Bus China Ingin Mengaspal di Jakarta, Ini Syarat dari Ahok
Rabu, 16 September 2015 - 22:56 WIB
Bus China Ingin Mengaspal di Jakarta, Ini Syarat dari Ahok
A
A
A
JAKARTA - Setelah sebelumnya enggan menggunakan armada bus dari China untuk kebutuhan teransportasi di Jakarta. Kini Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan tidak anti dengan bus asal negeri Tirai Bambu tersebut.
Pernyataan ini diungkapkan Ahok usai menggelar rapat tertutup dengan manajemen PT Steady Save di Balai Kota DKI Jakarta, tadi siang. Perusahaan tersebut belakangan menawarkan bus listrik merek BYD sebagai salah satu angkutan di Jakarta.
"Kita tidak anti-China. Kita enggak peduli sekarang, kan kita tidak beli. Kalau bus rusak, mogok di jalan, ya sudah kita keluarkan saja. Mereka yang rugi nanti," ungkap Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2015).
Ahok menjelaskan, Pemprov DKI tidak akan membeli bus dari perusahaan tersebut. Namun Ahok meminta perusahaan bus listrik ini memasukkan produk mereka ke e-Catalogue Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP).
Nantinya, Ahok akan membayar dengan rupiah per kilometer untuk setiap bus yang berjalan. Kebijakan tersebut belajar dari pengalaman sebelumnya. Sehingga saat ada kerusakan bus, semua ditanggung oleh operator.
"Kita nawarin rupiah per kilometer gampang saja. Mogok ya salah kamu. Kita enggak usah beli, makanya saya mau suruh mereka di e-Cataloge LKPP saja jadi ditentukan berapa rupiah per kilometernya," ujarnya.
Bus listrik diklaim Ahok dapat menempuh jarak hingga 250 kilometer setelah lima jam diisi tenaga listrik. "Ini jelas pakai listrik, enggak ada polusi. Busnya oke, bagus kok," lanjut Ahok.
Pernyataan ini diungkapkan Ahok usai menggelar rapat tertutup dengan manajemen PT Steady Save di Balai Kota DKI Jakarta, tadi siang. Perusahaan tersebut belakangan menawarkan bus listrik merek BYD sebagai salah satu angkutan di Jakarta.
"Kita tidak anti-China. Kita enggak peduli sekarang, kan kita tidak beli. Kalau bus rusak, mogok di jalan, ya sudah kita keluarkan saja. Mereka yang rugi nanti," ungkap Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2015).
Ahok menjelaskan, Pemprov DKI tidak akan membeli bus dari perusahaan tersebut. Namun Ahok meminta perusahaan bus listrik ini memasukkan produk mereka ke e-Catalogue Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP).
Nantinya, Ahok akan membayar dengan rupiah per kilometer untuk setiap bus yang berjalan. Kebijakan tersebut belajar dari pengalaman sebelumnya. Sehingga saat ada kerusakan bus, semua ditanggung oleh operator.
"Kita nawarin rupiah per kilometer gampang saja. Mogok ya salah kamu. Kita enggak usah beli, makanya saya mau suruh mereka di e-Cataloge LKPP saja jadi ditentukan berapa rupiah per kilometernya," ujarnya.
Bus listrik diklaim Ahok dapat menempuh jarak hingga 250 kilometer setelah lima jam diisi tenaga listrik. "Ini jelas pakai listrik, enggak ada polusi. Busnya oke, bagus kok," lanjut Ahok.
(whb)