Sejarah Kampung Arab di Condet, Perjuangan Entong Gendut Melawan Pungutan Pajak Kompeni di Batavia

Sabtu, 16 Juli 2022 - 06:35 WIB
loading...
Sejarah Kampung Arab...
Potret perlawanan pahlawan lokal Entong Gendut di Condet melawan pungutan pajak kompeni di Batavia. Foto/Istimewa/Dok SINDOnews
A A A
JAKARTA - Kawasan Condet merupakan wilayah yang berada di Kecamatan Cililitan dan masuk Kota Administrasi Jakarta Timur. Kawasan ini sangat dikenal banyak orang dengan nama Kampung Arab, karena banyak warga Timur Tengah yang bermukim di sana.

Namun kawasan ini juga menyimpan beberapa lika liku sejarah yang menarik untuk di bahas mulai dari adanya pahlawan lokal yang melawan penjajah Belanda dan kehadiran warga Timur Tengah hingga bermukim di sana.

Dalam buku berjudul 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin H.M yang diterbitkan tahun 2012, disebutkan bahwa nama Condet berasal dari Bahasa Sunda, yaitu “CI” yang memiliki arti anak sungai, dan “Ondet” yang berarti pohon buni.

Pada masa penjajahan Belanda, Kawasan Condet termasuk wilayah Batavia atau saat ini dikenal dengan Jakarta. Condet saat itu sudah memiliki salah satu pahlawan lokal yang terkenal dengan perjuangan dan kegaranganya dalam melawan Belanda, yakni Entong Gendut.

Entong Gendut itu dikenal karena berani menghadapi penjajah dan kaum tuan tanah yang saat itu merugikan rakyat dengan memungut pajak yang sangat tinggi. Karena pajak itu memberatkan rakyat, hati Entong tergerak dan melakukan perlawanan agar pajak dihapuskan. Baca juga: Mengenal Silat Cimande Bogor, Tempat Lahirnya Para Jawara di Bumi Nusantara

Dalam perlawanannya, Entong memimpin 30 pemuda dalam pemberontakan Condet melawan Belanda di sebuah bangunan Belanda “Grooneveld” yang berada di ujung Selatan Jalan Condet Raya. Bangunan ini sudah menjadi kerangka saja karena kebakaran yang terjadi pada tahun 1985.

Sebelum itu, dahulu kala Condet merupakan daerah penghasil beberapa jenis buah seperti duku buni, serta salak. Sekarang berbagai pohon ini sudah tidak tersisa dan tergantikan oleh berbagai bangunan perumahan milik masyarakat.

Namun pemadangan yang hingga kini masih bisa ditemukan di sepanjang Jalan Raya Condet adalah toko-toko yang menjual berbagai produk Timur Tengah, seperti busana muslim, air zam zam, minyak wangi, Shisha, makanan seperti nasi kebuli, dan lain sebagainya.

Hal ini dikarenakan banyak masyarakat Condet merupakan keturunan Timur Tengah. Berdasarkan sebuah penelitian berjudul “Pengembangan Perkampungan Budaya Betawi: Dari Condet ke Srengseng Sawah”. Baca juga: Kisah Kramat Batok dan Karomah Kiai Uyut Gabid

Orang-orang keturunan Timur Tengah ini sebelumnya tinggal di Pekojan, Jakarta Barat. Karena daerah tersebut sudah padat, akhirnya masyarakat keturunan Arab ini mencari daerah tempat tinggal lain, salah satunya Condet.

Selain keturunan Arab, masyarakat keturunan Yaman mulai memadati Condet sejak tahun 1996. Di sana mereka membangun berbagai usaha dan menjadi penyalur tenaga kerja yang akan dikirim ke Timur Tengah, Malaysia, Singapura, dan lain sebagainya.



Selain itu, budaya Arab juga kian menyebar dan bersatu bersama budaya asli Betawi di sana. Warga Timur Tengah itu pada mulanya datang untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam di Indonesia, kemudian mereka menikah dengan orang pribumi dan memiliki banyak keturunan.

Sejak saat itu, banyak masyarakat keturunan Timur Tengah bermukim di berbagai wilayah di Jakarta, salah satunya Condet. Walaupun dikenal dengan sebutan Kampung Arab, masyarakat Condet enggan mengakui hal tersebut. Baca juga: Sejarah Makam Keramat Habib Luar Batang, Dimakamkan di Tanah Abang Selalu Hilang dari Keranda

Karena menurut mereka, tidak hanya masyarakat keturunan Arab yang tinggal di sini. Tetapi juga ada orang China, orang Betawi asli, dan lain sebagainya. Untuk itu, mereka lebih senang menjunjung tinggi nama Kampung Betawi untuk daerah Condet.

Condet pernah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1974. Namun dalam pelaksanaan mengalami banyak hambatan, hingga status cagar budaya Condet dicabut dan dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada tahun 2004.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, BJ Habibie Ucapkan Sumpah Jabatan Presiden di Istana Merdeka
Rekomendasi
Kabar Buruk, Perusahaan...
Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
Kejari Jaksel Sebut...
Kejari Jaksel Sebut Praperadilan Roy Suryo Salah Alamat
Latihan Menembak Dihapus...
Latihan Menembak Dihapus dari Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Puan: Sebaiknya Fokus Manajerial Saja
Berita Terkini
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Sultra Diserbu Warga
BMKG Perkirakan Fenomena...
BMKG Perkirakan Fenomena El Nino Berlangsung 9-12 Bulan
Polda Metro Jaya Minta...
Polda Metro Jaya Minta Hakim Tolak Seluruh Permintaan Praperadilan Roy Suryo
Bibit Siklon Tropis...
Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Ingatkan Potensi Hujan dan Gelombang Tinggi
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
Pemerintah Perkuat Kopdes...
Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih untuk Bangun Papua
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved