Hebat! Dosen ITB Ciptakan Konstruksi Jalan dan Paving Blok Penyerap Air

Senin, 25 September 2017 - 17:20 WIB
Hebat! Dosen ITB Ciptakan...
Hebat! Dosen ITB Ciptakan Konstruksi Jalan dan Paving Blok Penyerap Air
A A A
BANDUNG - Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Dr Ir Bambang Sunendar Purwasasmita menciptakan inovasi sebagai solusi mengatasi banjir. Kreasinya adalah teknologi yang disebut geopolimer atau geopori.

Teknologi tersebut bisa diterapkan untuk pengganti jalan aspal atau beton. Teknologi itu juga bisa dipakai untuk membuat bahu jalan dan trotoar berupa paving blok. Dengan menggunakan teknologi itu, jalanan nantinya akan mampu menyerap air saat hujan atau banjir.

Ide untuk menciptakan teknologi itu sudah ada sejak 2003. Tapi, tahap menuju pengerjaan konstruksi baru bisa mulai direalisasikan sejak 2009. Pada 2014, business plan sudah dihitung. Kemudian pada 2015, secara teknologi geopori itu sudah bisa dipraktekkan dengan pembuatan konstruksi.

"Akhirnya 2015 itu kita sudah menghasilkan produk apakah itu berupa jalan atau untuk paving blok," kata Bambang.

Saat ini, konstruksi jala, bahu jalan, trotoar, termasuk saluran untuk pembuangan air, daya serap airnya rendah. Hal itu berdampak pada seringnya konstruksi tergenang oleh air saat terjadi hujan atau banjir.

Akibatnya, banjir seringkali sulit dihindari. Selain karena konstruksi yang daya serap airnya kurang bagus, sampah sering jadi penyumbat saluran air. Sehingga, air yang ada di jalan tidak bisa terbuang dengan cepat.

"Untuk itu, pasti harus ada buangan air yang cepat dibandingkan dengan buangan konvensional yang seperti sekarang. Kalau ada sampah, (saluran air) ketutup, ya sudah beres, tidak ngalir lagi airnya," jelasnya.

Jika konstruksi menggunakan geopori, maka air yang berada di jalanan akan terserap ke dalam tanah dengan cepat. Kalaupun saluran air tertutup, hal itu tidak masalah karena air langsung masuk ke dalam tanah.

Itu dikarenakan teknologi yang dibuatnya memiliki pori-pori yang mampu menyerap air. Itu berbeda dengan aspal atau konstruksi konvensional yang tidak bisa menyerap air. Bahkan, air cenderung mudah merusak konstruksi konvensional.

Bambang mengatakan, untuk membuat konstruksi jalan dan paving blok itu menggunakan bahan yang sama. Yang membedakan, untuk pembuatan jalan materialnya dibuat dengan cara dicor. Sedangkan untuk membuat paving blok dilakukan dengan cara dicetak.

Daya serap air dari konstruksi buatannya pun sangat kuat. Daya serapnya bisa mencapai 2.000 liter per menit per meter2. Bahkan, daya serapnya bisa jauh lebih besar jika diinginkan.

"Itu tergantung dari pesanan, untuk apa keperluannya, disesuaikan sama kita," ucapnya.

Ia pun sempat memperlihatkan salah satu cetakan paving blok geopori ciptaannya. Ia menyemprotkan air melalui sebuah selang di atasnya. Hasilnya, air langsung terserap oleh paving blok dan air terlihat mengalir ke bawah.
Hebat! Dosen ITB Ciptakan Konstruksi Jalan dan Paving Blok Penyerap Air

Air yang disemprotkan di bagian atas pun terlihat tidak melebar ketika di atas paving blok. Artinya, air langsung terserap sebelum melebar ke mana-mana.

Sementara untuk konstruksi jalan menggunakan teknologi geopori itu, pihaknya sempat melakukan uji coba beberapa waktu lalu di area yang dipasang geopori di kawasan ITB. Air yang disemprotkan oleh petugas pemadam kebakaran langsung terserap ke dalam tanah.

Tidak ada genangan air yang terlihat setelah air disemprotkan. Dalam beberapa detik, air di atas konstruksi jalan langsung lenyap. Video uji coba itu pun menyebar di media sosial belakangan ini. Bahkan, banyak yang memuji dan berharap penggunaan konstruksi itu benar-benar dilakukan di jalan umum demi menghindari banjir yang selama ini jadi langganan di berbagai daerah.

Untuk bahan pembuatan geopori itu, ada beberapa material yang digunakan, di antaranya kerikil dan limbah batu bara. Sementara selain untuk konstruksi jalan dan paving blok, material geopori itu bisa digunakan untuk pembuatan biopori hingga lantai kamar mandi.
(rhs)
Berita Terkait
The Menimizer, Inovasi...
The Menimizer, Inovasi Studio Model 3D Karya Anak Bangsa
IBA-MMA: Upaya Anak...
IBA-MMA: Upaya Anak Bangsa Ukir Prestasi Dunia
Inovasi UniPin Menduniakan...
Inovasi UniPin Menduniakan Esports Karya Anak Bangsa
Keunggulan Gamawarni,...
Keunggulan Gamawarni, Mesin Pewarna Kain Alami Karya Anak Bangsa
Inovasi Anak Bangsa,...
Inovasi Anak Bangsa, Solusi Atasi Polemik Royalti Musik
Tinjau Pabrik Drone...
Tinjau Pabrik Drone Penumpang, Bupati Bantul Kagum dan Bangga Inovasi Anak Bangsa
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
7 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
7 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
7 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
7 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
9 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
11 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved