alexametrics

Unjani Mantapkan Diri Jadi Perguruan Tinggi Berbasis Riset

loading...
Unjani Mantapkan Diri Jadi Perguruan Tinggi Berbasis Riset
Unjani gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pembinaan Penelitian di Hotel Galeri Ciumbuleuit, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, 3-4 September 2019. Foto/SINDOnews/Agung Bakti Sarasa
A+ A-
BANDUNG - Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) bertekad menyejajarkan diri bersama perguruan-perguruan tinggi terkemuka lainnya di Indonesia sebagai perguruan tinggi berbasis riset.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk mewujudkan tekad tersebut, salah satunya dengan menggelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pembinaan Penelitian. Workshop yang digelar di Hotel Galeri Ciumbuleuit, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, 3-4 September 2019 tersebut digelar dalam rangka revitalisasi reviewer perguruan tinggi klaster madya.

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Unjani dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).



"Kami berterima kasih kepada Kemenristekdikti yang telah mempercayai kami untuk menggelar kegiatan ini," ujar Rektor Unjani Witjaksono di sela-sela workshop.

Menurut Witjaksono, kegiatan ini menjadi salah satu upaya Unjani untuk meraih predikat perguruan tinggi berbasis riset. Hal itu sejalan dengan harapan pemerintah yang menginginkan perguruan tinggi mampu menghasilkan berbagai inovasi dan solusi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa ini.

"Kegiatan ini menjadi kesempatan besar untuk mencari jalan tumbuh ke atas. Suatu hari nanti, bersama perguruan tinggi lain, Unjani menjadi perguruan tinggi berbasis riset," kata Witjaksono.

Pihaknya pun terus mendorong mahasiswa Unjani untuk terus berinovasi melalui riset. Bahkan, kata dia, Unjani pun memberikan fasilitas khusus bagi mahasiswanya yang sukses meraih prestasi lewat riset yang dilakukannya, seperti membebaskan mahasiswa yang bersangkutan dari kewajiban membuat skripsi.

"Kami memberikan kesempatan kepada mahasiswa, yang ikut PKM dan Pimnas (lomba riset), kalau dia bisa menang di tingkat nasional, kami bebaskan bikin skripsi," sebutnya.

Tidak hanya itu, tambah Witjaksono, pihaknya juga getol mendorong seluruh mahasiswa Unjani untuk melanjutkan studinya hingga program doktoral. Berbagai upaya tersebut, tambah Witjaksono, menjadi wujud keseriusan Unjani dalam meraih predikat perguruan tinggi berbasis riset di Indonesia.

Kepala Subdirektorat Peningkatan Kapasitas Riset Kemenristekdikti Mustangimah menerangkan, workshop ini bertujuan menyamakan persepsi antara reviewer perguruan tinggi di wilayah kerja LLDIKTI IV yang meliputi Jawa Barat dan Banten dalam menilai proposal penelitian yang bakal dibiayai pemerintah pada 2020.

"Workshop ini kenapa penting? Karena pada tahun 2018 sampai pertengahan 2019, dinamika kebijakan sangat tinggi. Banyak hal yang diatur untuk memperbaiki sistem atau pelaksanan penelitian di Indonesia dan para reviewer harus memahami ini, agar bisa bekerja baik," paparnya.

Dia melanjutkan, melalui workshop tersebut, para reviewer dibekali pengetahuan terkait sistem penilaian kelayakan proposal penelitian, baik dari aspek substansi penelitian hingga anggarannya. Tidak hanya penelitian yang akan dilakukan, kata Mustangimah, para reviewer pun diberikan pemahaman terkait penilaian terhadap penelitian yang sudah berjalan.

"Kita berikan pemahaman untuk menilainya lewat monev (monitoring dan evaluasi) hingga luaran penelitian yang dijanjikan peneliti dan pemenuhannya," terang dia seraya mengatakan, tahun ini, sudah ada 26.000 proposal penelitian yang 17.000 di antaranya akan dibiayai pemerintah.

Dia menambahkan, workshop ini hanya diikuti reviewer perguruan tinggi klaster madya. Namun, bukan berarti hanya reviewer perguruan tinggi madya yang harus memahami sistem penilaian tersebut, melainkan seluruh reviewer baik dari klaster utama maupun mandiri.

"Klaster utama, mandiri, dan madya harus memahami, harus mengikuti penyegaran ini. Namun, pelaksanaannya memang berbeda. Untuk utama dan mandiri melaksanakan sendiri-sendiri," tandasnya.

Sementara itu, peneliti senior Saryono mengatakan, mengacu kepada Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), terdapat 10 bidang yang menjadi arah penelitian. Menurut dia, berkualitas atau tidaknya sebuah penelitian, akan sangat bergantung pada penilaian para reviewer.

"Kegiatan ini untuk memberikan pemahaman kepada para review yang bertugas sebagai wasit terhadap kualitas penelitian karena ada rencana induk nasional, rencana induk perguruan termasuk target luaran yang harus dicapai sesuai ketetapan pemerintah," jelasnya.

"Kalau review tidak berkualitas, tentunya proposal penelitian yang didanai juga tidak akan berkualitas dan target pun tidak tercapai. Sehingga, kegiatan ini sangat strategis," sambung Saryono.

Dia menambahkan, selain mengacu pada 10 bidang penelitian, para peneliti juga harus mampu menghasilkan output yang berdampak secara akademis maupun sosial ekonomi. "Sehingga, negara kita ke depan akan lebih maju berkat penelitian-penelitian berbasis output tersebut," tandasnya.
(zik)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top