Begini Asal Usul Julukan 'Mr Crack' Mendiang BJ Habibie
Kamis, 12 September 2019 - 14:59 WIB
Almarhum BJ Habibie mendapatkan julukan Mr Crack berkat kejeniusan di bidang teknologi, khususnya penerbangan. Foto: Sindonews
A
A
A
Presiden RI ketiga Indonesia, BJ Habibie, meninggal dunia pada usia 83 tahun. Kendati demikian, karya-karya di bidang teknologi tetap hidup dan dinikmati oleh banyak orang. Salah satu mahakarya BJ Habibie adalah crack progression theory alias teori Habibie. Teori ini pula yang membuatnya dijuluki Mr Crack.
Teori Habibie ini memiliki kontribusi besar dalam dunia penerbangan. Teori ini dipakai memprediksi crack propagation point atau letak awal retakan pada pesawat, terutama sayap. Retakan dalam struktur pesawat memang sangatlah dicemaskan dan sulit diperhitungkan oleh perakayasa struktural.
"Di dalam kariernya ia mendapatkan sebutan 'Mr Crack' karena termasuk orang pertama di dunia yang bisa memperlihatkan kepada dunia ilmu pengetahuan, bagaimana menghitung crack proropation on random sampai ke atom-atomnya," tulis Andi Makmur Makka dalam buku berjudul 'Habibie: Totalitas Sang Teknosof' halaman 93.
Kemampuan BJ Habibie ini mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak di luar negeri. Ahli aerodinamika, Prof Dr Ing B Lascka menulis bahwa crack propagation yang amat penting dan serba sulit hasil penemuan BJ Habibie cukup memesonakan hati. Ini pula yang menjadi dasar reputasi Bapak Teknologi Indonesia ini dalam lingkungan dunia ilmu kedirgantaraan.
Andi Makmur Makka yang merupakan sahabat dekat BJ Habibie menceritakan banyak kisah terkait reputasi dan kecerdasan temannya itu tatkala masih bersekolah dan berkarir di Jerman. Tidak heran bila BJ Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden dan Direktur Teknologi Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), sebuah perusahaan kedirgantaraan Jerman.
BJ Habibie merupakan satu-satunya orang asing yang pernah menduduki jabatan setinggi itu di MBB. Jabatan tersebut dipegang oleh pria kelahiran Kota Parepare, Sulsel ini hingga akhirnya dipanggil kembali ke Indonesia.
Sebelum berdirinya MBB, BJ Habibie aktif di Hamburger Flugzeubau (HFB) dan menunjukkan prestasi yang sangat cemerlang. Bahkan, ia kerap didaulat memberikan kuliah kepada spesialis HFB, perusahaan penerbangan yang belakangan merger dan berubah nama menjadi MBB.
Kejeniusan BJ Habibie
Pada buku yang sama, Andi Makmur Makka menceritakan kejeniusan seorang BJ Habibie yang berkali-kali memecahkan persoalan terkait penerbangan yang tidak bisa dilakukan orang lain kala itu. Saat pertama masuk HFB, ia ditugasi menyelesaikan persoalan kestabilan konstruksi bagian belakang pesawat terbang F28 yang sedang dikembangkan.
Kala itu, HFB yang merupakan industri besar di Jerman tidak mampu menyelesaikan persolan tersebut dengan hasil memuaskan. Bahkan, ketika sudah menggandeng industri pesawat terbang lain yakni Fokker BV Belanda. Persoalan itu sendiri sudah tiga tahun lamanya dan memakan biaya yang cukup besar.
BJ Habibie yang baru masuk di HFB lantas diberikan amanah untuk mencari solusi persoalan tersebut. Dalam waktu enam bulan, ia memusatkan perhatian dan berhasil menyelesaikan masalah tersebut dengan baik.
Karena prestasi itu, pihak HFB menyerahkan lagi tugas baru yakni memecahkan persoalan menyangkut konstruksi gantungan mesin di bagian belakang pesawat terbang eksekutif 'HFB 320'. Dalam waktu tujuh bulan, BJ Habibie mampu menyelesaikan persoalan tersebut.
"Kedua prestasi BJ Habibie itu membuat pimpinan HFB memutuskan untuk memberi sejumlah asisten kepada BJ Habibie. Sudah dapat diduga target pihak HFB itu yakni agar asisten yang diberikan tersebut dapat belajar lebih banyak kepada BJ Habibie. Dengan cara demikian, HFB menyiapkan Habibie-Habibie baru."
Karya Habibie
Bersamaan dengan semakin besarnya kepercayaan dari pihak HFB, BJ Habibie akhirnya diberikan amanah mendesain pesawat-pesawat terbang baru. Salah satu di antaranya adalah pesawat terbang DO-31 yakni sebuah pesawat terbang bersayap tetap pertama di dunia.
Pesawat terbang DO-31 ini satu-satunya pesawat yang bisa tinggal landas dan mendarat dalam posisi tegak lurus. Pesawat ini dikembangkan HFB bersama Dornier, lalu dibeli oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan sekarang disimpan di museum.
Tugas-tugas dalam penelitian itulah yang terus ditekuni BJ Habibie. Dari sini pula, ia berhasil menghasilkan karya berupa berbagai rumusan-rumusan yang asli di bidang termodinamika, konstruksi, aerodinamika dan keretakan. Termasuk teori yang membuatnya dijuluki 'Mr Crack'.
Penemuan-penemuan ini sudah diabadikan oleh berbagai pihak yang berhubungan dengan konstruksi pesawat terbang. Karya dan rumusan BJ Habibie ini dikenal dengan Teori Habibie, Faktor Habibie dan Metode Habibie. Tetapi, penamaan itu tidak pernah dilakukan oleh BJ Habibie, melainkan para ilmuwan dan kalangan industri Dirgantara di Barat.
Teori Habibie ini memiliki kontribusi besar dalam dunia penerbangan. Teori ini dipakai memprediksi crack propagation point atau letak awal retakan pada pesawat, terutama sayap. Retakan dalam struktur pesawat memang sangatlah dicemaskan dan sulit diperhitungkan oleh perakayasa struktural.
"Di dalam kariernya ia mendapatkan sebutan 'Mr Crack' karena termasuk orang pertama di dunia yang bisa memperlihatkan kepada dunia ilmu pengetahuan, bagaimana menghitung crack proropation on random sampai ke atom-atomnya," tulis Andi Makmur Makka dalam buku berjudul 'Habibie: Totalitas Sang Teknosof' halaman 93.
Kemampuan BJ Habibie ini mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak di luar negeri. Ahli aerodinamika, Prof Dr Ing B Lascka menulis bahwa crack propagation yang amat penting dan serba sulit hasil penemuan BJ Habibie cukup memesonakan hati. Ini pula yang menjadi dasar reputasi Bapak Teknologi Indonesia ini dalam lingkungan dunia ilmu kedirgantaraan.
Andi Makmur Makka yang merupakan sahabat dekat BJ Habibie menceritakan banyak kisah terkait reputasi dan kecerdasan temannya itu tatkala masih bersekolah dan berkarir di Jerman. Tidak heran bila BJ Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden dan Direktur Teknologi Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), sebuah perusahaan kedirgantaraan Jerman.
BJ Habibie merupakan satu-satunya orang asing yang pernah menduduki jabatan setinggi itu di MBB. Jabatan tersebut dipegang oleh pria kelahiran Kota Parepare, Sulsel ini hingga akhirnya dipanggil kembali ke Indonesia.
Sebelum berdirinya MBB, BJ Habibie aktif di Hamburger Flugzeubau (HFB) dan menunjukkan prestasi yang sangat cemerlang. Bahkan, ia kerap didaulat memberikan kuliah kepada spesialis HFB, perusahaan penerbangan yang belakangan merger dan berubah nama menjadi MBB.
Kejeniusan BJ Habibie
Pada buku yang sama, Andi Makmur Makka menceritakan kejeniusan seorang BJ Habibie yang berkali-kali memecahkan persoalan terkait penerbangan yang tidak bisa dilakukan orang lain kala itu. Saat pertama masuk HFB, ia ditugasi menyelesaikan persoalan kestabilan konstruksi bagian belakang pesawat terbang F28 yang sedang dikembangkan.
Kala itu, HFB yang merupakan industri besar di Jerman tidak mampu menyelesaikan persolan tersebut dengan hasil memuaskan. Bahkan, ketika sudah menggandeng industri pesawat terbang lain yakni Fokker BV Belanda. Persoalan itu sendiri sudah tiga tahun lamanya dan memakan biaya yang cukup besar.
BJ Habibie yang baru masuk di HFB lantas diberikan amanah untuk mencari solusi persoalan tersebut. Dalam waktu enam bulan, ia memusatkan perhatian dan berhasil menyelesaikan masalah tersebut dengan baik.
Karena prestasi itu, pihak HFB menyerahkan lagi tugas baru yakni memecahkan persoalan menyangkut konstruksi gantungan mesin di bagian belakang pesawat terbang eksekutif 'HFB 320'. Dalam waktu tujuh bulan, BJ Habibie mampu menyelesaikan persoalan tersebut.
"Kedua prestasi BJ Habibie itu membuat pimpinan HFB memutuskan untuk memberi sejumlah asisten kepada BJ Habibie. Sudah dapat diduga target pihak HFB itu yakni agar asisten yang diberikan tersebut dapat belajar lebih banyak kepada BJ Habibie. Dengan cara demikian, HFB menyiapkan Habibie-Habibie baru."
Karya Habibie
Bersamaan dengan semakin besarnya kepercayaan dari pihak HFB, BJ Habibie akhirnya diberikan amanah mendesain pesawat-pesawat terbang baru. Salah satu di antaranya adalah pesawat terbang DO-31 yakni sebuah pesawat terbang bersayap tetap pertama di dunia.
Pesawat terbang DO-31 ini satu-satunya pesawat yang bisa tinggal landas dan mendarat dalam posisi tegak lurus. Pesawat ini dikembangkan HFB bersama Dornier, lalu dibeli oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan sekarang disimpan di museum.
Tugas-tugas dalam penelitian itulah yang terus ditekuni BJ Habibie. Dari sini pula, ia berhasil menghasilkan karya berupa berbagai rumusan-rumusan yang asli di bidang termodinamika, konstruksi, aerodinamika dan keretakan. Termasuk teori yang membuatnya dijuluki 'Mr Crack'.
Penemuan-penemuan ini sudah diabadikan oleh berbagai pihak yang berhubungan dengan konstruksi pesawat terbang. Karya dan rumusan BJ Habibie ini dikenal dengan Teori Habibie, Faktor Habibie dan Metode Habibie. Tetapi, penamaan itu tidak pernah dilakukan oleh BJ Habibie, melainkan para ilmuwan dan kalangan industri Dirgantara di Barat.
(tyk)