Dompet Dhuafa Salurkan Daging Kurban hingga Pelosok Sulbar
Selasa, 12 Juli 2022 - 16:02 WIB
loading...
Seorang warga lanjut usia berbahagia menerima daging kurban yang disalurkan Dompet Dhuafa. Foto: Istimewa
A
A
A
MAKASSAR - Dompet Duafa melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) menyebarluaskan manfaat kurban bagi kaum duafa di momen HariRaya Idul Adha 1443 H. Daging kurban ke wilayah marginal di perkotaan hingga ke daerah pelosok.
Dompet Duafa memperoleh hewan kurban sebanyak 267 ekor dari para dermawan. Daging pun didistribusi hingga wilayah kepulauan terpencil dan wilayah pedalaman, demi memenuhi kebutuhan pangan daging warga prasejatera di Hari Raya Idul Adha.
Baca juga: Makassar Dompet Dhuafa dan Pemkab Jeneponto Luncurkan Kampung Quran 22 Oktober
Amanah kurban yang disalurkan Dompet Dhuafa telah berjalan sejak tahun 1994. Seperti halnya tahun sebelumnya, tim THK 2022 Dompet Dhuafa Sulsel melakukan pendistribusian daging kurban ke-13 kabupaten wilayah pelosok dan kepulauan di Sulsel hingga Sulbar.
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel , Rahmat Hidayat HM, mengatakan, program THK merupakan ikhtiar dari Dompet Duafa dalam menyalurkan daging kurban hingga ke pelosok yang kurang mendapatkan suplai hewan kurban.
“Tebar Hewan Kurban (THK) adalah program untuk pemerataan distribusi daging hewan kurban di pelosok dan daerah yang jarang menerima daging kurban. Ini adalah salah satu ikhtiar kita untuk turut mensejahterakan kaum dhuafa di momen Idul Adha ini,” tutur Rahmat.
Dirinya menambahkan, pada momen Idul Adha ini menjadi kesempatan bagi masyarakat baik donatur maupun penerima manfaat, untuk bersama-sama menghidangkan nikmatnya daging kurban kepada warga yang notabenenya berada di bawah garis kemiskinan.
Baca juga: Jumat Berbagi, Bebwhite C Gandeng Dompet Dhuafa Gelar Sunatan Massal
“Melalui program THK ini, DD Sulsel memaksimalkan pemerataan kurban untuk warga yang belum pernah merasakan daging kurban, juga pada warga yang alami ketahanan pangan di bawah garis kemiskinan,” paparnya.
Distribusi daging kurban ke beberapa pelosok tentu memunculkan berbagai kendala, baik dari segi transportasi maupun medan yang di lalui. Seperti halnya salah satulokasi yang menjadi titik distribusi THK, di Pulau Bangko-Bangkoang, Desa Mattiro Uleng, Liukang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkeje Kepulauan.
Walau demikian, tidak mengurangi semangat pihak Dompet Dhuafa baik dari volunteer, mitra pengelola zakat (MPZ) dan Cordofa untuk menyalurkan daging kurban ke berbagai daerah. Melihat penyaluran daging kurban dapat tersalurkan secara merata.
“Pulau terpencil ini menjadi tantangan tim Dompet Dhuafa menyalurkan kurban, melihat wilayah ini hanya dapat diakses melalui perairan, tapi tidak menyurutkan semangat tim Dompet Dhuafa menyalurkan hewan kurban dari para donatur,” tegasnya.
Baca juga: Dompet Dhuafa Bersama Yayasan Kalla dan IMZ Lakukan Pelatihan PFA di Sulbar
Selain warga di Pulau Bangko Bangkoang, kurban juga menyapa di Desa Tapango Barat, Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dalam kondisi sulit seperti saat ini dengan mayoritas warga bekerja sebagai petani, tentunya daging kurban menjadi santapan mewah bagi mereka.
Nilai lainnya dari program yang dibentuk sejak 1994 ini, yaitu penggunaaan wadah nonplastik berupa besek bambu, dedaunan sesuai dengan kearifak lokal yang ada guna bersinergi menyelamatkan lingkungan. Serta melakukan laporan kepada donator secara transparan dan real time, sehingga mendapatkan informasi kurbannya secara detail mulai dari proses penyembelihan hingga pada tahap distribusi.
Dompet Duafa memperoleh hewan kurban sebanyak 267 ekor dari para dermawan. Daging pun didistribusi hingga wilayah kepulauan terpencil dan wilayah pedalaman, demi memenuhi kebutuhan pangan daging warga prasejatera di Hari Raya Idul Adha.
Baca juga: Makassar Dompet Dhuafa dan Pemkab Jeneponto Luncurkan Kampung Quran 22 Oktober
Amanah kurban yang disalurkan Dompet Dhuafa telah berjalan sejak tahun 1994. Seperti halnya tahun sebelumnya, tim THK 2022 Dompet Dhuafa Sulsel melakukan pendistribusian daging kurban ke-13 kabupaten wilayah pelosok dan kepulauan di Sulsel hingga Sulbar.
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel , Rahmat Hidayat HM, mengatakan, program THK merupakan ikhtiar dari Dompet Duafa dalam menyalurkan daging kurban hingga ke pelosok yang kurang mendapatkan suplai hewan kurban.
“Tebar Hewan Kurban (THK) adalah program untuk pemerataan distribusi daging hewan kurban di pelosok dan daerah yang jarang menerima daging kurban. Ini adalah salah satu ikhtiar kita untuk turut mensejahterakan kaum dhuafa di momen Idul Adha ini,” tutur Rahmat.
Dirinya menambahkan, pada momen Idul Adha ini menjadi kesempatan bagi masyarakat baik donatur maupun penerima manfaat, untuk bersama-sama menghidangkan nikmatnya daging kurban kepada warga yang notabenenya berada di bawah garis kemiskinan.
Baca juga: Jumat Berbagi, Bebwhite C Gandeng Dompet Dhuafa Gelar Sunatan Massal
“Melalui program THK ini, DD Sulsel memaksimalkan pemerataan kurban untuk warga yang belum pernah merasakan daging kurban, juga pada warga yang alami ketahanan pangan di bawah garis kemiskinan,” paparnya.
Distribusi daging kurban ke beberapa pelosok tentu memunculkan berbagai kendala, baik dari segi transportasi maupun medan yang di lalui. Seperti halnya salah satulokasi yang menjadi titik distribusi THK, di Pulau Bangko-Bangkoang, Desa Mattiro Uleng, Liukang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkeje Kepulauan.
Walau demikian, tidak mengurangi semangat pihak Dompet Dhuafa baik dari volunteer, mitra pengelola zakat (MPZ) dan Cordofa untuk menyalurkan daging kurban ke berbagai daerah. Melihat penyaluran daging kurban dapat tersalurkan secara merata.
“Pulau terpencil ini menjadi tantangan tim Dompet Dhuafa menyalurkan kurban, melihat wilayah ini hanya dapat diakses melalui perairan, tapi tidak menyurutkan semangat tim Dompet Dhuafa menyalurkan hewan kurban dari para donatur,” tegasnya.
Baca juga: Dompet Dhuafa Bersama Yayasan Kalla dan IMZ Lakukan Pelatihan PFA di Sulbar
Selain warga di Pulau Bangko Bangkoang, kurban juga menyapa di Desa Tapango Barat, Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dalam kondisi sulit seperti saat ini dengan mayoritas warga bekerja sebagai petani, tentunya daging kurban menjadi santapan mewah bagi mereka.
Nilai lainnya dari program yang dibentuk sejak 1994 ini, yaitu penggunaaan wadah nonplastik berupa besek bambu, dedaunan sesuai dengan kearifak lokal yang ada guna bersinergi menyelamatkan lingkungan. Serta melakukan laporan kepada donator secara transparan dan real time, sehingga mendapatkan informasi kurbannya secara detail mulai dari proses penyembelihan hingga pada tahap distribusi.
(luq)
Lihat Juga :