Kisah Emmy Saelan, Perawat Cantik yang Mengemban Tugas Spionase saat Perang Kemerdekaan
Selasa, 10 Mei 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Namun, karena dia memiliki pengalaman unik, yaitu pernah bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Marris, ia dipercayakan menjadi mata-mata. Tugasnya mencari informasi mengenai kekuatan lawan dalam hal ini KNIL/NICA di Makassar.
Dalam menjalankan misi sebagai mata-mata tersebut, Emmy didampingi oleh Sangkala Tinggi. Mereka kemudian berangkat menuju kota. Namun demikian, sebelum menyusup ke kota, mereka harus bersembunyi di pinggiran kota sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyusup ke dalam kota.
Sudah dua hari mereka menunggu, namun belum juga menemukan momen yang tepat untuk menyusup. Karena situasi belum memungkinkan untuk menyusup, Sangkala memutuskan kembali ke markas Lapris di Takalar. Sedangkan Emmy memutuskan tetap berada di lokasi pemantauan di pinggir kota sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyusup.
Sangkala, dalam laporannya kepada komandan Lapris, menyampaikan bahwa rencana penyusupan untuk tugas spionase belum berhasil. Sangkala juga melaporkan bahwa dalam perjalanan pulang ke markas, dirinya berpapasan dengan iring-iringan pasukan dari Lapris.
Atas laporan itu, Ranggong memerintahkan Sangkala Tinggi dan seorang pemuda lainnya bernama Sonrong agar menyusul pasukan tersebut. Dikisahkan bahwa pasukan tersebut ternyata telah berada di pinggiran kota dan bergabung dengan Emmy yang berada di lokasi pemantauan, sebelum Sangkala dan Sonrong tiba.
Pasukan Lapris akhirnya tercium oleh pasukan musuh yaitu KNIL/NICA. Kontak senjata kemudian tidak bisa dihindari. Dalam catatan sejarah, peristiwa kontak tembak antara pasukan KNIL dan Lapris terjadi pada 20 Januari 1947. Emmy yang juga bergabung dengan Lapris kala itu terdesak hingga ke daerah Tidung.
Dalam menjalankan misi sebagai mata-mata tersebut, Emmy didampingi oleh Sangkala Tinggi. Mereka kemudian berangkat menuju kota. Namun demikian, sebelum menyusup ke kota, mereka harus bersembunyi di pinggiran kota sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyusup ke dalam kota.
Sudah dua hari mereka menunggu, namun belum juga menemukan momen yang tepat untuk menyusup. Karena situasi belum memungkinkan untuk menyusup, Sangkala memutuskan kembali ke markas Lapris di Takalar. Sedangkan Emmy memutuskan tetap berada di lokasi pemantauan di pinggir kota sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyusup.
Sangkala, dalam laporannya kepada komandan Lapris, menyampaikan bahwa rencana penyusupan untuk tugas spionase belum berhasil. Sangkala juga melaporkan bahwa dalam perjalanan pulang ke markas, dirinya berpapasan dengan iring-iringan pasukan dari Lapris.
Atas laporan itu, Ranggong memerintahkan Sangkala Tinggi dan seorang pemuda lainnya bernama Sonrong agar menyusul pasukan tersebut. Dikisahkan bahwa pasukan tersebut ternyata telah berada di pinggiran kota dan bergabung dengan Emmy yang berada di lokasi pemantauan, sebelum Sangkala dan Sonrong tiba.
Pasukan Lapris akhirnya tercium oleh pasukan musuh yaitu KNIL/NICA. Kontak senjata kemudian tidak bisa dihindari. Dalam catatan sejarah, peristiwa kontak tembak antara pasukan KNIL dan Lapris terjadi pada 20 Januari 1947. Emmy yang juga bergabung dengan Lapris kala itu terdesak hingga ke daerah Tidung.
Lihat Juga :