Kisah LB Moerdani yang Menolak Diambil Menantu Bung Karno

Sabtu, 27 Agustus 2022 - 07:00 WIB
loading...
Kisah LB Moerdani yang...
Mayor Infanteri Benny Moerdani dan Presiden Soekarno seusai penyematan Bintang Sakti di halaman Istana Merdeka pada November 1960. Foto/repro
A A A
Kecakapan Mayor Infanteri LB Moerdani atau Benny Moerdani yang kelak di masa pemerintahan Presiden Soeharto menjadi Panglima ABRI (sekarang TNI), telah memikat hati Presiden Soekarno atau Bung Karno.

Benny Moerdani menjadi salah satu tentara penerima penghargaan Bintang Sakti. Pada November 1960, anugerah untuk para tentara yang berjasa dalam operasi Pembebasan Irian Barat (sekarang Papua) itu disematkan langsung oleh Bung Karno.

Pada dada kiri Benny, yakni di bawah wing tanda kecakapan pasukan payung, tersemat penghargaan Bintang Sakti. Di halaman Istana Merdeka, Bung Karno berpidato dengan menyebut para penerima Bintang Sakti sebagai pahlawan.

Baca juga: Kesal dengan Komandannya, Legenda Kopassus Ini Todongkan Senjata ke Wajah LB Moerdani

“Korbanmu tidak kecil, korbanmu besar sekali. Engkau boleh dinamakan pahlawan, pahlawan bangsa,” kata Bung Karno seperti dikutip dari buku Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan (1993).

Benny Moerdani lahir 2 Oktober 1932 di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Ayahnya, Raden Bagus Moerdani Sosrodirdjo seorang pegawai jawatan kereta api yang sering berpindah-pindah tugas. Ibunya yang bernama Jeanne Roech adalah wanita berdarah Eropa kelahiran Magelang yang berprofesi guru taman kanak-kanak.

Di usia yang belum genap empat tahun, Benny kecil dibawa pindah orang tuanya ke Semarang. Kemudian pindah tugas lagi ke Yogyakarta dan lantas menetap di Solo. Di kesatuannya Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD (sekarang Kopassus), Benny Moerdani menjabat Komandan Batalyon I RPKAD.

Pada pertengahan tahun 1964, Benny dipanggil untuk menghadap Bung Karno di Istana Negara. Bung Karno ingin tahu duduk persoalan insiden bentrokan antara anggota RPKAD dengan anggota Cakrabirawa atau Tjakrabirawa dari unsur KKO (sekarang Marinir).

Kabar adanya bentrok fisik di lapangan Banteng yang dipicu aksi saling ejek, sempat membuat Bung Karno marah. Insiden tersebut bersamaan dengan acara pertemuan para dokter militer di Istana Negara. Pertikaian berakhir damai setelah para pimpinan pasukan, yakni Benny Moerdani, Mayor Saminu dan Komandan Resimen Cakrabirawa Kolonel CPM Moh Sabur bertemu di Markas Garnizun Jakarta.

Di beranda belakang Istana Merdeka, Benny dan Bung Karno bertemu. Dalam pembicaraan itu Benny lebih banyak mendengarkan, sementara Bung Karno bercerita panjang lebar bagaimana di setiap negara harus punya pasukan elite. Yang dimaksud Bung Karno adalah Cakrabirawa yang berdiri awal Mei 1963.

“Tugas pasukan elite kecuali untuk bisa melindungi negara dari ancaman musuh, yang juga tidak kalah pentingnya harus selalu siap sedia untuk melindungi kepala negara,” demikian dikatakan Bung Karno.

Benny Moerdani kemudian dibuat tersentak oleh Bung Karno. Dalam percakapan itu Bung Karno tiba-tiba meminta Benny Moerdani untuk menjadi anggota Cakrabirawa. “Ben, saya menginginkan kamu menjadi anggota Cakrabirawa”.

Baca juga: Kisah Keris Mpu Gandring, Pusaka Pembunuh 7 Keturunan Ken Arok

Benny kaget dan seketika terdiam. Suasana pun berubah hening. Di pikiran Benny tidak pernah menduga akan mendapat perintah semacam itu. Namun kemudian dengan perlahan ia memberanikan diri menjawab, yang itu membuat Bung Karno marah.

Benny Moerdani yang sepanjang karir militernya digembleng untuk menjadi pasukan komando mengatakan, dirinya ingin menjadi tentara yang betul-betul tentara. Bagi Benny Moerdani, tugas yang dijalankan Cakrabirawa bukan tugas seorang anggota militer profesional.

“Lho, apa kau pikir Cakrabirawa bukan tentara,” teriak Bung Karno dengan nada marah seperti dikutip dari Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Benny Moerdani buru-buru menjelaskan dengan dalih dirinya ingin menjadi komandan brigade terlebih dahulu. Ia sengaja mengemukakan alasan tekhnis agar Bung Karno berhenti memaksakan keinginannya.

Cara Benny Moerdani berkelit, ampuh. Bung Karno kemudian mengalihkan pembicaraan dengan tema lain. Bung Karno berbicara tentang urusan keluarganya, anak-anaknya, termasuk keinginan menikahkan anaknya dengan anggota militer seperti Benny Moerdani.

“Saya sebetulnya ingin anakku kawin dengan seorang pahlawan. Ya seperti engkau ini,” kata Bung Karno dengan suara perlahan seperti dikutip dari Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Benny Moerdani tahu, keinginan Bung Karno untuk menjadikan dirinya sebagai menantu dilandasi niat yang baik. Namun ia tidak bisa memenuhi hal itu karena sudah memiliki pilihan sendiri. Mengingat Bung Karno merupakan Kepala Negara sekaligus orang tua yang tengah merindukan datangnya menantu, Benny Moerdani berhati-hati dalam menolak.

Ia berusaha keras memilih kata-kata penolakan yang tidak menyinggung perasaan. Bung Karno pun bisa menerima alasannya. Dengan perasaan lega, Benny Moerdani kemudian bisa meninggalkan halaman Istana Kepresidenan tanpa diberati beban.

Pada pemerintahan Presiden Soeharto, karir militer Jenderal Benny Moerdani berada di puncak. Ia diangkat menjadi Panglima ABRI selama lima tahun (28 Maret 1983 – 27 Februari 1988). Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan.

Pada 29 Agustus 2004 Benny Moerdani yang mengalami stroke dan infeksi paru-paru, meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Jenderal Benny Moerdani yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata meninggalkan seorang istri, satu putri dan lima orang cucu.
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Jenderal Kostrad...
Kisah Jenderal Kostrad Rudini Geser 3 Jenderal hingga Melenggang Kariernya Jadi KSAD
Transaksi Mata Uang...
Transaksi Mata Uang China Gantikan Uang Lokal Masa Kerajaan Majapahit
7 Fakta Pengkhianatan...
7 Fakta Pengkhianatan Menantu Raja Kertanegara yang Berujung Jatuhnya Singasari
Kisah Jane Foster, Intelijen...
Kisah Jane Foster, Intelijen Amerika yang Memata-matai Soekarno-Hatta Setelah Kemerdekaan Indonesia
3 Daerah Penting di...
3 Daerah Penting di Luar Ibu Kota Kerajaan Majapahit Penopang Perdagangan
Siasat Gayatri Putri...
Siasat Gayatri Putri Raja Singasari Pura-pura Jadi Anak Abdi Dalem untuk Kelabui Pasukan Jayakatwang
Momen Raja Majapahit...
Momen Raja Majapahit Redam Pemberontakan Sadeng saat Konflik Gajah Mada dan Kembar
Akhir Kejayaan Singasari!...
Akhir Kejayaan Singasari! Raja Kertanagara, Ekspedisi Pamalayu, dan Kudeta Maut Jayakatwang
Enggan Dikritik, Amarah...
Enggan Dikritik, Amarah Gajah Mada Berujung Tewasnya Pejabat Kerajaan Majapahit
Rekomendasi
Its Family Time! Lebaran...
It's Family Time! Lebaran Anti Sepi karena Ada Animasi Seru yang Siap Temani di Big Movies Platinum Family GTV!
Its Family Time! Seharian...
It's Family Time! Seharian Keliling Rumah Tetangga, Sampai Rumah Waktunya Nonton Film-film Keren di Big Movies Platinum GTV!
Gempa Besar 7,7 SR,...
Gempa Besar 7,7 SR, Gedung Pencakar Langit di Bangkok Roboh
Berita Terkini
3 Fakta Kabar RS Sardjito...
3 Fakta Kabar RS Sardjito Yogyakarta Beri THR Nakes Hanya 30%
2 jam yang lalu
Jalur Pantura Demak...
Jalur Pantura Demak Terendam Banjir Rob, Arus Mudik Tersendat
2 jam yang lalu
Arus Mudik di Jalur...
Arus Mudik di Jalur Pantura Cirebon Ramai Lancar Malam Ini
2 jam yang lalu
H-3 Lebaran, 88.000...
H-3 Lebaran, 88.000 Unit Kendaraan Lintasi Tol Cipali Menuju Jateng
3 jam yang lalu
Penumpang KA di Stasiun...
Penumpang KA di Stasiun Semarang Tawang Dihibur Musik Piano Klasik
3 jam yang lalu
Jalur Arteri Kalimalang...
Jalur Arteri Kalimalang Kian Ramai Pemudik Malam Ini
3 jam yang lalu
Infografis
4 Negara di Dunia yang...
4 Negara di Dunia yang Tidak Memiliki Pesawat Tempur
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved