Jawa Timur

Mengenal Dolly, lokalisasi terbesar se Asia Tenggara

Selasa,  18 Juni 2013  −  11:17 WIB
Mengenal Dolly, lokalisasi terbesar se Asia Tenggara
Kawasan lokalisasi Dolly di siang hari. (Foto: Kaskus)

Sindonews.com - Di Semarang ada Sunan Kuning. Di Jakarta ada Kramat Tunggak. Di Yogyakarta ada Sarkem. Hampir di setiap kota ada kompleks lokalisasi. Tapi mungkin tak ada yang seterkenal dan sefenomenal Dolly di Surabaya.

Kawasan Dolly Surabaya, sudah banyak dikenal masyarakat sebagai sebuah tempat yang bernuansa negatif. Hal ini lantaran di kawasan tersebut ditetapkan sebagai tempat dikumpulkannya para Penjaja Seks Komersial (PSK). Sehingga, jika para pencari pemuas nafsu hanya bisa melakukan aktivitasnya disatu tempat dan tak menimbulkan keresahan di wilayah lain. Tak pelak jika Dolly lebih terkenal ketimbang Surabaya.

Dolly sendiri kini dinyatakan sebagai kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya bahkan mengalahkan lokalisasi Patpong yang berada di Bangkok, Thailand, maupun Geylang, di Singapura.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Sindonews, Dolly berdiri sejak jaman penjajahan Belanda. Awalnya lokaliasasi Dolly merupakan kawasan pemakaman. Namun, oleh seorang keturunan Belanda yang menetap di Surabaya, Dolly Van Der Mart, pemakaman itu disulapnya menjadi areal hiburan malam. Karena yang mendirikan lokalisasi itu bernama Dolly, tak pelak jika kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Gang Dolly.

Keberadaan Dolly awalnya diperuntukkan untuk memuaskan nafsu para tentara Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, kini lokalisasi Dolly menjadi 'konsumsi' warga pribumi mulai dari kelas bawah, hingga kelas atas.

Lokasi Dolly berada di kawasan padat penduduk, di pusat Kota Surabaya. Di sana, tak hanya terdengar deru mesin kendaraan yang lewat, namun juga desahan tipis napas para kupu-kupu malam yang terdengar sayup-sayup di balik kamar sempit. Konon kabarnya, ada sekira 5.000 PSK yang berada di lokalisasi tersebut.

Dampak ekonomipun mulai terasa bagi para warga sekitar lokalisasi Doly. Mereka banyak yang menggantungkan rezekinya dari 'gang lendir' itu. Bukan hanya PSK, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang becak dan lain-lain merasakan hal positif dari lokalisasi tersebut.

Tarif PSK Dolly

Penasaran dengan tarif PSK di Dolly?. Biasanya, saat berjalan memasuki kawasan Dolly, selalu saja ada orang yang menghampiri anda untuk dibawa ke sebuah rumah dan menunjukkan koleksi PSK yang dimilikinya.

Yang unik, wanita tersebut ada yang dipajang dalam sebuah kaca akuarium besar bak ikan Arwana. Momen inipun biasanya tak disia-siakan oleh para pemburu nafsu untuk memilih 'mangsa kilatnya'.

Harga yang ditawarkan oleh para makelar tersebut biasanya bervariasi. Di tembok setiap rumah-rumah itu, biasanya dipasangi banderol harga untuk setiap PSK nya. Dalam banderol tersebut, ditulis harga berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp200 ribu. Harga tersebut biasanya sudah termasuk tarif kamar. Namun, harga tersebut hanya berlaku untuk satu kali kencan (short time).

Di akuarium tersebut, biasanya para PSK duduk di sofa sambil memajang kaki dan belahan dadanya untuk memikat para pria hidung belang. Wajah merekapun tak luput dari sapuan make up tebal dengan pakaian yang seronok.

Berikut percakapan pria hidung belang di lokalisasi Dolly yang tercantum dalam situs anakmudablogspot.com.

"Mari Mas ada barang baru silakan pilih sendiri. Kalau yang memakai baju pink itu tarifnya hanya Rp100 ribu, gimana Mas?" kata Andrei salah satu mekalar di wisma Rilexs II kepada seorang pria hidung belang.

Karena melihat pria yang ditawarkannya tak merespon, Andrei pun sigap menawarkan koleksi PSK lainnya untuk ditawarkannya kembali.

"Yang itu, dadanya sangat menonjol sekali. Kalau mau yang itu, itu harganya Rp150 ribu. Namanya Selvi (nama samaran), ia memang primadona di wisma sini (Rilexs II). Mau Mas?," tambahnya Andrei, warga Malang yang indekost di Jalan Kupang Gunung.

Bercerita soal pendapatan, Andrei mengaku dalam semalam lokalisasi Dolly tersebut bisa meraup untung banyak. Dalam satu bulan sekira Rp34 miliar uang berputar di wilayah tersebut. Bagi setiap primadona saja, dalam semalam mereka bisa mendapatkan tamu alias pria hidung belang sekira 7-10 tamu. Bahkan saat ini berkisar 15 tamu dalam semalam.

"Saya, kalau hari biasanya dapat tamu hampir 7 orang semalam. Tapi, sekarang lumayan dapat tamu banyak sekitar 13 orang yang mengajak untuk tidur bersama," tutur Selvi, PSK asal Pakisaji, Malang.



(rsa)

views: 35.939x
shadow