Bermain Tarkam Bukan Hinaan

Senin, 29 Juni 2015 - 11:47 WIB
Bermain Tarkam Bukan...
Bermain Tarkam Bukan Hinaan
A A A
PALEMBANG - Mantan kapten Sriwijaya FC (SFC) Ponaryo Astaman angkat bicara soal pemain berlabel nasional berlaga di liga antarkampung (tarkam).

Terlebih banyaknya omongan bernada cemoohan, ketika melihat pahlawan Indonesia tersebut hanya bermain pada level terendah. “Ini bukan bicara etis atau tidak. Mereka bermain tarkam, karena semangat untuk bermain bola sangat tinggi. Itu bukan sebuah hinaan bagi pemain,” ungkap Ponaryo. Menurut pria 35 tahun ini, sebagai pelaku sepak bola, dia bisa merasakan apa yang dipikirkan pemain-pemain junior dan rekan-rekannya di tanah air. Tanpa sebuah kompetisi dan klub serentak menyatakan bubar, para pemain sepak bola sepertinya kehilangan jati diri.

“Wajar saja kalau mereka bermain tarkam. Mau main bola di mana lagi. Mereka juga memiliki semangat dan animo sangat tinggi untuk tetap merumput walaupun di liga amatir,” ujarnya. Popon nama sapaan Ponaryo Astaman melihat, banyaknya pemain nasional merumput di liga tarkam tidak akan menurunkan level para pemain yang sebenarnya memang berlabel nasional tersebut. Sebaliknya, itu sangat membantu menggeliatkan kembali sepak bola di level bawah.

“Ini juga buka satu atau dua orang, mereka semua berkumpul dan sama-sama tergabung di sana. Dengan adanya kondisi seperti ini, setidaknya membuat semangat masyarakat untuk bermain bola meningkat, hingga bukan hanya menjadi seorang penikmat saja (penonton),” jelasnya. Kendati demikian, Popon menitip pesan kepada rekan sejawatnya untuk berhati-hati berlaga di liga amatir. Tanpa perangkat pertandingan profesional dan lawan di bawah level permainan akan berdampak buruk.

“Risiko di liga amatir sangat tinggi. Tanpa kontrak jelas, permainan juga keras dan ancaman cedera sangat tinggi. Mereka harus lebih berhati-hati saja,” tuturnya. Popon menambahkan, konflik Menpora dan PSSI memang menjadi penyebab, semua pemain turun ke kompetisi tarkam. Tapi dia menolak kalau itu sengaja dilakukan para pemain nasional.

“Ini bukan perlawanan, namun memang imbasnya saja. Sebab banyak faktor menjadi pilihan untuk mencari nafkah. Ada juga yang memang masih semangat tetap komit bermain sepak bola walaupun di tarkam,” pungkasnya.

m moeslim
(ars)
Berita Terkait
Perindo Sumatera Selatan...
Perindo Sumatera Selatan Bagikan KTA Berasuransi
Trunk Show di Gerbong...
Trunk Show di Gerbong LRT Sumatera Selatan
Titik Baru Investasi...
Titik Baru Investasi Sumatera Selatan, Banyuasin!
Bupati Musi Banyuasin...
Bupati Musi Banyuasin Aktifkan Siskamling
Ulang Tahun Pertama,...
Ulang Tahun Pertama, Nama ASPENKU Diresmikan
MY Terima Audiensi PKBM...
MY Terima Audiensi PKBM Khoiruh Ummah
Berita Terkini
41 Hewan Kurban Disalurkan...
41 Hewan Kurban Disalurkan Serentak di 33 Kabupaten dan Kota, Perindo Sumut Perkuat Kepedulian Sosial
25 menit yang lalu
Arus Kendaraan Kembali...
Arus Kendaraan Kembali ke Jabodetabek Meningkat Jelang Berakhirnya Libur Panjang Iduladha
50 menit yang lalu
Sultra Tembus Peringkat...
Sultra Tembus Peringkat Terbaik Nasional di Ajang Kemendagri
1 jam yang lalu
Hasil Autopsi Ungkap...
Hasil Autopsi Ungkap Balita di Bekasi Tewas dengan 32 Tusukan
2 jam yang lalu
3 Embung di Jagakarsa...
3 Embung di Jagakarsa Jaksel yang Cocok untuk Tempat Rekreasi dan Olahraga
2 jam yang lalu
Kukuhkan Pengurus Pusat...
Kukuhkan Pengurus Pusat IKA-Boy Periode 2025-2029, Didik Haryadi Persatukan Perantau Boyolali
3 jam yang lalu
Infografis
Ini Penjelasan Warna...
Ini Penjelasan Warna Singa Putih Ternyata Bukan Albino
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved