Mogok Massal Tak Terbukti, Angkot di Kota Bandung Tetap Beroperasi
Selasa, 08 Mei 2018 - 11:22 WIB
Mogok Massal Tak Terbukti, Angkot di Kota Bandung Tetap Beroperasi
A
A
A
BANDUNG - Ancaman aksi mogok massal angkutan kota (angkot) yang dinisiasi oleh Wadah Aliansi Aspirasi Transportasi (WAAT) Jabar tak terbukti. Angkot semua jurusan di Kota Bandung tetap beroperasi seperti biasa.
Aksi tersebut hanya diikuti oleh angkot yang beroperasi di Soreang, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Pantauan di lapangan, Selasa (8/5/2018), angkot jurusan Soreang, Leuwipanjang mogok mengangkut penumpang. Sebagian penumpang yang telantar, akhirnya diangkut oleh mobil patroli polisi.
Begitu juga angkot di Kota Cimahi tak ada satu pun yang beroperasi. Sebagian angkot tampak berkumpul di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, yang merupakan lokasi unjuk rasa sopir angkot memprotes Permenhub Nomor 108/2017 tentang Angkutan Khusus Berbasis Online.
Sementara di Kota Bandung, seluruh angkot berbagai jurusan tetap beroprasi. Angkot jurusan Cibaduyut-Kalapa-Karangsetra beroperasi seperti biasa. Begitu juga jurusan Leuwipanjang-Cicaheum tetap mengangkut penumpang. Sedangkan kendaraan dinas camat yang difungsikan sebagai angkutan bantuan terlihat kosong.
Sebelumnya, WAAT mengklaim aksi mogok massal itu akan diikuti oleh sekitar 8.000 sopir angkot. Namun ternyata, sebagian besar sopir angkot di Kota Bandung justru tak bersedia ikut. Anggota organisasi angkutan, seperti Organda dan Kobanter justru menyatakan tak ikut aksi. Pernyataan yang dibuat pada Senin (7/5/2018) itu ditulis dan dibubuhi tanda tangan di atas materai.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo turun langsung memimpin pengamanan aksi unjuk rasa sopir angkot di depan Gedung Sate. Untuk mengantisipasi kerawanan selama aks berlangsung, Polrestabes Bandung menerjunkan 2.500 personel. Pengamanan dibantu oleh TNI dan petugas Dishub Kota Bandung.
"Saya berharap sopir angkutan umum menjaga ketertiban dan kondusivitas Kota Bandung selama mengikuti aksi. Jangan melakukan sweeping, melarang angkutan lain membawa penumpang. Apalagi melakukan aksi anarkistis," katanya.
Selain mencegah sweeping dengan mengerahkan polisi bermotor, Polresrabes Bandung juga akan menempatkan dua anggota polisi di dalam bus. "Kami siapkan pengawalan bagi angkutan umum yang masih beroperasi. Kami juga menyampaikan kepada korlap (koordinator lapangan) aksi agar tidak melakukan razia atau sweeping. Apalagi sampai melakukan kekerasan. Jika itu terjadi, akan kami tindak tegas."
Sementara, Ketua WAAT Jabar Herman mengatakan, maksud dan tujuan dari aksi tersebut adalah untuk menyikapi Permenhub Nomor 108/2017 tentang Angkutan Sewa Khusus Berbasis Online. Sebab, sampai saat ini belum ada realisasi nyata di lapangan, khususnya dalam penegakan hukumnya. "Hal-hal yang diatur dalam Permenhub itu belum dilaksanakan. Misalnya, kewajiban angkutan online beroperasi atas nama badan hukum, mempunyai ciri stiker khusus, dan melakukan uji kelayakan atau kir," kata Herman.
Aksi tersebut hanya diikuti oleh angkot yang beroperasi di Soreang, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Pantauan di lapangan, Selasa (8/5/2018), angkot jurusan Soreang, Leuwipanjang mogok mengangkut penumpang. Sebagian penumpang yang telantar, akhirnya diangkut oleh mobil patroli polisi.
Begitu juga angkot di Kota Cimahi tak ada satu pun yang beroperasi. Sebagian angkot tampak berkumpul di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, yang merupakan lokasi unjuk rasa sopir angkot memprotes Permenhub Nomor 108/2017 tentang Angkutan Khusus Berbasis Online.
Sementara di Kota Bandung, seluruh angkot berbagai jurusan tetap beroprasi. Angkot jurusan Cibaduyut-Kalapa-Karangsetra beroperasi seperti biasa. Begitu juga jurusan Leuwipanjang-Cicaheum tetap mengangkut penumpang. Sedangkan kendaraan dinas camat yang difungsikan sebagai angkutan bantuan terlihat kosong.
Sebelumnya, WAAT mengklaim aksi mogok massal itu akan diikuti oleh sekitar 8.000 sopir angkot. Namun ternyata, sebagian besar sopir angkot di Kota Bandung justru tak bersedia ikut. Anggota organisasi angkutan, seperti Organda dan Kobanter justru menyatakan tak ikut aksi. Pernyataan yang dibuat pada Senin (7/5/2018) itu ditulis dan dibubuhi tanda tangan di atas materai.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo turun langsung memimpin pengamanan aksi unjuk rasa sopir angkot di depan Gedung Sate. Untuk mengantisipasi kerawanan selama aks berlangsung, Polrestabes Bandung menerjunkan 2.500 personel. Pengamanan dibantu oleh TNI dan petugas Dishub Kota Bandung.
"Saya berharap sopir angkutan umum menjaga ketertiban dan kondusivitas Kota Bandung selama mengikuti aksi. Jangan melakukan sweeping, melarang angkutan lain membawa penumpang. Apalagi melakukan aksi anarkistis," katanya.
Selain mencegah sweeping dengan mengerahkan polisi bermotor, Polresrabes Bandung juga akan menempatkan dua anggota polisi di dalam bus. "Kami siapkan pengawalan bagi angkutan umum yang masih beroperasi. Kami juga menyampaikan kepada korlap (koordinator lapangan) aksi agar tidak melakukan razia atau sweeping. Apalagi sampai melakukan kekerasan. Jika itu terjadi, akan kami tindak tegas."
Sementara, Ketua WAAT Jabar Herman mengatakan, maksud dan tujuan dari aksi tersebut adalah untuk menyikapi Permenhub Nomor 108/2017 tentang Angkutan Sewa Khusus Berbasis Online. Sebab, sampai saat ini belum ada realisasi nyata di lapangan, khususnya dalam penegakan hukumnya. "Hal-hal yang diatur dalam Permenhub itu belum dilaksanakan. Misalnya, kewajiban angkutan online beroperasi atas nama badan hukum, mempunyai ciri stiker khusus, dan melakukan uji kelayakan atau kir," kata Herman.
(zik)