Pembangunan Tanggul Laut Dinilai Tak Efektif Tangani Banjir Rob
Kamis, 06 Juli 2017 - 08:08 WIB
Pembangunan Tanggul Laut Dinilai Tak Efektif Tangani Banjir Rob
A
A
A
JAKARTA - Pemprov DKI kembali melanjutkan pembangunan tanggul pengaman pantai yang menjadi keweangannya di kawasan Kali Blencong, Marunda, Jakarta Utara dan Kamal Muara. Pembangunan tanggul mengunakan betonisasi untuk dapat menahan banjir Rob di kawasan Cilincing, Jakarta Utara itu dinilai tidak efektif.
Pengamat Perkotaan universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan, penanggulan laut menggunakan betonisasi secara tekhnis membutuhkan biaya pembangunan dan perawatan yang mahal lantaran akan terus dipertinggi mengikuti kenaikan muka air laut. Sementara penurunan air tanah juga terus terjadi. "Cara ini tidak berkelanjutan," kata Nirwono joga saat dihubungi kemarin.
Nirwono menjelaskan, untuk mengatasi banjir rob, langkah yang harus diambil adalah penyelamatan pantai utara Jakarta Utara berupa pelarangan secara bertahap penggunaan air tanah dan Pemda wajib menyediakan jaringan pipa air bersih ke pemukiman serta menjamin ketersediaan airnya.
Kemudian, lanjut Nirwono, perbanyak waduk penampung air hujan sebagai cadangan air di musim kemarau dan mengurangi banjir di musim hujan. Selain itu, pelestarian dan perluas hutan mangrove dari panjang sekarang 3 kilometer menjadi 20-30 kilometer dari tebal 50 meter ke 200 meter. Menurutnya, semakin tebal itu semakin efektif untuk ekosistem pantai, meredam rob dan abrasi pantai secara alamai.
"memperbanyak dan mempluas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan pantai utara berupa taman lingkungan, hutan kota, jalur hijau, dengan pepohonan besar untuk mempbaiki kondisi lingkungan Jakarta Utara," pungkasnya.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Iman Satria meegaskan, pembangunan tanggul laut tentunya sudah melalui kajian dan kelayakannya. Dia berharap, hasilnya efektif dapat menghilangkan banjir rob.
Iman lebih menyayangkan waktu pembangunan yang kontraknya baru dimulai hari ini, Kamis 6 Juli 2017. Menurutnya, pembangunan yang memiliki batas waktu hingga akhir Desember tidak akan selesai sesuai target perencanaan. Dia meminta agar perangkat daerah mengevaluasi dalah hal perencanaan.
"Angggaranya cukup besar dan pembangunannya cukup sulit karena harus dari sisi laut. Sisa waktu lima bulan, apakah selesai sesuai target? Kalau efektif atau tidaknya ya kita lihat nantinya. Sudah ada sebagian yang dibangun kan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Aliran Timur Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ahmad Syaiful mengatakan, pada tahun ini, pihaknya akan membangun tanggul pengaman pantai sepanjang 500 meter melanjutkan pembangunan tanggul tahun lalu yang sudah dikerjakan sekitar 250 meter. Dia menargetkan pembangunan tanggul pengaman pantai yang menjadi kewenangan DKI sepanjang 1,8 kilometer dapat selesai pada 2018.
"Tadinya tahun ini 750 meter tapi karena waktu cuma lima bulan, saya memutuskan 500 meter saja. Di kamal muara ada juga, tapi ditangani oleh bidang aliran barat. Panjangnya sekitar 200 meter. tahun depan kami teruskan pembangunan tanggul untuk menyelesaikan 1,8 kilometer," ungkapnya.
Saiful menjelaskan, pembanguna tanggul pengaman pantai di Kali Blencong, Marunda, Jakarta Utara akan dimulai tiga hari setelah tandatangan kontrak dengan PT Waskita Beton Precast dilakukan hari ini bersamaan dengan pembanguna tanggul di Kamal Muara. PT Waskita memenangkan lelang setelah memberi harga penawaran terendah senilai Rp75,5 milliar dari nilai proyek sebesar Rp78,2 milliar.
"Baru dimualinya pembangunan pertengahna tahun ini karena lelalng. Silahkan Tanya ke badan pengadaan barang dan jasa (BPBJ) DKI Jakarta kenapa lelangnya sangat lama," ujarnya.
Tekhnis pembangunan tanggul, lanjut Saiful direncanakan memakai jalur laut untuk suplai beton, material, dan mobilisasi alat berat. Dia mengatakan bahwa jalur laut digunakan lantaran tak ada akses dari daratan menuju lokasi proyek. Dimana, akses darat tertutup pemukiman warga yang padat.
Pemancangan akan dilakukan menggunakan alat berat untuk memancang beton dengan dinaikkan ke ponton. Nantinya pelabuhan Tanjungpriok akan dijadikan pelabuhan sementara untuk menempatkan material proyek dan alat berat.
"Kami optimis dapat menyelsaikannya pada 2018. Kami yakin banjir rob yang biasanya sebetis orang dewasa di kawasan Cilincing dapat hilang," tegasnya.
Sekadar diketahui, Pemprov DKI memiliki kewajiban mengerjakan tanggul pengaman pantai sepanjang 1,8 kilometer dari total pengerjaan sepanjang 32 kilometer untuk menutupi seluruh ujung pantai di Jakarta.
Sisanya dikerjakan secara bersama oleh Pemprov Banten dan kawasan berikat nasional (KBN) yang berada di pinggir pantai Jakarta.
NCICD lebih dikenal sebagai proyek tanggul raksasa. Tapi saat ini yang tengah dilakukan adalah tahap pertama atau NCICD fase A, yakni pembangunan tanggul pengaman pantai untuk mengatasi banjir rob yang rutin terjadi di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Tahap pertama direncanakan rampung dalam 3 tahun ke depan.
Pengerjaan tanggul pengaman pantai tahap pertama dilakukan secara bersama oleh Satuan Kerja Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (Satker NCICD) Direktorat Sungai dan Pantai Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR dan Dinas Sumber Daya Air Pemprov DKI Jakarta.
Satker NCICD sudah lebih dulu memulai pengerjaan pada awal 2016 lalu. Sampai Juni 2017 sudah 2 kilometer tanggul pengaman pantai terpasang dari kewenangannya membangun 4,5 Kilometer. 4,5 kilometer tersebut diantaranya yakni berada di Di wilayah Kalibaru sepanjang 2.200 meter dan Muarabaru sejauh 2.300 meter.
Di wilayah Kalibaru sudah rampung sepanjang 1.075 meter. Sedangkan di Muarabaru sepanjang 1.040 meter.Pembangunan tanggul laut di Kalibaru dan Muarabaru dikerjakan oleh 4 kontraktor secara bersama (joint operation). Di Kalibaru dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan PT Sagna Nusantara. Di Muarabaru dikerjakan oleh Waskita Karya dan Adhi Karya. Nilai total proyek pembangunan tanggul laut di 2 wilayah itu adalah Rp 820 milliar.
NCICD fase A merupakan bagian tanggul laut yang amat penting dan dikerjakan paling pertama. Fase ini dinilai penting mencegah banjir rob di wilayah pesisir Jakarta utara.
Titik rawan banjir rob di Jakarta Utara meliputi, Penjaringan, Pluit, Kamal muara, Kapuk muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan.
Pengamat Perkotaan universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan, penanggulan laut menggunakan betonisasi secara tekhnis membutuhkan biaya pembangunan dan perawatan yang mahal lantaran akan terus dipertinggi mengikuti kenaikan muka air laut. Sementara penurunan air tanah juga terus terjadi. "Cara ini tidak berkelanjutan," kata Nirwono joga saat dihubungi kemarin.
Nirwono menjelaskan, untuk mengatasi banjir rob, langkah yang harus diambil adalah penyelamatan pantai utara Jakarta Utara berupa pelarangan secara bertahap penggunaan air tanah dan Pemda wajib menyediakan jaringan pipa air bersih ke pemukiman serta menjamin ketersediaan airnya.
Kemudian, lanjut Nirwono, perbanyak waduk penampung air hujan sebagai cadangan air di musim kemarau dan mengurangi banjir di musim hujan. Selain itu, pelestarian dan perluas hutan mangrove dari panjang sekarang 3 kilometer menjadi 20-30 kilometer dari tebal 50 meter ke 200 meter. Menurutnya, semakin tebal itu semakin efektif untuk ekosistem pantai, meredam rob dan abrasi pantai secara alamai.
"memperbanyak dan mempluas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan pantai utara berupa taman lingkungan, hutan kota, jalur hijau, dengan pepohonan besar untuk mempbaiki kondisi lingkungan Jakarta Utara," pungkasnya.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Iman Satria meegaskan, pembangunan tanggul laut tentunya sudah melalui kajian dan kelayakannya. Dia berharap, hasilnya efektif dapat menghilangkan banjir rob.
Iman lebih menyayangkan waktu pembangunan yang kontraknya baru dimulai hari ini, Kamis 6 Juli 2017. Menurutnya, pembangunan yang memiliki batas waktu hingga akhir Desember tidak akan selesai sesuai target perencanaan. Dia meminta agar perangkat daerah mengevaluasi dalah hal perencanaan.
"Angggaranya cukup besar dan pembangunannya cukup sulit karena harus dari sisi laut. Sisa waktu lima bulan, apakah selesai sesuai target? Kalau efektif atau tidaknya ya kita lihat nantinya. Sudah ada sebagian yang dibangun kan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Aliran Timur Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ahmad Syaiful mengatakan, pada tahun ini, pihaknya akan membangun tanggul pengaman pantai sepanjang 500 meter melanjutkan pembangunan tanggul tahun lalu yang sudah dikerjakan sekitar 250 meter. Dia menargetkan pembangunan tanggul pengaman pantai yang menjadi kewenangan DKI sepanjang 1,8 kilometer dapat selesai pada 2018.
"Tadinya tahun ini 750 meter tapi karena waktu cuma lima bulan, saya memutuskan 500 meter saja. Di kamal muara ada juga, tapi ditangani oleh bidang aliran barat. Panjangnya sekitar 200 meter. tahun depan kami teruskan pembangunan tanggul untuk menyelesaikan 1,8 kilometer," ungkapnya.
Saiful menjelaskan, pembanguna tanggul pengaman pantai di Kali Blencong, Marunda, Jakarta Utara akan dimulai tiga hari setelah tandatangan kontrak dengan PT Waskita Beton Precast dilakukan hari ini bersamaan dengan pembanguna tanggul di Kamal Muara. PT Waskita memenangkan lelang setelah memberi harga penawaran terendah senilai Rp75,5 milliar dari nilai proyek sebesar Rp78,2 milliar.
"Baru dimualinya pembangunan pertengahna tahun ini karena lelalng. Silahkan Tanya ke badan pengadaan barang dan jasa (BPBJ) DKI Jakarta kenapa lelangnya sangat lama," ujarnya.
Tekhnis pembangunan tanggul, lanjut Saiful direncanakan memakai jalur laut untuk suplai beton, material, dan mobilisasi alat berat. Dia mengatakan bahwa jalur laut digunakan lantaran tak ada akses dari daratan menuju lokasi proyek. Dimana, akses darat tertutup pemukiman warga yang padat.
Pemancangan akan dilakukan menggunakan alat berat untuk memancang beton dengan dinaikkan ke ponton. Nantinya pelabuhan Tanjungpriok akan dijadikan pelabuhan sementara untuk menempatkan material proyek dan alat berat.
"Kami optimis dapat menyelsaikannya pada 2018. Kami yakin banjir rob yang biasanya sebetis orang dewasa di kawasan Cilincing dapat hilang," tegasnya.
Sekadar diketahui, Pemprov DKI memiliki kewajiban mengerjakan tanggul pengaman pantai sepanjang 1,8 kilometer dari total pengerjaan sepanjang 32 kilometer untuk menutupi seluruh ujung pantai di Jakarta.
Sisanya dikerjakan secara bersama oleh Pemprov Banten dan kawasan berikat nasional (KBN) yang berada di pinggir pantai Jakarta.
NCICD lebih dikenal sebagai proyek tanggul raksasa. Tapi saat ini yang tengah dilakukan adalah tahap pertama atau NCICD fase A, yakni pembangunan tanggul pengaman pantai untuk mengatasi banjir rob yang rutin terjadi di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Tahap pertama direncanakan rampung dalam 3 tahun ke depan.
Pengerjaan tanggul pengaman pantai tahap pertama dilakukan secara bersama oleh Satuan Kerja Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (Satker NCICD) Direktorat Sungai dan Pantai Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR dan Dinas Sumber Daya Air Pemprov DKI Jakarta.
Satker NCICD sudah lebih dulu memulai pengerjaan pada awal 2016 lalu. Sampai Juni 2017 sudah 2 kilometer tanggul pengaman pantai terpasang dari kewenangannya membangun 4,5 Kilometer. 4,5 kilometer tersebut diantaranya yakni berada di Di wilayah Kalibaru sepanjang 2.200 meter dan Muarabaru sejauh 2.300 meter.
Di wilayah Kalibaru sudah rampung sepanjang 1.075 meter. Sedangkan di Muarabaru sepanjang 1.040 meter.Pembangunan tanggul laut di Kalibaru dan Muarabaru dikerjakan oleh 4 kontraktor secara bersama (joint operation). Di Kalibaru dikerjakan oleh PT Wijaya Karya dan PT Sagna Nusantara. Di Muarabaru dikerjakan oleh Waskita Karya dan Adhi Karya. Nilai total proyek pembangunan tanggul laut di 2 wilayah itu adalah Rp 820 milliar.
NCICD fase A merupakan bagian tanggul laut yang amat penting dan dikerjakan paling pertama. Fase ini dinilai penting mencegah banjir rob di wilayah pesisir Jakarta utara.
Titik rawan banjir rob di Jakarta Utara meliputi, Penjaringan, Pluit, Kamal muara, Kapuk muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan.
(mhd)