Kisah Telaga Sarangan Magetan, Jadi Surga Dunia Orang-orang Jerman

Sabtu, 24 Desember 2022 - 10:08 WIB
loading...
Kisah Telaga Sarangan...
Telaga Sarangan Magetan, Jawa Timur pada masa pra kemerdekaan menjadi surga bagi orang-orang Jerman di Indonesia. Foto/SINDOnews/Puguh Hariyanto
A A A
MAGETAN - Wilayah Sarangan, Magetan, Jawa Timur terpilih sebagai tempat penampungan warga Jerman di Hindia Belanda (Indonesia). Peristiwa itu terjadi pasca Jepang berhasil mengambil alih kekuasaan kolonial Belanda.

Orang-orang Jerman itu sebagian besar adalah kaum ibu-ibu dan anak-anak yang masih berusia pelajar. Tidak sedikit juga anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua (yatim piatu).

Baca juga: Kisah Kyai dan Nyai Pasir, Sepasang Naga yang Membentuk Telaga Sarangan

“Pada awal 1943, lebih dari 350 warga Jerman, termasuk 175 anak usia sekolah, tiba di Sarangan dari segala penjuru Hindia Belanda,” tulis Horst H. Geerken dalam buku Jejak Hitler di Indonesia.

Kisah Telaga Sarangan Magetan, Jadi Surga Dunia Orang-orang Jerman

Telaga Sarangan Magetan, Jawa Timur pada masa pra kemerdekaan menjadi surga bagi orang-orang Jerman di Indonesia. Foto/SINDOnews/Solichan Arif

Saat kolonial Belanda berkuasa di Hindia Belanda, para ibu dan anak-anak berkebangsaan Jerman itu menjadi tawanan. Mereka dipaksa menghuni kamp-kamp interniran Belanda.

Saat Jerman menginvasi Belanda pada Mei 1940 dan militer Jepang berhasil mengambil alih kekuasaan Hindia Belanda tahun 1942, nasib mereka berubah. Dalam Perang Dunia II, Jepang merupakan sekutu Jerman dan Italia.

Pemerintah Jerman menekan Tokyo untuk mengurusi ibu dan anak-anak Jerman di Hindia Belanda. Terutama mendidiknya agar menjadi warga Jerman yang baik dalam pengabdian kepada Tanah Air.

Baca juga: Dibayar Sukarela, Tukang Pijat Magetan Bersyukur Rasakan Momen Haji Akbar

Pada akhir 1942, semua ibu-ibu beserta anak-anak Jerman itu diperintahkan hijrah ke Sarangan, Magetan. Mereka dikumpulkan di Sarangan. Secara topografi, Sarangan Magetan terletak pada ketinggian 1.400 meter.

Berada di kaki Gunung Lawu setinggi 3.200 meter, pemandangan Sarangan begitu elok dan memikat. Terlihat bukit-bukit yang tertutup hutan tropis. Kemudian juga panorama aliran lidah lava yang turun menuju lembah.

Ditambah lagi Danau Telaga Pasir yang berair bening sekaligus berhawa sejuk dan nyaman. Pada masa kolonial Belanda, Sarangan Magetan menjadi tempat peristirahatan para pejabat Belanda.

Di Sarangan banyak dibangun hotel-hotel kecil untuk keluarga serta wisma-wisma untuk menerima tamu. ”Di akhir 1942, daerah yang tertidur ini (Sarangan Magetan) mendadak berubah aktif dan kehidupan mulai menggeliat,” tulis Horst H. Geerken.

“Setelah masa yang kacau, tidak pasti dan dipermalukan oleh Belanda, para perempuan dan anak-anak Jerman seperti tinggal di taman firdaus,” tambahnya.

Ratusan perempuan dan anak-anak kebangsaan Jerman itu hidup nyaman di Sarangan, Magetan. Anak-anak juga bersekolah dengan tenang. Para tua mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri melalui sektor peternakan dan pertanian.

Padang rumput luas yang berada di atas Sarangan, mereka pakai untuk peternakan sapi perah dan oleh para petani Jerman diambil susunya. Susu sapi itu didistribusikan kepada kaum ibu yang memiliki anak kecil.

Orang-orang Jerman itu juga mengolah lahan perkebunan sayur-mayur. Para tukang kebun didorong membuka lebih banyak perkebunan. Kentang, wortel, tomat, kubis, bawang bombay dan selada, dihasilkan sendiri. Banyak buah-buahan murah yang juga dijual ke desa.

Begitu juga dengan kebutuhan daging segar, sosis dan roti juga diproduksi sendiri. Soal distribusi pangan tak ada perbedaan antara warga Reich Jerman dengan warga Volk Jerman.

Mereka semua saling bantu dan tidak ada seorang pun di Sarangan yang mengalami kelaparan. Bahkan banyak sayur-mayur yang dibawa ke pangkalan Angkatan Laut di Surabaya.

“Festival panen juga dirayakan 1 Oktober sekalipun selalu ada panenan sepanjang tahun di Sarangan,” kata Horst H. Geerken dalam buku Jejak Hitler di Indonesia.

Orang-orang Jerman di Sarangan Magetan, seakan hidup di sebuah pulau Jerman di mana mereka bebas mengatur dirinya sendiri dengan lingkungan yang eksotis. Mereka tidak diwajibkan pulang ke tanah air, karena Eropa dalam situasi gawat.

Nyaris setiap hari Sekutu melakukan serangan udara di Jerman yang itu membuat anak-anak Jerman di wilayah perkotaan diungsikan ke pedesaan. Namun kenyamanan hidup di Sarangan Magetan bak menikmati surga dunia berakhir juga.

Setelah sebuah pesawat Sekutu terbang melintas di Sarangan, komandan militer Jepang memerintahkan semua rumah dikosongkan. Jendela-jendela rumah mulai dipasang korden dan pada malam hari pemakaian lampu dibatasi.

Pada awal bulan Mei 1945, kabar buruk itu tiba di telinga orang Jerman di Sarangan, Magetan. Beredar kabar Adolf Hitler tewas dan Jerman telah kalah. Dan kabar itu telah terkonfirmasi.

Para ibu-ibu Jerman beserta anak-anak mereka dan kaum pria mendadak tidak bersemangat lagi. Mereka sedih, kecewa, bercampur marah. Bayangan lenyapnya kehidupan surgawi di Telaga Sarangan, Magetan terlihat di ujung mata.

“Hitler mati? Idola yang kami percayai secara membabi buta itu mati? Lalu apa yang terjadi sekarang dengan kami?,” kata Hardy Zollner bekas murid Sarangan Magetan seperti ditulis Horst H. Geerken dalam buku Jejak Hitler di Indonesia.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wakil Ketua Komisi VII:...
Wakil Ketua Komisi VII: Gelaran Tona Sian Huta Angkat Opera Batak ke Panggung Nasional
Libur Panjang, Monas...
Libur Panjang, Monas Diserbu 4.009 Pengunjung, 129 di Antaranya Wisatawan Mancanegara
BPODT Sebut Infrastruktur...
BPODT Sebut Infrastruktur dan Regulasi Kunci Pengembangan Destinasi Danau Toba
The Maritime Circle,...
The Maritime Circle, Cara Baru Menikmati Kepemilikan Yacht di Bali
Libur Lebaran 2026,...
Libur Lebaran 2026, Jalan Menuju Wisata Anyer Macet Parah
Lebaran Kedua, 30 Ribu...
Lebaran Kedua, 30 Ribu Kendaraan Serbu Kawasan Wisata Pandeglang
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
Rekomendasi
4 Fakta Pembunuhan WNI...
4 Fakta Pembunuhan WNI di Hokkaido, Tersangka Sudah Berniat Habisi Korban
Bank Mantap Serahkan...
Bank Mantap Serahkan Santunan kepada Ahli Waris Jenderal Purn Ryamizard Ryacudu
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
Berita Terkini
Yeho Gathering 2026,...
Yeho Gathering 2026, Merayakan 20 Tahun Perjalanan Sekolah
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
Liburan ke China Makin...
Liburan ke China Makin Praktis, Kini Bisa Tinggal Scan Pakai QRIS Cross-Border BRImo!
Ribuan Masyarakat Antusias...
Ribuan Masyarakat Antusias Ikuti Breakfast Jakarta Bersih di Kemendikdasmen
Mulai Roadshow Konsolidasi...
Mulai Roadshow Konsolidasi dari Klungkung, Perindo Bali Bidik Lolos Verifikasi 100%
Suhud Alynudin Dilantik...
Suhud Alynudin Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Jakarta
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved