Toko Buku di Majalengka Kian Sepi Pengunjung
Sabtu, 02 Maret 2019 - 10:13 WIB
Anshor saat merapikan buku. Foto/SINDOnews/Inin Nastain
A
A
A
Hingga 2010-an, kerumunan orang khususnya kalangan pelajar di toko buku, bukan pemandangan yang aneh. Dalam hampir setiap baris rak buku, akan terlihat banyak orang yang memerhatikan buku apa yang akan dibelinya.
Pemandangan itu tidak hanya terlihat di kota-kota besar, yang memang memiliki jumlah sekolah dan kampus yang banyak. Meskipun tidak seramai kota-kota besar, hilir mudik pelajar di toko buku pun akan sangat mudah ditemukan di Kabupaten Majalengka , Jawa Barat.
Toko Buku Pak Tebe yang terletak tidak jauh dari Kampus Universitas Majalengka (UNMA), Jalan KH Abdul Halim, menjadi saksi bisu dari kondisi itu, sekitar 10 tahun silam.
Dari sisi koleksi, toko buku milik Anshor ini terbilang cukup lengkap untuk level Kabupaten Majalengka. Selain buku pelajaran sekolah, di sana juga terdapat beberapa jenis buku umum seperti novel, budaya, sejarah , resep memasak, serta sejumlah buku pengetahuan umum lainnya. Isi dari buku terlihat cenderung masih rapi, lantaran jarang tersentuh. Namun, lembarannya banyak yang mulai menguning termakan usia.
Posisinya yang bersebelahan persis dengan kampus terbesar di Majalengka, membuat toko buku itu senantiasa ramai oleh aktivitas mahasiswa memilih buku incaran.
"Saya mulai buka toko buku pada tahun 2010. Alhamdulillah, setiap hari selalu ramai, khususnya oleh kalangan mahasiswa dan pelajar yang mencari buku bacaan," kata Anshor, pemilik Toko Buku Pak Tebe saat berbincang dengan SINDOnews.
Kala itu, hampir setiap hari, puluhan buku bacaan laku. Suasana toko buku miliknya akan semakin ramai pada saat-saat tertentu. "Pas ospek dan wisuda itu jumlah pembelian akan melonjak. Nggak tau ada kebijakan apa di kampusnya, yang pasti di dua moment itu pembelian buku pasti banyak," ungkap dia.
Namun, masa-masa manis itu kini hanya ada dalam kenangan. Meskipun belum bisa dipastikan memiliki keterkaitan, tetapi sejak marak gawai, toko bukunya mulai redup. Bahkan, saat momentum ospek dan wisuda, toko buku ini tetap sepi.
"Ramai itu berjalan sekitar empat tahun, sejak mulai buka. Setelah itu, mulai menurun. Puncaknya sekitar dua tahun terakhir, saat mulai marak Android," jelas dia.
Lesunya kunjungan ke toko buku miliknya, tentunya berpengaruh terhadap gairah Ansor untuk menambah koleksi. Jika sebelumnya rutin belanja, kali ini kebiasaan itu mulai ditinggalkan.
"Saya pesannya ke Jakarta. Sebelumnya kalau ada yang cari buku, terus kebetulan di sini tidak ada, saya carikan, pesan ke Jakarta. Sekarang mah, setelah sepi, jadi kurang semangat," ucapnya.
Saking sepinya pembeli, Anshor bahkan rela banting harga buku-buku dagangannya. Harga saat transaksi bisa saja akan jauh lebih murah dari harga yang tertera di sampul buku.
![Toko Buku di Majalengka Kian Sepi Pengunjung]()
Hal itu seperti yang dialami wartawan SINDOnews bersama wartawan dari media lain saat bertransaksi buku. Dari beberapa buku yang dibeli, setelah dijumlahkan total belanja mencapai angka Rp60 ribu. Namun, Anshor kemudian memberi potongan harga yang sangat ekstrem, hanya sekitar Rp30 ribu. "Ada yang beli saja alhamdulillah," katanya.
Melihat kondisi yang semakin muram, Anshor mengaku aktivitasnya itu mungkin hanya bertahan sekitar satu tahun ke depan. Apalagi, kontrakan kios buku miliknya itu tersisa sekitar satu tahun lagi. "Durasi ngontraknya dua tahun, sisa kontrak yang sekarang sekitar satu tahun lagi. Ya, mungkin udahan aja," jelas pria asal Kadugede, Kabupaten Kuningan itu.
Pemandangan itu tidak hanya terlihat di kota-kota besar, yang memang memiliki jumlah sekolah dan kampus yang banyak. Meskipun tidak seramai kota-kota besar, hilir mudik pelajar di toko buku pun akan sangat mudah ditemukan di Kabupaten Majalengka , Jawa Barat.
Toko Buku Pak Tebe yang terletak tidak jauh dari Kampus Universitas Majalengka (UNMA), Jalan KH Abdul Halim, menjadi saksi bisu dari kondisi itu, sekitar 10 tahun silam.
Dari sisi koleksi, toko buku milik Anshor ini terbilang cukup lengkap untuk level Kabupaten Majalengka. Selain buku pelajaran sekolah, di sana juga terdapat beberapa jenis buku umum seperti novel, budaya, sejarah , resep memasak, serta sejumlah buku pengetahuan umum lainnya. Isi dari buku terlihat cenderung masih rapi, lantaran jarang tersentuh. Namun, lembarannya banyak yang mulai menguning termakan usia.
Posisinya yang bersebelahan persis dengan kampus terbesar di Majalengka, membuat toko buku itu senantiasa ramai oleh aktivitas mahasiswa memilih buku incaran.
"Saya mulai buka toko buku pada tahun 2010. Alhamdulillah, setiap hari selalu ramai, khususnya oleh kalangan mahasiswa dan pelajar yang mencari buku bacaan," kata Anshor, pemilik Toko Buku Pak Tebe saat berbincang dengan SINDOnews.
Kala itu, hampir setiap hari, puluhan buku bacaan laku. Suasana toko buku miliknya akan semakin ramai pada saat-saat tertentu. "Pas ospek dan wisuda itu jumlah pembelian akan melonjak. Nggak tau ada kebijakan apa di kampusnya, yang pasti di dua moment itu pembelian buku pasti banyak," ungkap dia.
Namun, masa-masa manis itu kini hanya ada dalam kenangan. Meskipun belum bisa dipastikan memiliki keterkaitan, tetapi sejak marak gawai, toko bukunya mulai redup. Bahkan, saat momentum ospek dan wisuda, toko buku ini tetap sepi.
"Ramai itu berjalan sekitar empat tahun, sejak mulai buka. Setelah itu, mulai menurun. Puncaknya sekitar dua tahun terakhir, saat mulai marak Android," jelas dia.
Lesunya kunjungan ke toko buku miliknya, tentunya berpengaruh terhadap gairah Ansor untuk menambah koleksi. Jika sebelumnya rutin belanja, kali ini kebiasaan itu mulai ditinggalkan.
"Saya pesannya ke Jakarta. Sebelumnya kalau ada yang cari buku, terus kebetulan di sini tidak ada, saya carikan, pesan ke Jakarta. Sekarang mah, setelah sepi, jadi kurang semangat," ucapnya.
Saking sepinya pembeli, Anshor bahkan rela banting harga buku-buku dagangannya. Harga saat transaksi bisa saja akan jauh lebih murah dari harga yang tertera di sampul buku.

Hal itu seperti yang dialami wartawan SINDOnews bersama wartawan dari media lain saat bertransaksi buku. Dari beberapa buku yang dibeli, setelah dijumlahkan total belanja mencapai angka Rp60 ribu. Namun, Anshor kemudian memberi potongan harga yang sangat ekstrem, hanya sekitar Rp30 ribu. "Ada yang beli saja alhamdulillah," katanya.
Melihat kondisi yang semakin muram, Anshor mengaku aktivitasnya itu mungkin hanya bertahan sekitar satu tahun ke depan. Apalagi, kontrakan kios buku miliknya itu tersisa sekitar satu tahun lagi. "Durasi ngontraknya dua tahun, sisa kontrak yang sekarang sekitar satu tahun lagi. Ya, mungkin udahan aja," jelas pria asal Kadugede, Kabupaten Kuningan itu.
(zik)