Taman Pewarta: Media Perjuangan Milik Haji Samanhudi yang Terlupakan

Minggu, 11 Februari 2018 - 05:00 WIB
Taman Pewarta: Media...
Taman Pewarta: Media Perjuangan Milik Haji Samanhudi yang Terlupakan
A A A
Haji Samanhudi lebih dikenal sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 dan menjadi pemimpin organisasi tersebut yang namanya menjadi Sarekat Islam (SI) sampai 1912. Namun, jarang sekali yang mengetahui bila Haji Samanhudi memiliki media bernama Taman Pewarta.

Dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara pada halaman 350 dituliskan, “Haji Samanhudi (1868-1956) membangun organisasi Sarekat Dagang Islam, 16 Sya’ban 1323, Senin Legi, 16 Oktober 1905, di Surakarta. Guna memperluas informasi dalam upaya pembentukan organisasi tersebut, diterbitkanlah dahulu buletin, Taman Pewarta.”

Dituliskan juga bahwa Taman Pewarta bertahan selama 13 tahun sejak 1902-1915. Berarti Taman Pewarta sudah ada lebih dahulu dibandingkan Sarekat Dagang Islam yang baru dibentuk 16 Oktober 1905 dan berubah nama menjadi Sarekat Islam pada 1906. Sebuah media bisa bertahan selama 13 tahun pada masa kolonial Belanda, tentu prestasi yang layak diberikan apresiasi.

“Perlu diperhatikan, bahwa buletin Taman pewarta ini bisa bertahan selama 13 tahun, karena isinya yang Islami dan merakyat. Adapun buletin lawannya berumur pendek karena dikonsumsi oleh kalangan terbatas, yakni kaum priyayi.” (Ahmad Mansur Suryanegara 2009: 314).

Namun, tidak banyak informasi tentang Taman Pewarta sehingga kiprahnya selama 13 tahun bagi kebangkitan perjuangan bangsa Indonesia kurang terekam baik. Dalam buku The Vernacular Press and The Emergence of Modern Indonesian Consciousness (1855-1913) karya Ahmad B Adam, menyebutkan Taman Pewarta sebagai koran (Newspaper).

Pada halaman 123 disebutkan bahwa Taman Pewarta merupakan koran berbahasa Jawa-Melayu dan dicetak oleh perusahaan percetakan Sie Dhian Ho. Sejak Sarekat Dagang Islam didirikan pada 1905, keberadaan Taman Pewarta semakin kokoh. Pada catatan kaki No.72 ditambahkan keterangan, Taman Pewarta diterbitkan pertama kali pada 1902. Koran Taman Pewarta terbit seminggu sekali dan memiliki enam halaman. Sebanyak dua halaman berbahasa Jawa dan sebanyak dua setengah halaman iklan.

Taman Pewarta menjadi media komunikasi yang efektif bagi perkembangan Sarekat Dagang Islam sehingga organisasi ini semakin dikenal masyarakat. Sarekat Dagang Islam yang awalnya dikenal sebagai organisasi niaga, menjadi organisasi yang memelopori kebangkitan nasional.

Akibatnya, perkembangan Sarekat Dagang Islam yang pesat membuat penjajah kolonial Belanda khawatir. Untuk itu, dibuatlah organisasi tandingan dengan nama yang hampir mirip, yaitu Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor pada 1909. Meskipun sama-sama memiliki media kuat yang mendapat bantuan modal dan dukungan pemerintah kolonial Belanda, Sarekat Dagang Islamiyah akhir bubar pada 1911.

Sebaliknya, Sarekat Islam semakin berkibar sejak dipimpin seorang pemuda, Oemar Said Cokroaminoto. Gelar Haji di depan namanya seolah dirinya sangat matang. Padahal, saat beliau memimpin Sarekat Islam, baru berusia 38 tahun.

Donald Eugene Smith menyatakan, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto sebagai ketua Sarekat Islam telah berhasil memproklamirkan Islam sebagai lambang nasional. Sarekat Islam sebagai organisasi modern, telah mempelopori dan memasyarakatkan penggunaan istilah “Nasional” melalui kongres Sarekat Islam pada 17-24 Juni 1916 di Bandung serta menuntut pemerintahan sendiri (Zelf Beestuur).

Kelak, salah satu murid Haji Oemar Said Cokroaminoto, yaitu Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 (9 Ramadhan 1364 H). Soekarno pun menjadi simbol nasional, dikenal sebagai Proklamator, Presiden Pertama Republik Indonesia, sekaligus pahlawan nasional.


Diolah dari berbagai sumber.
(mhd)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Ini Titik Demo Mahasiswa,...
Ini Titik Demo Mahasiswa, 5.955 Personel Kepolisian Dikerahkan Jaga Aksi Unjuk Rasa
14 menit yang lalu
Demo Mahasiswa Berlanjut!...
Demo Mahasiswa Berlanjut! BEM Universitas Bung Karno Bawa 6 Tuntutan
59 menit yang lalu
Polda Metro: 2 Kasino...
Polda Metro: 2 Kasino Berkedok Timezone Omzetnya Capai Rp2,1 Miliar
1 jam yang lalu
10 Ruas Jalan di Jakarta...
10 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup saat Presiden Jerman Melintas Besok Pagi
11 jam yang lalu
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
12 jam yang lalu
Jakarta Fair 2026, Dishub...
Jakarta Fair 2026, Dishub DKI Jakarta Siapkan 6 Kantong Parkir
13 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved