Kisah Ra Kuti, Dharmaputra Pengusir Raja Majapahit yang Mati sebagai Pemberontak

Jum'at, 10 Juni 2022 - 05:30 WIB
loading...
Kisah Ra Kuti, Dharmaputra Pengusir Raja Majapahit yang Mati sebagai Pemberontak
Kisah pemberontakan Ra Kuti seorang anggota Dharmaputra yang berhasil mengusir Raja Majapahit dari kerajaan dan mati sebagai pemberontak. Foto: Okezone
A A A
RADEN WIJAYA raja pertama Kerajaan Majapahit membentuk Dharmaputra yang beranggotakan tujuh orang pilihan yakni Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. para Dharmaputra ini disebut sebagai pegawai istimewa yang disayangi raja.

Sayang, ketujuh orang ini berakhir tragis, semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan raja kedua, yaitu Prabu Jayanegara.

Di antara sejumlah Dharmaputra, Ra Kuti terlihat paling unggul. Ra Kuti selalu berusaha untuk mendapatkan kepercayaan raja serta selalu berusaha dekat dengan Raja. Ternyata, Ra Kuti punya misi khusus.

Dia sangat ingin membunuh Raja Majapahit karena telah menjadi penyebab meninggalnya sang istri dan merusak rumah tangganya. Untuk memuluskan niatnya, Ra Kuti membentuk barisan bawah tanah guna membunuh Sang Prabu Jayanegara. Hal itu dikatakan Dr Purwadi dalam buku, ‘Sejarah Raja-Raja Jawa’ .

Baca juga: Kisah Balaputradewa, Cucu Raja Jawa yang Penguasa Takhta Kerajaan Sriwijaya

Di satu malam pada tahun 1319, Ra Kuti dan teman-temannya mulai melancarkan aksinya, memaksa masuk Istana. Para senopati perang yang sedang tidur pulas banyak yang menjadi korban keganasan pedang Ra Kuti dan teman-temannya. Tetapi, niat Ra Kuti membunuh Jayanegara tidak kesampaian.

Sebab, Jayanegara yang sedang tidur pulas diangkat dan dibawa lari mengungsi oleh Gajah Mada. Kala itu, Gajah Mada yang menjadi komandan pasukan khusus Bhayangkara, dikisahkan didukung 15 prajurit pengawal raja yang masih setia. Pasukan Bhayangkara merupakan penjaga keamanan raja yang terdiri dari orang-orang sakti dan setia yang terpilih.

Anggota Bhayangkara dipilih melalui seleksi ketat. Jayanegara dibawa ke Desa Bedander. Singkat cerita, di tempat persembunyian, tepatnya di rumah Buyut Bedander, seorang pengalasan atau pesuruh meminta pamit hendak ke Majapahit. Karena curiga orang tersebut adalah antek Ra Kuti, Gajah Mada membunuh orang tersebut. Bagi Gajah Mada, keamanan persembunyian Prabu Jayanegara harus dijaga serapi dan serapat mungkin.

Pada hari kelima, Gajah Mada meminta izin kepada Prabu Jayanegara untuk memantau perkembangan Ibu Kota Majapahit. Setiba di Majapahit, Gajah Mada menemui para menteri dan prajurit. Para menteri dan prajurit bertanya tentang keselamatan Prabu Jayanegara.

Awalnya, Gajah Mada berbohong. Dia mengatakan Sang Prabu Jayanegara telah tewas dibunuh kawan-kawan Ra Kuti. Mendengar hal itu, para menteri dan prajurit terlihat sangat berduka cita. Melihat reaksi para menteri dan prajurit, Gajah Mada merasakan ada darah kesetiaan yang mengalir pada para menteri tersebut. Karena itu, Gajah Mada menceritakan hal sebenarnya bahwa Sang Prabu Jayanegara masih sehat dan segar bugar.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1869 seconds (10.55#12.26)