Mengagumi Karya Sang Pencipta dari Pantai DIY
Rabu, 22 Juli 2015 - 10:27 WIB
Mengagumi Karya Sang Pencipta dari Pantai DIY
A
A
A
DAERAH Istimewa Yogyakarta (DIY) memang pantas dianggap sebagai salah satu destinasi wisata terkemuka di tanah air. Bagaimana tidak, ratusan obyek wisata di daerah yang dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono X ini mampu menyedot jutaan wisatawan untuk berlibur ke daerah yang istimewa ini.
Berbagai obyek mulai dari bernuansa budaya hingga murni alam mampu membangkitkan semangat dan selera para wisatawan. Salah satu destinasi yang menjadi andalan di DIY adalah pantai yang berada di sepanjang selatan daerah ini. Puluhan kilometer pantai dari Kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo dengan berbagai karakteristik hingga keindahan memberi banyak pilihan kepada semua wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah ini.
Sejak booming industri pariwisata di DIY, bermunculan obyek-obyek wisata baru di wilayah ini. Maraknya media sosial mampu mengangkat berbagai potensi obyek pariwisata di DIY. Wilayah-wilayah atau lokasi yang sebelumnya belum terjamah namun memiliki keindahan luar biasa tiba-tiba menjadi “kembang” tujuan wisata.
Di Kabupaten Bantul misalnya, selain obyek wisata pantai, setidaknya muncul delapan obyek wisata baru yang mulai dikenal berkat media sosial. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul, Bambang Legowo mengakui peran media sosial ini. Air Terjun Pulosari, Sendang Ngembel, ataupun obyek-obyek wisata lain mulai bermunculan belakangan ini.
“Dahulu masyarakat sekitar belum paham kalau wilayah mereka berpotensi untuk ‘dijual’, peran media sosial memang sangat membantu kami mempromosikan dan mengangkat potensi obyek wisata yang sebelumnya belum bahkan sama sekali tidak dikenal,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta. Fenomena media sosial dan netizen memang membuat tren positif dunia pariwisata di wilayah ini. Puluhan obyek wisata baru bermunculan di wilayahnya berkat “sentuhan” dari netizen melalui media sosial. Peran gadget yang dilengkapi dengan kamera menunjang publikasi menjadi lebih menarik.
“Sekarang sedikit-sedikit selfie terus diupload ke media sosial. Sebenarnya itu promo gratis buat dunia pariwisata,” paparnya. Untuk itu, dia mencoba menggaet netizen mengisi kontenkonten web khusus pariwisata yang ada di DIY. Di web terbaru yang dimiliki Dinpar DIY, visiting jogja, netizen diberi kesempatan luas untuk membuat foto dan tulisan tentang pengalaman mereka.
Dengan webyang dinamis ini, masyarakat bisa mengikuti perkembangan dunia pariwisata terbaru di DIY. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Suryanto mengakui, banyak obyek wisata yang dulunya belum terkenal menjadi dikenal masyarakat berkat peran media sosial atau para netizen.
Pantai-pantai baru seperti Pantai Watukodok, Pantai Jogan, Pantai Somandeng, Pantai Watu Lumbung, Pantai Gua Watu Lawang menjadi contoh sukses peran media sosial ini. “Sebelumnya tidak ada yang kenal. Akan tetapi melalui peran media sosial bisa terangkat,” ujarnya.
Beberapa pantai yang muncul belakangan memang kini mulai banyak dikenal dan dikunjungi orang. Bahkan pantai-pantai ini perlahan mampu menyedot minat pengunjung yang semula didominasi pantai terkenal seperti Parangtritis, Baron, Krakal, Kukup ataupun Pantai Glagah. Perlahan pengunjung di pantaipantai baru ini menunjukkan tren peningkatan.
Pengamanan Sebagian Besar Pantai Masih Minim
Kepala Balai Diklat Basarnas Noer Isrodin mengatakan, korban jiwa akibat kecelakaan laut di kawasan pantai selatan DIY dalam lima tahun terakhir lebih dari 30 orang. Jumlah tersebut tertinggi dibandingkan obyek pariwisata pantai di Indonesia. “Berdasarkan data yang dihimpun Kesbanglimas provinsi memang segitu,” kata Noer.
Namun, dari sekian obyek pariwisata pantai se-DIY, seperti Pantai Sadeng, Pantai Baron, maupun Pantai Glagah, Pantai Parangtritis dianggap paling banyak terjadi kecelakaan laut yang memakan korban jiwa. Noer menerangkan, banyaknya korban jiwa di obyek pariwisata pantai rata-rata disebabkan masih rendahnya kesadaran para wisatawan.
Mereka dinilai kerap mengabaikan papan-papan penanda bahaya yang telah terpasang. “Kemudian juga para nelayan. Kesadaran para nelayan rendah. Pengamanan yang mereka gunakan masih minim,” ungkapnya.
Eksotisme Pantai Bantul
Pantai selama ini masih menjadi primadona wisata di Kabupaten Bantul. Karena menawarkan berbagai hal yang menarik, maka wajar jika pantai selatan di Bantul memberikan kontribusi terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bantul di sektor pariwisata.
Dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung di pantai selatan Bantul terus menunjukkan progres yang positif. Kecuali di Pantai Samas, objek-objek wisata pantai di Bantul selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama di akhir pekan. Wahana pantai-pantai baru terus diperkenalkan oleh masyarakat pesisir dengan berbagai tawaran situasi yang berbeda.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul Bambang Legowo mengungkapkan, wahana pantai di Bantul memang memiliki ciri khas berbeda dengan Gunungkidul yang banyak didominasi tebing tinggi.
Pantai di Bantul memiliki bibir berupa hamparan pasir hitam yang cukup luas, tanpa disertai tebing. Kecuali di Pantai Parangtritis di sebelah timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul. “Pantai Bantul memang berbeda, berupa hamparan pasir dan di beberapa pantai ada tanamannya,” papar Bambang.
Meski berupa hamparan, namun daya tarik pantai di Bantul cukup banyak mulai dari tawaran view (pemandangan) hingga ke wisata edukatif ada di pantai selatan Bantul sepanjang 12 kilometer ini. Berbagai objek ini dapat ditemui sesuai dengan keinginan dan hobi masing- masing wisatawan.
Cukup kompleks, penawaran pantai di selatan Bantul ini. Pantai seperti Parangtritis, Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Gua Cemara, Pantai Baru, Pantai Kuwaru, hingga Pantai Pandansimo memiliki ciri khas masing-masing. Bambang menyebutkan, dari Pantai Parangtritis hingga Pantai Depok misalnya, dia mencatat minimal ada 25 daya tarik yang ditawarkan kepada pengunjung.
Di Pantai Depok menawarkan wisata kuliner dari masakan serba ikan. Di pantai ini pula wisatawan dapat membeli ikan segar yang baru saja ditangkap nelayan setempat, karena di pantai ini terdapat tempat pelelangan ikan (TPI). “Mau dibawa pulang atau dimasak di tempat? Semua bisa dengan harga terjangkau,” ungkap Bambang.
Selain itu, di pantai ini pula ada landasan pacu pesawat kecil yang bisa dimanfaatkan oleh pencinta olahraga dirgantara untuk menyalurkan hobinya. Landasan ini biasanya menjadi pusat kegiatan olahraga dirgantara yang banyak dilakukan oleh angkatan udara (AU) selama ini.
Di antara Pantai Depok dan Pantai Parangtritis ini terdapat pula gumuk pasir dan laboratorium parsial. Gumuk ini selain menjadi salah satu barier alami ancaman tsunami di Bantul, hamparan pasir ini sering dimanfaatkan oleh pencinta skateboard yang ingin menyalurkan hobi mereka dengan cara dan tantangan lainnya.
Erfanto linangkung
Berbagai obyek mulai dari bernuansa budaya hingga murni alam mampu membangkitkan semangat dan selera para wisatawan. Salah satu destinasi yang menjadi andalan di DIY adalah pantai yang berada di sepanjang selatan daerah ini. Puluhan kilometer pantai dari Kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo dengan berbagai karakteristik hingga keindahan memberi banyak pilihan kepada semua wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah ini.
Sejak booming industri pariwisata di DIY, bermunculan obyek-obyek wisata baru di wilayah ini. Maraknya media sosial mampu mengangkat berbagai potensi obyek pariwisata di DIY. Wilayah-wilayah atau lokasi yang sebelumnya belum terjamah namun memiliki keindahan luar biasa tiba-tiba menjadi “kembang” tujuan wisata.
Di Kabupaten Bantul misalnya, selain obyek wisata pantai, setidaknya muncul delapan obyek wisata baru yang mulai dikenal berkat media sosial. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul, Bambang Legowo mengakui peran media sosial ini. Air Terjun Pulosari, Sendang Ngembel, ataupun obyek-obyek wisata lain mulai bermunculan belakangan ini.
“Dahulu masyarakat sekitar belum paham kalau wilayah mereka berpotensi untuk ‘dijual’, peran media sosial memang sangat membantu kami mempromosikan dan mengangkat potensi obyek wisata yang sebelumnya belum bahkan sama sekali tidak dikenal,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta. Fenomena media sosial dan netizen memang membuat tren positif dunia pariwisata di wilayah ini. Puluhan obyek wisata baru bermunculan di wilayahnya berkat “sentuhan” dari netizen melalui media sosial. Peran gadget yang dilengkapi dengan kamera menunjang publikasi menjadi lebih menarik.
“Sekarang sedikit-sedikit selfie terus diupload ke media sosial. Sebenarnya itu promo gratis buat dunia pariwisata,” paparnya. Untuk itu, dia mencoba menggaet netizen mengisi kontenkonten web khusus pariwisata yang ada di DIY. Di web terbaru yang dimiliki Dinpar DIY, visiting jogja, netizen diberi kesempatan luas untuk membuat foto dan tulisan tentang pengalaman mereka.
Dengan webyang dinamis ini, masyarakat bisa mengikuti perkembangan dunia pariwisata terbaru di DIY. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Suryanto mengakui, banyak obyek wisata yang dulunya belum terkenal menjadi dikenal masyarakat berkat peran media sosial atau para netizen.
Pantai-pantai baru seperti Pantai Watukodok, Pantai Jogan, Pantai Somandeng, Pantai Watu Lumbung, Pantai Gua Watu Lawang menjadi contoh sukses peran media sosial ini. “Sebelumnya tidak ada yang kenal. Akan tetapi melalui peran media sosial bisa terangkat,” ujarnya.
Beberapa pantai yang muncul belakangan memang kini mulai banyak dikenal dan dikunjungi orang. Bahkan pantai-pantai ini perlahan mampu menyedot minat pengunjung yang semula didominasi pantai terkenal seperti Parangtritis, Baron, Krakal, Kukup ataupun Pantai Glagah. Perlahan pengunjung di pantaipantai baru ini menunjukkan tren peningkatan.
Pengamanan Sebagian Besar Pantai Masih Minim
Kepala Balai Diklat Basarnas Noer Isrodin mengatakan, korban jiwa akibat kecelakaan laut di kawasan pantai selatan DIY dalam lima tahun terakhir lebih dari 30 orang. Jumlah tersebut tertinggi dibandingkan obyek pariwisata pantai di Indonesia. “Berdasarkan data yang dihimpun Kesbanglimas provinsi memang segitu,” kata Noer.
Namun, dari sekian obyek pariwisata pantai se-DIY, seperti Pantai Sadeng, Pantai Baron, maupun Pantai Glagah, Pantai Parangtritis dianggap paling banyak terjadi kecelakaan laut yang memakan korban jiwa. Noer menerangkan, banyaknya korban jiwa di obyek pariwisata pantai rata-rata disebabkan masih rendahnya kesadaran para wisatawan.
Mereka dinilai kerap mengabaikan papan-papan penanda bahaya yang telah terpasang. “Kemudian juga para nelayan. Kesadaran para nelayan rendah. Pengamanan yang mereka gunakan masih minim,” ungkapnya.
Eksotisme Pantai Bantul
Pantai selama ini masih menjadi primadona wisata di Kabupaten Bantul. Karena menawarkan berbagai hal yang menarik, maka wajar jika pantai selatan di Bantul memberikan kontribusi terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bantul di sektor pariwisata.
Dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung di pantai selatan Bantul terus menunjukkan progres yang positif. Kecuali di Pantai Samas, objek-objek wisata pantai di Bantul selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama di akhir pekan. Wahana pantai-pantai baru terus diperkenalkan oleh masyarakat pesisir dengan berbagai tawaran situasi yang berbeda.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul Bambang Legowo mengungkapkan, wahana pantai di Bantul memang memiliki ciri khas berbeda dengan Gunungkidul yang banyak didominasi tebing tinggi.
Pantai di Bantul memiliki bibir berupa hamparan pasir hitam yang cukup luas, tanpa disertai tebing. Kecuali di Pantai Parangtritis di sebelah timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul. “Pantai Bantul memang berbeda, berupa hamparan pasir dan di beberapa pantai ada tanamannya,” papar Bambang.
Meski berupa hamparan, namun daya tarik pantai di Bantul cukup banyak mulai dari tawaran view (pemandangan) hingga ke wisata edukatif ada di pantai selatan Bantul sepanjang 12 kilometer ini. Berbagai objek ini dapat ditemui sesuai dengan keinginan dan hobi masing- masing wisatawan.
Cukup kompleks, penawaran pantai di selatan Bantul ini. Pantai seperti Parangtritis, Pantai Parangkusumo, Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Gua Cemara, Pantai Baru, Pantai Kuwaru, hingga Pantai Pandansimo memiliki ciri khas masing-masing. Bambang menyebutkan, dari Pantai Parangtritis hingga Pantai Depok misalnya, dia mencatat minimal ada 25 daya tarik yang ditawarkan kepada pengunjung.
Di Pantai Depok menawarkan wisata kuliner dari masakan serba ikan. Di pantai ini pula wisatawan dapat membeli ikan segar yang baru saja ditangkap nelayan setempat, karena di pantai ini terdapat tempat pelelangan ikan (TPI). “Mau dibawa pulang atau dimasak di tempat? Semua bisa dengan harga terjangkau,” ungkap Bambang.
Selain itu, di pantai ini pula ada landasan pacu pesawat kecil yang bisa dimanfaatkan oleh pencinta olahraga dirgantara untuk menyalurkan hobinya. Landasan ini biasanya menjadi pusat kegiatan olahraga dirgantara yang banyak dilakukan oleh angkatan udara (AU) selama ini.
Di antara Pantai Depok dan Pantai Parangtritis ini terdapat pula gumuk pasir dan laboratorium parsial. Gumuk ini selain menjadi salah satu barier alami ancaman tsunami di Bantul, hamparan pasir ini sering dimanfaatkan oleh pencinta skateboard yang ingin menyalurkan hobi mereka dengan cara dan tantangan lainnya.
Erfanto linangkung
(ftr)