Profile Malahayati, Keturunan Sultan yang Diabadikan sebagai Nama Jalan di Jakarta
Selasa, 23 November 2021 - 19:08 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1585-1604, Malayati memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) untuk berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada 11 September 1599.
Dalam penyerangan itu, terjadi duel satu lawan satu antara Malahayati dengan pemimpin Belanda Cornelis de Houtman. Malahayati yang bersenjatakan rencong dengan gagah berani melawan Cornelis de Houtman yang bersenjatakan pedang.
Keberanian dan kepiawaian Malahayati menggunakan senjata rencong membuat Cornelis kelabakan hingga akhirnya tewas di tangan Malahayati. Dia pun mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Laksamana Malahayati dikenal juga dengan nama Keumalahayati.
Perjuangan Malahayati melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran di Teluk Haru. Armada laut Kesultanan Aceh melawan armada Portugis. Pada pertempuran itu, Laksamana Zainal Abidin, suami Malahayati, gugur. Setelah ditinggal wafat oleh suaminya, Malahayati mengusulkan kepada Sultan Aceh untuk membentuk pasukan yang terdiri dari janda prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan.
Permintaan itu dikabulkan. Ia diangkat sebagai pemimpin pasukan Inong Balee dengan pangkat laksamana. Malahayati adalah perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat ini.
Dalam penyerangan itu, terjadi duel satu lawan satu antara Malahayati dengan pemimpin Belanda Cornelis de Houtman. Malahayati yang bersenjatakan rencong dengan gagah berani melawan Cornelis de Houtman yang bersenjatakan pedang.
Keberanian dan kepiawaian Malahayati menggunakan senjata rencong membuat Cornelis kelabakan hingga akhirnya tewas di tangan Malahayati. Dia pun mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Laksamana Malahayati dikenal juga dengan nama Keumalahayati.
Perjuangan Malahayati melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran di Teluk Haru. Armada laut Kesultanan Aceh melawan armada Portugis. Pada pertempuran itu, Laksamana Zainal Abidin, suami Malahayati, gugur. Setelah ditinggal wafat oleh suaminya, Malahayati mengusulkan kepada Sultan Aceh untuk membentuk pasukan yang terdiri dari janda prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan.
Permintaan itu dikabulkan. Ia diangkat sebagai pemimpin pasukan Inong Balee dengan pangkat laksamana. Malahayati adalah perempuan Aceh pertama yang menyandang pangkat ini.
Lihat Juga :