Pencarian Pesawat Aviastar Difokuskan di 3 Titik Koordinat
Jum'at, 02 Oktober 2015 - 23:21 WIB
Pencarian Pesawat Aviastar Difokuskan di 3 Titik Koordinat
A
A
A
JAKARTA - Pencarian Pesawat Aviastar PKBRM/DHC6 yang hilang kontak dari Bandara Andi Jemma Masamba difokuskan di tiga titik koordinat.
Tiga titik tersebut antara lain pada titik 14 nautical mile, 24 nautical mile serta 34 nautical mile. "Semuanya titik tersebut dari Bandara Andi Jemma Masamba," kata Staf Ahli Bidang Keterbukaan Informasi Publik Kemenhub Hadi M Djuraid, dalam jumpa pers di kantor Kemenhub, Jumat (2/10/2015).
Hadi mengatakan bahwa rute yang dilalui pesawat Aviastar merupakan rute perintis dengan tujuan Masamba-Makassar-Seko.
"Hanya satu maskapai yang beroperasi di sana yakni Aviastar dan merupakan rute perintis," pungkas dia. Mengenai kondisi terakhir diketahui bahwa pesawat meminta ijin untuk terbang pada ketinggian 8000 kaki.
Di tempat yang sama, General Manager Aviastar Slamet Supriyanto mengatakan, bahwa pesawat dengan jenis twin otter tersebut layak terbang dan sebelumnya tidak pernah ada laporan mengenai kerusakan.
Pesawat dengan kapasitas 18 penumpang tersebut dibeli maskapai Aviastar dari Papua New Gunea dan kemudian telah disertifikasi oleh Kemenhub pada Desember 2014. "Pesawat pertama kali beroperasi pada pertengahan Januari 2015, dan itu masih dinyatakan laik terbang," ucap dia.
Dia menjelaskan, untuk capt pilot sendiri memiliki jam terbang 2.911 jam, sementara copilot (flight officer/FO) memiliki jam terbang yang lebih banyak yakni 4.035 jam terbang.
Tiga titik tersebut antara lain pada titik 14 nautical mile, 24 nautical mile serta 34 nautical mile. "Semuanya titik tersebut dari Bandara Andi Jemma Masamba," kata Staf Ahli Bidang Keterbukaan Informasi Publik Kemenhub Hadi M Djuraid, dalam jumpa pers di kantor Kemenhub, Jumat (2/10/2015).
Hadi mengatakan bahwa rute yang dilalui pesawat Aviastar merupakan rute perintis dengan tujuan Masamba-Makassar-Seko.
"Hanya satu maskapai yang beroperasi di sana yakni Aviastar dan merupakan rute perintis," pungkas dia. Mengenai kondisi terakhir diketahui bahwa pesawat meminta ijin untuk terbang pada ketinggian 8000 kaki.
Di tempat yang sama, General Manager Aviastar Slamet Supriyanto mengatakan, bahwa pesawat dengan jenis twin otter tersebut layak terbang dan sebelumnya tidak pernah ada laporan mengenai kerusakan.
Pesawat dengan kapasitas 18 penumpang tersebut dibeli maskapai Aviastar dari Papua New Gunea dan kemudian telah disertifikasi oleh Kemenhub pada Desember 2014. "Pesawat pertama kali beroperasi pada pertengahan Januari 2015, dan itu masih dinyatakan laik terbang," ucap dia.
Dia menjelaskan, untuk capt pilot sendiri memiliki jam terbang 2.911 jam, sementara copilot (flight officer/FO) memiliki jam terbang yang lebih banyak yakni 4.035 jam terbang.
(sms)