Tim Bioetika FK UMI Presentasi di World Conference Bioethics Portugal
Senin, 14 Maret 2022 - 17:32 WIB
loading...
Tim Bioetika FK UMI di 14th World Conference on Bioethics, Medical Ethics and Health Law di Porto, Portugal. Foto: Istimewa
A
A
A
MAKASSAR - Tim Bioetika Fakultas Kesehatan (FK) UMI mengikuti 14th World Conference on Bioethics, Medical Ethics and Health Law di Porto, Portugal pada 7 sampai 10 Maret 2022.
Tim Bioetika FK UMI terdiri atas empat orang. Mereka yakni Prof dr Syarifuddin Wahid, SpPA(K), SpF, PhD. Dr dr Nasrudin AM, SpOG(K), MARS, M.Sc. Kemudian dr Erlin Syahril, SpRad(K)-TR. Terakhir dr Muhammad Mursyid, MSc.
Baca juga: Rektor UMI Terpilih sebagai Ketua Aptisi Wilayah IX-A Sulawesi
Tim Bioetika FK UMI memaparkan 2 laporan kasus dilema etik. Pertama, kasus kehamilan dengan karsinoma colon yang ditinjau dari aspek medis dan etik yang dilaporkan melalui presentasi poster. Kedua, laporan kasus tentang kehamilan dengan HELLP Syndrome dan Eklampsia yang ditinjau dari aspek medis dan etik-profesionalisme.
Hadir juga dalam konferensi ini, beberapa perwakilan dari berbagai negara.
Kegiatan tersebut dimulai dengan opening ceremony oleh Chair Bioethics, dilanjutkan dengan konferensi, simposium, presentasi oral dan presentasi poster dengan total jumlah kurang lebih 700 makalah ilmiah.
Baca juga:Dapat Dukungan Pimpinan PTS, Rektor UMI Siap Maju sebagai Ketua Aptisi
"Tentu momen kegiatan konferensi sangat strategis bahwa Tim Bioetika, Humaniora dan Profesionalisme FK UMI bisa melakukan share pengalaman dan bagaimana menganalisis masalah-masalah etik dari berbagai aspek, khususnya dari aspek etika kedokteran dari berbagai negara," bunyi siaran pers yang diterim SINDOnews dari UMI .
"Harapan kita bahwa, ilmu bioetika sifatnya sangat general untuk seluruh disiplin ilmu kedokteran dan diharapkan ke depannya menjadi salah satu bagian dalam mengawal pendidikan kedokteran dan pengambilan keputusan kedokteran yang lebih baik ke depannya," sambung siaran pers tersebut.
Baca juga:UMI Lepas Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka
Dijelaskan, bahwa pendidikan tidak hanya menempatkan kompetensi pengetahuan kedokteran saja, namun juga bagaimana kompetensi, pengetahuan dan keterampilan etika yang baik dalam pelayanan kedokteran di rumah sakit, praktik, dan di mana saja.
"Kita tidak bisa hanya melihat permasalahan hanya dari aspek medis saja, tetapi juga melihat dari aspek bioetika, humaniora dan profesionalisme bahkan juga kita harus melihat dari aspek spiritual dan nilai-nilai agama," bunyi siaran pers tersebut.
Tim Bioetika FK UMI terdiri atas empat orang. Mereka yakni Prof dr Syarifuddin Wahid, SpPA(K), SpF, PhD. Dr dr Nasrudin AM, SpOG(K), MARS, M.Sc. Kemudian dr Erlin Syahril, SpRad(K)-TR. Terakhir dr Muhammad Mursyid, MSc.
Baca juga: Rektor UMI Terpilih sebagai Ketua Aptisi Wilayah IX-A Sulawesi
Tim Bioetika FK UMI memaparkan 2 laporan kasus dilema etik. Pertama, kasus kehamilan dengan karsinoma colon yang ditinjau dari aspek medis dan etik yang dilaporkan melalui presentasi poster. Kedua, laporan kasus tentang kehamilan dengan HELLP Syndrome dan Eklampsia yang ditinjau dari aspek medis dan etik-profesionalisme.
Hadir juga dalam konferensi ini, beberapa perwakilan dari berbagai negara.
Kegiatan tersebut dimulai dengan opening ceremony oleh Chair Bioethics, dilanjutkan dengan konferensi, simposium, presentasi oral dan presentasi poster dengan total jumlah kurang lebih 700 makalah ilmiah.
Baca juga:Dapat Dukungan Pimpinan PTS, Rektor UMI Siap Maju sebagai Ketua Aptisi
"Tentu momen kegiatan konferensi sangat strategis bahwa Tim Bioetika, Humaniora dan Profesionalisme FK UMI bisa melakukan share pengalaman dan bagaimana menganalisis masalah-masalah etik dari berbagai aspek, khususnya dari aspek etika kedokteran dari berbagai negara," bunyi siaran pers yang diterim SINDOnews dari UMI .
"Harapan kita bahwa, ilmu bioetika sifatnya sangat general untuk seluruh disiplin ilmu kedokteran dan diharapkan ke depannya menjadi salah satu bagian dalam mengawal pendidikan kedokteran dan pengambilan keputusan kedokteran yang lebih baik ke depannya," sambung siaran pers tersebut.
Baca juga:UMI Lepas Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka
Dijelaskan, bahwa pendidikan tidak hanya menempatkan kompetensi pengetahuan kedokteran saja, namun juga bagaimana kompetensi, pengetahuan dan keterampilan etika yang baik dalam pelayanan kedokteran di rumah sakit, praktik, dan di mana saja.
"Kita tidak bisa hanya melihat permasalahan hanya dari aspek medis saja, tetapi juga melihat dari aspek bioetika, humaniora dan profesionalisme bahkan juga kita harus melihat dari aspek spiritual dan nilai-nilai agama," bunyi siaran pers tersebut.
(luq)
Lihat Juga :