NasDem: PDIP Tak Punya Hak Istimewa Jika Usung Ridwan Kamil
Jum'at, 05 Januari 2018 - 22:30 WIB
NasDem: PDIP Tak Punya Hak Istimewa Jika Usung Ridwan Kamil
A
A
A
BANDUNG - Partai NasDem menyoroti langkah PDIP yang melakukan komunikasi politik dengan Ridwan Kamil. Sebagai partai yang paling awal mengusung Ridwan Kamil, NasDem menegaskan, PDIP tak akan memiliki hak istimewa jika akhirnya mengusung Ridwan Kamil di Pilgub Jawa Barat 2018.
Ketua DPW Partai NasDem Jabar Saan Mustopa menyatakan, koalisi parpol yang telah dibangun NasDem, PKB, PPP, dan Hanura sudah lebih dari cukup untuk mengusung Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2018. Meski PDIP pemilik kursi terbesar, NasDem tidak menghendaki adanya hak istimewa bagi PDIP jika jadi mengusung Ridwan Kamil.
"Ketika PDIP masuk koalisi, maka tidak ada istilahnya hak istimewa, semua punya hak yang sama," tegas Saan di sela-sela Gala Dinner Pemenangan Pilkada 2018 Partai NasDem Jabar di Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jumat (5/1/2018) malam.
Saan berharap, dengan bergabungnya PDIP ke dalam barisan parpol pengusung Ridwan Kamil, peluang meraih kemenangan di Pilgub Jabar 2018 semakin besar, bukan malah sebaliknya.
"Barisan koalisi menjadi semakin kuat (jika PDIP bergabung). Mudah-mudahan koalisi yang besar ini punya dampak elektoral besar pada saat pemilihan. Jangan sampai koalisi besar, tapi dampak elektoralnya kecil," ungkapnya.
Dengan hak sejajar yang dimiliki seluruh parpol pengusung Ridwan Kamil, pihaknya berharap, komunikasi di antara parpol pengusung pun lebih diintensifkan, terutama dalam penentuan cawagub Jabar pendamping Ridwan Kamil.
Saan menegaskan, partainya memberikan kesempatan kepada Ridwan Kamil untuk mencari sosok yang tepat sebagai pendampingnya.
"Apakah itu bagi calon dari partai pengusung maupun dari luar partai pengusung, termasuk dari PDIP sekalipun," katanya.
Meski begitu, Saan meminta Ridwan Kamil untuk berkomunikasi dengan seluruh parpol pengusung sebelum menentukan pasangannya tersebut. Menurut dia, komunikasi penting dilakukan agar tidak menimbulkan persoalan baru. Apalagi, sisa waktu menjelang pendaftaran pasangan cagub/cawagub Jabar sudah sangat mepet.
"Termasuk kalau ada keinginan dengan (kandidat cawagub) PDIP dan PDIP masuk dalam barisan koalisi yang selama ini sudah terbentuk. Akan jauh lebih baik Kang Emil komunikasikan ke PPP, PKB, termasuk Hanura karena sudah masuk dalam barisan koalisi," paparnya.
Disinggung ancaman yang dilayangkan PPP jika kadernya batal menjadi pendamping Ridwan Kamil, Saan yakin persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan komunikasi. Bahkan, Saan menegaskan, komunikasi merupakan kunci untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
"Kuncinya Kang Emil berkomunikasi dulu dengan teman teman koalisi. Jangan sampai nanti dua hari, bahkan satu hari jelang pendaftaran ada masalah baru lagi, akhirnya repot," tandasnya.
Ketua DPW Partai NasDem Jabar Saan Mustopa menyatakan, koalisi parpol yang telah dibangun NasDem, PKB, PPP, dan Hanura sudah lebih dari cukup untuk mengusung Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2018. Meski PDIP pemilik kursi terbesar, NasDem tidak menghendaki adanya hak istimewa bagi PDIP jika jadi mengusung Ridwan Kamil.
"Ketika PDIP masuk koalisi, maka tidak ada istilahnya hak istimewa, semua punya hak yang sama," tegas Saan di sela-sela Gala Dinner Pemenangan Pilkada 2018 Partai NasDem Jabar di Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jumat (5/1/2018) malam.
Saan berharap, dengan bergabungnya PDIP ke dalam barisan parpol pengusung Ridwan Kamil, peluang meraih kemenangan di Pilgub Jabar 2018 semakin besar, bukan malah sebaliknya.
"Barisan koalisi menjadi semakin kuat (jika PDIP bergabung). Mudah-mudahan koalisi yang besar ini punya dampak elektoral besar pada saat pemilihan. Jangan sampai koalisi besar, tapi dampak elektoralnya kecil," ungkapnya.
Dengan hak sejajar yang dimiliki seluruh parpol pengusung Ridwan Kamil, pihaknya berharap, komunikasi di antara parpol pengusung pun lebih diintensifkan, terutama dalam penentuan cawagub Jabar pendamping Ridwan Kamil.
Saan menegaskan, partainya memberikan kesempatan kepada Ridwan Kamil untuk mencari sosok yang tepat sebagai pendampingnya.
"Apakah itu bagi calon dari partai pengusung maupun dari luar partai pengusung, termasuk dari PDIP sekalipun," katanya.
Meski begitu, Saan meminta Ridwan Kamil untuk berkomunikasi dengan seluruh parpol pengusung sebelum menentukan pasangannya tersebut. Menurut dia, komunikasi penting dilakukan agar tidak menimbulkan persoalan baru. Apalagi, sisa waktu menjelang pendaftaran pasangan cagub/cawagub Jabar sudah sangat mepet.
"Termasuk kalau ada keinginan dengan (kandidat cawagub) PDIP dan PDIP masuk dalam barisan koalisi yang selama ini sudah terbentuk. Akan jauh lebih baik Kang Emil komunikasikan ke PPP, PKB, termasuk Hanura karena sudah masuk dalam barisan koalisi," paparnya.
Disinggung ancaman yang dilayangkan PPP jika kadernya batal menjadi pendamping Ridwan Kamil, Saan yakin persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan komunikasi. Bahkan, Saan menegaskan, komunikasi merupakan kunci untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
"Kuncinya Kang Emil berkomunikasi dulu dengan teman teman koalisi. Jangan sampai nanti dua hari, bahkan satu hari jelang pendaftaran ada masalah baru lagi, akhirnya repot," tandasnya.
(sms)