Kisah Kasih Ibunda Ontrowulan Rebahkan Raga di Atas Makam Putranya Pangeran Samudro
Selasa, 01 Februari 2022 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Setelah tamat berguru Pangeran Samudro dan dua abdi setianya kembali ke Demak. Dikisahkan bahwa mereka berjalan ke arah barat dan sampailah mereka di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong) dan beristirahat sejenak di situ. Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak yang bernama Kyai Kamaliman. Di dukuh ini, mereka menyebarkan agama Islam.
Setelah cukup lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat inilah sang kyai muda terserang sakit. Dalam kondisi sakit panas, perjalanan tetap dilanjutkan sampai ke Dukuh Doyong, sekarang wilayah Kecamatan Miri. Karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut. Baca juga: Atta dan Citra Terancam Bercerai, Sementara Perusahaan Pangeran Bangkrut
Rupanya Pangeran Samudro sudahtak berdaya dengan sakit demam yang dialaminya. Ia pun memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Namun, saat abdinya masih di Demak, Samudro sudah meninggal. Sesuai petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut. Tempat pemakamannya kemudian diberi nama Dukuh Samudro yang sampai kini terkenal dengan nama Dukuh Mudro.
Dikisahkan pula bahwa berita tentang meninggalnya Pangeran Samudro, disampaikan juga oleh Sultan Demak kepada ibu pangeran, R.Ay. Ontrowulan. Betapa kagetnya sang ibu mendengar kabar itu. Ibunda Ontrowulan memutuskan untuk menyusul ke tempat Pangeran Samudro dimakamkan, ditemani oleh abdi Pangeran Samudro yang setia.
Sesampainya di makam putranya, ibunda pangeran langsung merebahkan badannya sambil merangkul pusara putra satu-satunya yang amat dicintainya. Begitu besar kasihnya terhadap Pangeran Samudro, ibunda Ontrowulan tidak mau pulang. Ia berniat merawat makam putranya tersebut. Kerinduan untuk menjumpai dan memeluk putranya makin lama makin tak tertahan.
Hingga suatu ketika, terjadilah pertemuan dan dialog secara gaib dengan putranya. “Oh Ananda begitu sampai hati meninggalkan aku dan siapa lagi yang kutunjuk sebagai gantimu, hanya engkau satu-satunya putraku dan aku tidak dapat berpisah denganmu”.
Dijawab, Pangeran Samudro, “Oh Ibunda, Bunda tentu tidak dapat berkumpul dengan ananda sebab Ibunda masih berbadan jasmani dan selama belum melepas raga, untuk itu harus bersuci terlebih dahulu di sebuah “sendang” yang letaknya tidak jauh dari tempat ini”.
Setelah sadar dari percakapan gaib itu, Ontrowulan bangkit dan pergi ke sendang yang dikatakan putranya untuk menyucukan diri. Konon, setelah dia menyucikan diri, raganya lenyap. Diyakini, cintanya dan kerinduan yang begitu besar, mengantar sukmanya untuk bertemu putranya.
Setelah cukup lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang yang sekarang dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat inilah sang kyai muda terserang sakit. Dalam kondisi sakit panas, perjalanan tetap dilanjutkan sampai ke Dukuh Doyong, sekarang wilayah Kecamatan Miri. Karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut. Baca juga: Atta dan Citra Terancam Bercerai, Sementara Perusahaan Pangeran Bangkrut
Rupanya Pangeran Samudro sudahtak berdaya dengan sakit demam yang dialaminya. Ia pun memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Namun, saat abdinya masih di Demak, Samudro sudah meninggal. Sesuai petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut. Tempat pemakamannya kemudian diberi nama Dukuh Samudro yang sampai kini terkenal dengan nama Dukuh Mudro.
Dikisahkan pula bahwa berita tentang meninggalnya Pangeran Samudro, disampaikan juga oleh Sultan Demak kepada ibu pangeran, R.Ay. Ontrowulan. Betapa kagetnya sang ibu mendengar kabar itu. Ibunda Ontrowulan memutuskan untuk menyusul ke tempat Pangeran Samudro dimakamkan, ditemani oleh abdi Pangeran Samudro yang setia.
Sesampainya di makam putranya, ibunda pangeran langsung merebahkan badannya sambil merangkul pusara putra satu-satunya yang amat dicintainya. Begitu besar kasihnya terhadap Pangeran Samudro, ibunda Ontrowulan tidak mau pulang. Ia berniat merawat makam putranya tersebut. Kerinduan untuk menjumpai dan memeluk putranya makin lama makin tak tertahan.
Hingga suatu ketika, terjadilah pertemuan dan dialog secara gaib dengan putranya. “Oh Ananda begitu sampai hati meninggalkan aku dan siapa lagi yang kutunjuk sebagai gantimu, hanya engkau satu-satunya putraku dan aku tidak dapat berpisah denganmu”.
Dijawab, Pangeran Samudro, “Oh Ibunda, Bunda tentu tidak dapat berkumpul dengan ananda sebab Ibunda masih berbadan jasmani dan selama belum melepas raga, untuk itu harus bersuci terlebih dahulu di sebuah “sendang” yang letaknya tidak jauh dari tempat ini”.
Setelah sadar dari percakapan gaib itu, Ontrowulan bangkit dan pergi ke sendang yang dikatakan putranya untuk menyucukan diri. Konon, setelah dia menyucikan diri, raganya lenyap. Diyakini, cintanya dan kerinduan yang begitu besar, mengantar sukmanya untuk bertemu putranya.
Lihat Juga :