Waspada Dry Eye Syndrome di Masa Pandemi COVID-19
Minggu, 05 Juli 2020 - 16:54 WIB
loading...
Ilustrasi dry eye syndrome. Foto/Ist
A
A
A
SEMARANG - Masa pandemi COVID-19 ada perubahan atau pergeseran konfigurasi pemanfaatan gadget, sebagai fasilitas selama bekerja di rumah atau work from home (WFH).
Penggunaan telepon seluler (ponsel), laptop, komputer hingga perangkat lain seperti televisi yang terlalu lama dapat menyebabkan sindrom kekeringan air mata atau dry eye syndrome. Sindrom kekeringan air mata ditandai dengan mata kering, gatal, panas, merah dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Minggu (5/7/2020), dokter spesialis mata, dr Henry Warouw SpM, menjelaskan soal dry eye syndrome secara gamblang dalam health talk online bertema "Dry Eye During The COVID-19 Pandemi" yang digelar Siloam Hospitals Semarang, Jumat (3/7/2020) kemarin. Seminar kesehatan virtual yang memanfaatkan aplikasi zoom tersebut, diikuti lebih dari 20 peserta mulai dari para medis dan masyarakat awam.
"Penyakit mata kering adalah kondisi saat mata tidak mendapat kelembaban yang cukup dari air mata. Umumnya pasien mata kering akan merasakan matanya panas, gatal, dan seperti ada yang mengganjal. Kondisi ini disebabkan mata terlalu lama melihat monitor atau layar terang yang membuat mata jarang berkedip. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan peradangan pada sekitar mata, sehingga menimbulkan jaringan parut pada kornea atau terjadi infeksi bakteri," urai dr Henry. (Baca juga: Cerita Pelajar Papua Betah Tinggal di Jateng saat Pandemi COVID-19 )
Henry mengatakan, kondisi yang belum terlalu parah, penderita mata kering cukup dengan memberinya obat tetes mata yang dijual bebas di apotek. Namun jika pasien merasakan ketidaknyamanan matanya sangat mengganggu seperti sakit kepala, pandangan menjadi buram atau mata sering merasa sangat lelah, maka sebaiknya penderita mata kering sindrom segera memeriksa kesehatan matanya ke dokter.
Penggunaan telepon seluler (ponsel), laptop, komputer hingga perangkat lain seperti televisi yang terlalu lama dapat menyebabkan sindrom kekeringan air mata atau dry eye syndrome. Sindrom kekeringan air mata ditandai dengan mata kering, gatal, panas, merah dan menimbulkan ketidaknyamanan.
Dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Minggu (5/7/2020), dokter spesialis mata, dr Henry Warouw SpM, menjelaskan soal dry eye syndrome secara gamblang dalam health talk online bertema "Dry Eye During The COVID-19 Pandemi" yang digelar Siloam Hospitals Semarang, Jumat (3/7/2020) kemarin. Seminar kesehatan virtual yang memanfaatkan aplikasi zoom tersebut, diikuti lebih dari 20 peserta mulai dari para medis dan masyarakat awam.
"Penyakit mata kering adalah kondisi saat mata tidak mendapat kelembaban yang cukup dari air mata. Umumnya pasien mata kering akan merasakan matanya panas, gatal, dan seperti ada yang mengganjal. Kondisi ini disebabkan mata terlalu lama melihat monitor atau layar terang yang membuat mata jarang berkedip. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan peradangan pada sekitar mata, sehingga menimbulkan jaringan parut pada kornea atau terjadi infeksi bakteri," urai dr Henry. (Baca juga: Cerita Pelajar Papua Betah Tinggal di Jateng saat Pandemi COVID-19 )
Henry mengatakan, kondisi yang belum terlalu parah, penderita mata kering cukup dengan memberinya obat tetes mata yang dijual bebas di apotek. Namun jika pasien merasakan ketidaknyamanan matanya sangat mengganggu seperti sakit kepala, pandangan menjadi buram atau mata sering merasa sangat lelah, maka sebaiknya penderita mata kering sindrom segera memeriksa kesehatan matanya ke dokter.