2 Seniman Ini Bawa Nisan dan Mandi di Depan Gedung Sate
Rabu, 30 Agustus 2017 - 11:58 WIB
2 Seniman Ini Bawa Nisan dan Mandi di Depan Gedung Sate
A
A
A
BANDUNG - Dua seniman Bandung, Matdon dan Taufik Mulyawan, menggelar performance art di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (30/8/2017). Keduanya mengkritisi Pilgub Jabar 2018.
Dalam aksinya, Matdon berpakaian ala kiai, lengkap dengan peci dan kain serban. Sedangkan Taufik berpakaian ala khas Sunda, memakai blangkon, berkaus putih polos, serta memakai celana pangsi hitam.
Taufik kemudian membaca semacam mantra sambil duduk bersila. Di hadapannya semacam sesaji, di antaranya kelapa, pisang, cerutu, serta kemenyan. Sementara Matdon membacakan puisi tentang kepemimpinan.
Tidak hanya itu, mereka juga membawa beberapa barang, mulai dari perangkat komputer bekas hingga nisan dari kayu bertuliskan 'Malu bin Jujur, Lahir Kemarin Wafat Sekarang'.
Keduanya juga memasang semacam infus pada bagian kepala. Cairan berwarna merah terus menetes dari kepala hingga membasahi baju keduanya.
Setelah itu, keduanya mengambil air dari ember. Dengan menggunakan gayung, mereka mengguyur badannya secara bergiliran. Badan mereka basah kuyup.
Matdon mengatakan, aksi yang dilakukan merupakan kritik sosial menjelang Pilgub Jawa Barat 2018. Ia ingin mengingatkan para kandidat agar pilgub menjadi jalan untuk pengabdian bagi rakyat.
Pilgub jangan dijadikan arena untuk sekadar menebar janji palsu. Apalagi jika pilgub dijadikan arena untuk pertarungan isu SARA.
"Politik itu harus gembira. Jangan hanya parpol dan calonnya saja yang gembira. Rakyat jangan dibebani dengan janji-janji yang tidak pasti. Jangan hanya janji-janji tapi tidak direalisasikan," kata Matdon.
Ia pun mengingatkan agar Pilgub Jawa Barat tidak dikotori dengan perilaku negatif para kandidat maupun parpol dan tim suksesnya. Rakyat pun jangan disalahkan jika kelak lebih memilih golput.
"Jika politik kotor terus-menerus, maka jangan salahkan rakyat jika suatu saat mereka golput."
Dalam aksinya, Matdon berpakaian ala kiai, lengkap dengan peci dan kain serban. Sedangkan Taufik berpakaian ala khas Sunda, memakai blangkon, berkaus putih polos, serta memakai celana pangsi hitam.
Taufik kemudian membaca semacam mantra sambil duduk bersila. Di hadapannya semacam sesaji, di antaranya kelapa, pisang, cerutu, serta kemenyan. Sementara Matdon membacakan puisi tentang kepemimpinan.
Tidak hanya itu, mereka juga membawa beberapa barang, mulai dari perangkat komputer bekas hingga nisan dari kayu bertuliskan 'Malu bin Jujur, Lahir Kemarin Wafat Sekarang'.
Keduanya juga memasang semacam infus pada bagian kepala. Cairan berwarna merah terus menetes dari kepala hingga membasahi baju keduanya.
Setelah itu, keduanya mengambil air dari ember. Dengan menggunakan gayung, mereka mengguyur badannya secara bergiliran. Badan mereka basah kuyup.
Matdon mengatakan, aksi yang dilakukan merupakan kritik sosial menjelang Pilgub Jawa Barat 2018. Ia ingin mengingatkan para kandidat agar pilgub menjadi jalan untuk pengabdian bagi rakyat.
Pilgub jangan dijadikan arena untuk sekadar menebar janji palsu. Apalagi jika pilgub dijadikan arena untuk pertarungan isu SARA.
"Politik itu harus gembira. Jangan hanya parpol dan calonnya saja yang gembira. Rakyat jangan dibebani dengan janji-janji yang tidak pasti. Jangan hanya janji-janji tapi tidak direalisasikan," kata Matdon.
Ia pun mengingatkan agar Pilgub Jawa Barat tidak dikotori dengan perilaku negatif para kandidat maupun parpol dan tim suksesnya. Rakyat pun jangan disalahkan jika kelak lebih memilih golput.
"Jika politik kotor terus-menerus, maka jangan salahkan rakyat jika suatu saat mereka golput."
(zik)