Tembakkan Pistol ke Kepala, Pengamat Duga Emosi Briptu T Tak Labil

Kamis, 19 Juli 2018 - 06:27 WIB
Tembakkan Pistol ke...
Tembakkan Pistol ke Kepala, Pengamat Duga Emosi Briptu T Tak Labil
A A A
DEPOK - Kematian anggota Brimob Briptu T yang diduga bunuh diri dengan menembakan pistol miliknya ke kepala merupakan perbuatan yang nekat. T menghabisi nyawanya sendiri diduga lantaran memiliki tekanan yang besar.

Hal itu disampaikan Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Ferdinand Andi Lolo. Kata dia, tekanan tersebut bisa datang berbentuk tekanan psikis atau emosi yang tidak tersalurkan.

"Bisa jadi tekanan tersebut datang dari lingkungan, pribadi atau eksternal baik keluarga atau karena nature dia yang merupakan seorang polisi. Mungkin tekanan pekerjaannya besar," katanya di Depok, Rabu 18 Juli 2018.

Jika tekanan yang datang terlalu besar dan orang tersebut tidak memiliki kecakapan mengendalikan, maka bunuh diri akan menjadi jalan terakhirnya. Kecakapan emosi seharusnya dimiliki tiap individu baik dari kalangan manapun, terlebih jika orang tersebut memegang senjata.

"Dia memang sudah pernah ikut psikotes sebelumnya. Tapi perlu diingat bahwa sifat dari tes tersebut tidaklah permanen. Bisa jadi saat itu hasilnya bagus tapi di tengah perjalanan ada perubahan karena faktor yang kompleks. Ini juga mempengaruhi psikologisnya," pungkasnya.

Sebagai individu ada baiknya hidup bersosial. Karena ini mutlak diperlukan dan bisa menjadi penyaring jika orang tersebut sedang dalam kondisi labil. Artinya, ketika orang tersebut sedang dalam tekanan namun dia bisa menceritakan apa yang dirasakannya dengan tujuan membuat pemikirannya menjadi lebih terarah maka ini sangat membantu orang yang sedang dalam kondisi tertekan.

"Yang diperlukan adalah pengecekan penilaian psikotes secara berkala untuk mencegah agar hal ini tidak terjadi di kemudian hari," paparnya. (Baca juga: Anggota Brimob Bunuh Diri dengan Tembakkan Pistol ke Kepala )

Walaupun berada di lingkungan yang hirarki, ada baiknya sebagai individu saling memperhatikan kondisi sesame. Sehingga jika ada perubahan pada lingkungan sekitar atau orang sejawat bisa terdeteksi. Jika fungsi ini berjalan dengan baik maka kejadian seperti ini bisa dicegah.

"Mungkin dari rekan sekerja saling memperhatikan. Jika terlihat ada perubahan psikologis bisa terlihat. Dan juga ada pemeriksaan berkala dari Polri, karena lingkungan kerja yang keras memerlukan adanya perhatian dari atasan. Dan perlu diingat bahwa dia memegang senjata jadi perlu ada evaluasi kepemilikan," pungkasnya.
(mhd)
Berita Terkait
Bom Bunuh Diri di Somalia...
Bom Bunuh Diri di Somalia Tewaskan 32 Orang
Rumah Lokasi Brigadir...
Rumah Lokasi Brigadir RAT Tewas Dihuni Pengusaha Tambang
Mengenal Kapsul Bunuh...
Mengenal Kapsul Bunuh Diri Sarco: Teknologi Kontroversial yang Menggemparkan Dunia
Ciri Orang Hampir Bunuh...
Ciri Orang Hampir Bunuh Diri, Begini Cara Mencegahnya
Minta Polisi Usut Tuntas...
Minta Polisi Usut Tuntas Kematian Brigadir RAT, Kompolnas: Pastikan Bunuh Diri atau Tidak
Refleksi dari Kasus...
Refleksi dari Kasus Meninggalnya Siswa SD di NTT, Anak Tak Selalu Mampu Ungkap Perasaannya
Berita Terkini
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan...
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan Sangihe, Simak Hasil Analisis BMKG
11 menit yang lalu
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
3 jam yang lalu
Perindo Apresiasi Inisiatif...
Perindo Apresiasi Inisiatif Danantara Bangun Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Denpasar Raya
3 jam yang lalu
Peningkatan Kualitas...
Peningkatan Kualitas SDM Jadi Syarat Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global
6 jam yang lalu
Terowongan Arah Utara...
Terowongan Arah Utara MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Rampung Digali, Tembus hingga Kedalaman 28 Meter
6 jam yang lalu
Jampidsus Febrie Adriansyah...
Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur, Rumahnya di Jaksel Tak Lagi Dijaga Khusus TNI
7 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved