Rencana Penerapan ERP di Margonda, DPRD Minta Dikaji Matang

Kamis, 12 April 2018 - 22:05 WIB
Rencana Penerapan ERP...
Rencana Penerapan ERP di Margonda, DPRD Minta Dikaji Matang
A A A
DEPOK - Ketua DPRD Kota Depok, Hendrik Tangke Allo mengatakan sampai saat‎ ini belum mendapat informasi resmi soal wacana penerapan Electronic Road Pricing (ERP) atau jalan berbayar di Jalan Margonda yang dilontarkan Pemprov Jabar.

Menurut Hendrik, program yang diwacanakan oleh Pemprov Jabar itu bukan ide yang ngawur. "Hanya saja harus diperhatikan dulu kesiapannya. Itu boleh saja dan rencana bagus tapi harus dipikirkan solusi lainnya bagaimana," katanya, Kamis (12/4/2018).

Hendrik mengatakan, yang harus disiapkan adalah soal alternatif jalan lain untuk pengguna non berbayar. Dan jika jalur Margonda dibuat pemisahan antara berbayar dan non bayar maka akan sangat mustahil. "Sudah ada jalur alternatifnya belum? Lalu bagaimana soal kajiannya?" tanyanya.

Dia menuturkan, ERP di Margonda hanya akan membuat kemacetan baru di titik lain. Karena pengendara lain akan mencari alternatif jalan yang tidak berbayar.

"Sama saja hanya memindahkan kemacetan saja. Margonda bisa jadi tidak macet, tapi kemacetan bisa jadi ada di titik lain," ungkapnya. (Baca: Wacana Jalan Berbayar di Depok, Dishub: Sangat Sulit Diterapkan )

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Depok, Sri Utami menutukan, kajian terhadap Jalan Margonda mutlak dilakukan sebelum penerapan ERP. Saat ini kata dia, ‎secara umum kondisi Margonda saat ini memang sering mengalami kemacetan panjang terutama di jam-jam sibuk.

"Keterlambatan pembngunan infrastruktur transport publik yang nyaman, aman, terintegrasi dan terjangkau kita saksikan dampaknya saat ini," katanya.

Hal ini diiringi kemudahan kepemilikam kendaraan pribadi serta maraknya transportasi online. Jadi, katanya, pendekatan penyelesaiannya harus terintegrasi‎.

"Pelebaran jalan bisa jadi opsi tapi tidah boleh mengorbankan jalur hijau di tengah. Karena itu jalur supply oksigen dan penyerapan polusi yang intensitasnya cukup pekat pada jam- jam padat," ungkapnya.

Solusi sementara lain adalah dengan membongkar separator jalur lambat dan cepat. Tujuannya kata dia agar kapasitas jalan bisa sedikit lebih lebar.

"Jika feasibitasnya baik ERP bisa saja diterapkan tapi tujuannya bukan untuk peningkatan PAD tetapi untuk mengalihkan preferensi masyarakat pada jam sibuk dan agar lebih merata penyebarannya di jam-jam lain," pungkasnya.
(ysw)
Berita Terkait
INTA Kick Off ERP Program...
INTA Kick Off ERP Program Terbaru untuk Tingkatkan Produktivitas Bisnis
Mengintip Penerapan...
Mengintip Penerapan Sistem Electronic Road Pricing (ERP) di Singapura
Dishub Tegaskan ERP...
Dishub Tegaskan ERP di 25 Ruas Jalan di Jakarta Belum Diberlakukan
7 Bidang Industri yang...
7 Bidang Industri yang Sudah saatnya Menggunakan Sistem ERP
Politikus Partai Perindo...
Politikus Partai Perindo Nilai Kebijakan ERP Perlu Didalami
System Ever ERP Solusi...
System Ever ERP Solusi Pelaku Industri Tetap Eksis
Berita Terkini
Teknologi Pupuk Hayati...
Teknologi Pupuk Hayati Dongkrak Produktivitas Sawah di Subang, Hasil Panen Tembus 4,76 Ton per Hektare
7 jam yang lalu
Setkab Dokumentasikan...
Setkab Dokumentasikan Pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih di Sinjai
7 jam yang lalu
Perkuat Sinergi Polri...
Perkuat Sinergi Polri dan Media lewat Padel Bhayangkara Cup 2026
8 jam yang lalu
Jawab Kebutuhan Industri,...
Jawab Kebutuhan Industri, UMB Kenalkan Profesi Insinyur pada Siswa SMK
9 jam yang lalu
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan...
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan Sangihe, Simak Hasil Analisis BMKG
9 jam yang lalu
Puluhan Profesor dan...
Puluhan Profesor dan Dosen UNJ bersama Billy Mambrasar, Latih Seribu Guru di Daerah Terpencil
12 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved