alexametrics

Gunung Brintik, Kisah Wanita Sakti dan Asal Usul Kota Semarang

loading...
Gunung Brintik, Kisah Wanita Sakti dan Asal Usul Kota Semarang
Kawasan Kampung Pelangi yang berdiri di Gunung Brintik atau kini disebut sebagai Bergota di Semarang. FOTO/helosemarang
A+ A-
“Kampung Pelangi” ya siapa tidak kenal dengan kampung yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah ini. Kampung yang berada di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan ini, beberapa tahun yang lalu sempat viral di media sosial.

Bahkan, kampung itu kini menjadi salah satu tujuan wisata di Semarang. Kampung ini dibangun di perbukitan atau yang dikenal dengan bukit Pergota (kini disebut Bergota). Ada juga yang menyebutnya dengan sebutan “Gunung Brintik”. Kampung Pelangi awalnya adalah perkampungan kumuh dan padat penduduk.
Gunung Brintik, Kisah Wanita Sakti dan Asal Usul Kota Semarang


Ini tidak mengherankan mengingat sejarah panjang kampung ini terbentuk. Mulanya, kampung ini adalah perkampungan nelayan di pesisir pantai Semarang. Ya, dahulu kala, Gunung Brintik atau Pergota berada tepat di pesisir pantai Semarang. Bahkan, ada yang menyebut bahwa Gunung Brintik ini bagian dari pelabuhan Semarang di masa lampau. Ini dibuktikan dengan adanya penemuan tambatan tali kapal nelayan di salah satu sudut bukit itu. Ada yang menyebut tambatan tali itu milik Laksamana Cheng Ho saat bersandar di pantai Semarang sebelum masuk ke Kota Semarang dan mendirikan Masjid Cheng Ho (kini menjadi kompleks Klenteng Sam Pho Khong).



Nama Brintik sendiri diambil dari sosok wanita yang pernah tinggal di gunung itu. Wanita yang bernama asli Dowo Rinjani itu, konon memiliki postur tubuh kecil dengan rambut keriting (brintik). Wanita ini dipercaya sebagai salah satu bangsawan dari Kerajaan (Kasultanan) Demak yang sengaja mengasingkan diri. Menurut cerita penduduk sekitar, wanita yang disebut Nyai Brintik ini memiliki ilmu kanuragan yang sakti mandraguna.

Bahkan, saking saktinya, tidak ada satu pun prajurit Sultan Demak yang berhasil meringkusnya, saat Nyai Brintik mencuri beberapa pusaka kerajaan. Puluhan prajurit yang dikirim sultan saat itu harus pulang dengan tangan hampa. Hanya ada satu orang yang mampu menaklukannya. Yakni Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga saat itu diminta Sultan Demak untuk mengambil kembali pusaka yang dicuri itu. Sang Nyai Brintik pun harus takluk di tangan Sunan Kalijaga dan akhirnya memilih masuk Islam dan menjadi murid Sunan Kalijaga.

Namun, karena sudah terlanjur malu atas perbuatannya, maka Nyai Brintik memilih mengasingkan diri dan tinggal di Gunung Brintik sampai akhir hayatnya. Makam Nyai Brintik dapat ditemukan di samping . Mushala Gunung Brintik. Tepatnya di RT 07, RW 03, Kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Makam Nyai Brintik terpisah dari pemakaman umum warga.

Gunung Brintik, Kisah Wanita Sakti dan Asal Usul Kota Semarang


Selain berada di sebelah mushala, makam dikelilingi oleh sebuah bangunan yang dijaga oleh juru kuncinya. Sehingga untuk masuk ke dalam harus seiizin juru kunci atau penjaga makam. Nampak di dalam bangunan tersebut ada satu ruangan lagi di mana makam itu berada. Makam itu sekilas seperti biasanya makam, namun makam Nyai Brintik di atas pusaranya ditutupi kain jarik berwarna cokelat gelap.

Di samping makam terdapat benda-benda yang diperkirakan peninggalannya seperti payung kain khas zaman kerajaan, guci, dan kursi. Serta dua wadah untuk menaruh hio sebagai sarana ritual untuk berdoa para peziarah yang datang.
“Biasanya hari-hari tertentu banyak yang ziarah, seperti malam Suro kemarin dan bulan lainnya. Mereka datang untuk berdoa dan minta sesuai keinginannya masing-masing. Dan yang datang tidak hanya dari Kota Semarang tapi juga ada dari luar daerah, seperti Jakarta, Bandung dan bahkan dari Sumatera,” kata Ari, salah satu warga.

Selain itu, di Gunung Brintik tersebut juga ada jejak makam tokoh ulama penyebar agama Islam, Mbah Sholeh Darat. Sholeh Darat atau Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani adalah ulama besar di tanah Jawa yang dikenal sebagai pendiri pendidikan pesantren pertama kali. Mbah Sholeh merupakan guru dua tokoh besar KH Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Gunung Brintik juga tidak lepas dari asal muasal Kota Semarang. Dari sinilah cikal bakal kota dengan sebutan Atlas ini berdiri. Pada abad ke-15 Masehi, seorang pangeran dari Kerajaan Demak yang bernama Pangeran Made Pandan. Raden Made Pandan memiliki seorang anak bernama Raden Pandanarang. Raden Made Pandan lebih dikenal sebagai seorang ulama ketimbang bangsawan.

Karena kecintaannya kepada Islam, Raden Made Pandan dan putranya Raden Pandanarang beserta pengikutnya memilih meninggalkan Kerajaan Demak dan pergi ke arah barat menuju Gunung Brintik. Di sinilah Raden Made Pandan kemudian menyebarkan agama Islam. Seiring berjalannya waktu, kawasan Gunung Brintik atau Pergota semakin subur dengan banyaknya tanaman yang tumbuh lebat.

Namun, disela-sela kesuburan berbagai tanaman, ditemukan hal aneh. Yakni muncul pohon asam yang cukup banyak namun dengan jarak yang jarang. Raden Made Pandan pun kemudian menyebut daerah ini sebagai Semarang (berdasarkan temuan pohon asam dengan jarak jarang atau asemjarang dan disingkat Semarang). Raden Made Pandan pun kemudian diberi gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Dan setelah beliau wafat digantikan oleh putranya yang kemudian bergelar Kyai Ageng Pandan Arang II.

Di bawah kepimpinan bapak dan anak itu, Semarang semakin makmur. Sehingga membuat Sultan Hadiwijaya dari Pajang merasa tertarik. Beliau kemudian berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga untuk menjadikan Semarang sebagai kabupaten. Hingga akhirnya, 12 Rabiul Awal 954 Hijriah, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, Semarang resmi menjadi kabupaten. Hingga kini, tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari jadi Kota Semarang.

Semarang melewati sejarah yang sangat panjang. Pernah jatuh kepada VOC sebagai ganti dari hutang yang dilakukan oleh Amangkurat II. Bahkan, Belanda pernah membentuk pemerintahan Gemeente di Semarang yang dikepalai oleh Burge Meester atau wali kota. Namun, sistem pemerintahan tersebut hanya singkat dan digantikan oleh Jepang.

Semarang pernah jatuh ke tangan Inggris dan pada tahun 1946 atas nama sekutu, Semarang diserahkan kepada Belanda. Selanjutnya terjadi perjuangan yang panjang. Hingga akhirnya tanggal 1 April 1950, Mayor Suhardi, Komandan KMKB menyerahkan kepemimpinan Semarang kepada Mr Koesoedibyono. Selanjutnya aparatur pemerintahan kembali disusun untuk memperbaiki pemerintahan Semarang. sumber dan foto: halosemarang/diolah dari berbagai sumber
(nbs)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak