Main Handphone, Polisi Disarankan Cabut SIM Pengemudi Nakal
Selasa, 13 Maret 2018 - 07:25 WIB
Main Handphone, Polisi Disarankan Cabut SIM Pengemudi Nakal
A
A
A
JAKARTA - Polisi disarankan untuk mencabut Surat Izin Mengemudi (SIM) pengemudi "nakal". Sebelumnya, sopir bus Mayasari Bakti jurusan Tanah Abang-Bekasi yang terlibat kecelakaan beruntun karena diduga memainkan handphone saat mengendarai bus.
Pengamat Transportasi, Djoko Setiowarno mengatakan, sebaiknya polisi mencabut SIM pengemudi nakal. Hal itu, kata dia, agar perbuatan itu tidak ditiru oleh pengemudi yang lainnya.
"Tindak tegas, harus dicabut SIM-nya. Polisi punya hak," kata Pengamat Transportasi, Djoko Setiowarno dihubungi, Senin 12 Maret 2018.
Bahkan, kata dia, tidak hanya kepada sopir bus Mayasari itu. Tetapi, kata dia, terhadap semua pengendara yang terbukti lalai dalam mengendarai kendaraannya, apalagi sampai menimbulkan kecelakaan.
Pencabutan SIM, lanjut Djoko adalah pemberian efek jera agar penggunaan handphone bagi pengemudi tidak dilakukan. Terlebih selama ini pemberian sanksi tilang kurang berefek.
Meski demikian, terhadap kejadian yang ada. Djoko melihat sosialisasi pelarangan handphone dilakukan, ancaman pelanggaran hingga penanyangan video kerap dilakukan. Namun rupanya hal itu tak membuat pelanggar berkurang.
"Jadi harus ada sanksi, biar ada efek jeranya," tutupnya. (Baca: Diduga Sopir Main Handphone, Bus Mayasari Seruduk 4 Mobil )
Pengamat Transportasi, Djoko Setiowarno mengatakan, sebaiknya polisi mencabut SIM pengemudi nakal. Hal itu, kata dia, agar perbuatan itu tidak ditiru oleh pengemudi yang lainnya.
"Tindak tegas, harus dicabut SIM-nya. Polisi punya hak," kata Pengamat Transportasi, Djoko Setiowarno dihubungi, Senin 12 Maret 2018.
Bahkan, kata dia, tidak hanya kepada sopir bus Mayasari itu. Tetapi, kata dia, terhadap semua pengendara yang terbukti lalai dalam mengendarai kendaraannya, apalagi sampai menimbulkan kecelakaan.
Pencabutan SIM, lanjut Djoko adalah pemberian efek jera agar penggunaan handphone bagi pengemudi tidak dilakukan. Terlebih selama ini pemberian sanksi tilang kurang berefek.
Meski demikian, terhadap kejadian yang ada. Djoko melihat sosialisasi pelarangan handphone dilakukan, ancaman pelanggaran hingga penanyangan video kerap dilakukan. Namun rupanya hal itu tak membuat pelanggar berkurang.
"Jadi harus ada sanksi, biar ada efek jeranya," tutupnya. (Baca: Diduga Sopir Main Handphone, Bus Mayasari Seruduk 4 Mobil )
(mhd)