama. Apalagi, Dezi memprediksi penyakit demam akan terjadi di sepanjang tahun karena, musim panas kali ini cukup panjang.
Sehingga, kata dia, kasus penderitanya akan terus meningkat saat musim pancaroba tiba, yakni pergantian musim dari hujan ke panas. Dengan begitu, pihaknya tetap melakukan pelayanan medis bagi seluruh warga yang berkeinginan mendapat perawatan medis untuk kesetahatan.
Hanya saja, bila penyakit tersebut dianggap memerlukan tambahan alat, maka pihak puskesmas akan merujuk ke RSUD Kota Bekasi. Kondisi saat ini, cukup mengkhawatirkan. Sebab, suhu cuaca sudah memasuki kemarau, yang berakibat tebaran debu menjadi sangat aktif menyerang warga.
Dezi mengimbau, bila seluruh warga yang hendak keluar rumah untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem. Misalkan, dengan memakai masker bila melakukan perjalanan jauh. Hal itu untuk mengantisipasi serangan debu di jalan-jalan.
"Jika keluar rumah menggunakan masker. Yang penting, sekitar tempat tinggalnya harus bersih," katanya.
Saat ini, lanjut dia, jumlah 11.247 penderita demam itu berdasarkan laporan dari Januari sampai Juni 2018. Seluruh laporan itu berasal dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di 12 kecamatan. Penyakit demam itu tidak mematikan, melainkan hanya bisa melemahkan tubuh.
Untuk itu, kata dia, untuk bisa menghindari penyakit demam, maka kondisi lingkungan harus bersih. Sebab gejala yang menyertai demam diantaranya Sakit kepala, berkeringat dingin, menggigil, dehidrasi, batuk-batuk, sakit tenggorokan, sakit pada telinga, diare dan muntah-muntah.
Direktur RSDU Kota Bekasi, Kusnanto Saidi menambahkan, di musim panas ini mensasar ke sejumlah anak-anak termasuk golongan orang dewasa. Pencegahannya adalah dengan memakai masker bila cuaca sedang ekstrem. "Karena kalau sudah panas, debunya sangat bahaya," imbuhnya.
Kusnanto mengakui, sampai sekarang jumlah pengunjung yang datang ke poli klinik mencapai 1,500 pasien rawat jalan. Namun, seluruhnya tidak bisa disamaratakan penderita demam. Mereka berasal dari pasien berbagai macam penyakit. "Ada juga ISPA, tapi tidak teridentifikasi berapa jumlahnya," tandasnya.
Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Bekasi ada 11.247 kasus penyakit demam yang tidak diketahui penyebabnya.
"Demam itu biasanya disebabkan karena kondisi daya tahan tubuh yang lemah," ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati di Bekasi, Selasa (24/7/2018).
Sejauh ini, kata dia, tingkat penyebaran penyakit teridentifikasi untuk seluruh usia. Dan wilayah penyebarannya sendiri hampir terjadi di tiap-tiap kecamatan dengan kasus yang sama. Apalagi, Dezi memprediksi penyakit demam akan terjadi di sepanjang tahun karena, musim panas kali ini cukup panjang.
Sehingga, kata dia, kasus penderitanya akan terus meningkat saat musim pancaroba tiba, yakni pergantian musim dari hujan ke panas. Dengan begitu, pihaknya tetap melakukan pelayanan medis bagi seluruh warga yang berkeinginan mendapat perawatan medis untuk kesetahatan.
Hanya saja, bila penyakit tersebut dianggap memerlukan tambahan alat, maka pihak puskesmas akan merujuk ke RSUD Kota Bekasi. Kondisi saat ini, cukup mengkhawatirkan. Sebab, suhu cuaca sudah memasuki kemarau, yang berakibat tebaran debu menjadi sangat aktif menyerang warga.
Dezi mengimbau, bila seluruh warga yang hendak keluar rumah untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem. Misalkan, dengan memakai masker bila melakukan perjalanan jauh. Hal itu untuk mengantisipasi serangan debu di jalan-jalan.
"Jika keluar rumah menggunakan masker. Yang penting, sekitar tempat tinggalnya harus bersih," katanya.
Saat ini, lanjut dia, jumlah 11.247 penderita demam itu berdasarkan laporan dari Januari sampai Juni 2018. Seluruh laporan itu berasal dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di 12 kecamatan. Penyakit demam itu tidak mematikan, melainkan hanya bisa melemahkan tubuh.
Untuk itu, kata dia, untuk bisa menghindari penyakit demam, maka kondisi lingkungan harus bersih. Sebab gejala yang menyertai demam diantaranya Sakit kepala, berkeringat dingin, menggigil, dehidrasi, batuk-batuk, sakit tenggorokan, sakit pada telinga, diare dan muntah-muntah.
Direktur RSDU Kota Bekasi, Kusnanto Saidi menambahkan, di musim panas ini mensasar ke sejumlah anak-anak termasuk golongan orang dewasa. Pencegahannya adalah dengan memakai masker bila cuaca sedang ekstrem. "Karena kalau sudah panas, debunya sangat bahaya," imbuhnya.
Kusnanto mengakui, sampai sekarang jumlah pengunjung yang datang ke poli klinik mencapai 1,500 pasien rawat jalan. Namun, seluruhnya tidak bisa disamaratakan penderita demam. Mereka berasal dari pasien berbagai macam penyakit. "Ada juga ISPA, tapi tidak teridentifikasi berapa jumlahnya," tandasnya.
(mhd)