Ini Analisa Pakar Hidrologi Terkait Bencana Banjir Bandang Bandung

Rabu, 21 Maret 2018 - 17:07 WIB
Ini Analisa Pakar Hidrologi...
Ini Analisa Pakar Hidrologi Terkait Bencana Banjir Bandang Bandung
A A A
BANDUNG - Bencana banjir bandang yang terjadi di kawasan Cicaheum, Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, pada Selasa 20 Maret 2018 sudah mendapatkan peringatan dari sejumlah ahli lingkungan. Bencana alam ini bukan hanya faktor cuaca akibat hujan deras yang terjadi, tetapi adanya fenomena perubahan landscape yang terjadi di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Pakar Hidrologi dan Lingkungan Universitas Padjadjaran, Chay Asdak mengatakan, kekhawatiran bencana alam seperti ini sudah pernah disampaikan kepada pemerintah kabupaten/kota dan provinsi pada 10-15 tahun lalu. Para ahli telah memberikan masukan kepada pemerintah agar kawasan KBU dilakukan moratorium.

Bencana banjir bandang yang terjadi di kawasan Cicaheum itu diakibatkan adanya fenomena perubahan landscape di daerah KBU. "Saya kira apa yang kita kemukakan 10-15 tahun lalu jadi kenyataan, karena dulu kita all out mencegah KBU 750 meter dpl itu untuk dibuat moratorium tapi ternyata jalan terus. Lihat di Dago atas," kata Chay Asdak saat dihubungi Rabu (21/3/2018).

Dia menyebutkan, bencana alam yang terjadi bukan fenomena alam biasa. Tetapi, bencana alam ini dampak dari kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara. Pembangunan perumahan dari kawasan Dago hingga Pasir Impun terus bermunculan.

"Itu yang menjadikan kejadian kemarin tak hanya persoalan air besar tetapi ada campuran lumpur. Artinya ada longsoran kecil terjadi di atas dan longsoran itu karena penutupan lahan yang minimal. Akumulasi longsoran kecil yang tersapu saat debit air besar," jelasnya.

Dia mengungkapkan, persoalan banjir Cicaheum bukan masalah drinase yang buruk. Tetapi memang akibat adanya kiriman air dari atas dan ditambah rontokan yang terdesposisi longsoran kecil di atas. "Sebenarnya hujan kemarin tidak terlalu besar di kawasan Cicaheum. Hujan deras terjadi di wilayah utara," ujarnya.

Dia berharap, pemerintah harus segera melakukan langkah antisipasi terkait kerusakan lahan di KBU. Jika persoalan ini dibiarkan tidak menutup kemungkinan bencana kebih besar terjadi.
(wib)
Berita Terkait
Hal yang Dilakukan Ketika...
Hal yang Dilakukan Ketika Terjadi Bencana Banjir Bandang
Tiga Orang Dikabarkan...
Tiga Orang Dikabarkan Hilang Terseret Banjir Bandang Sukabumi
Bencana Banjir Bandang...
Bencana Banjir Bandang di Spanyol Menewaskan 95 Orang
Diterjang Banjir Bandang,...
Diterjang Banjir Bandang, 12 Rumah dan 1 Pesantren di Padang Lawas Hanyut
Banjir Bandang Rendam...
Banjir Bandang Rendam Ratusan Rumah pada Empat Kecamatan di Luwu
Sejumlah Rumah Warga...
Sejumlah Rumah Warga di Tapian Dolok Terendam Banjir
Berita Terkini
BRI Kokohkan Dominasi,...
BRI Kokohkan Dominasi, Raih Penghargaan Best Private Bank Skala Internasional
10 menit yang lalu
Peneliti MPSI: PSN Wanam...
Peneliti MPSI: PSN Wanam Jadi Penggerak Kemajuan Papua Selatan dan Ketahanan Pangan
27 menit yang lalu
Grand Opening Mitra10...
Grand Opening Mitra10 Pengayoman, Hadirkan One Stop Shopping #SelengkapItu dan Promo Menarik
34 menit yang lalu
Roy Suryo Laporkan Lechumanan...
Roy Suryo Laporkan Lechumanan dan Rismon Sianipar ke Polda Metro Jaya
58 menit yang lalu
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
1 jam yang lalu
Maksimalkan Potensi...
Maksimalkan Potensi Sumber Daya Mineral, Pemerintah Didorong Segera Buka Lelang WIUP Muratara
1 jam yang lalu
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved