Pengurus Muhammadiyah Grand Wisata Santuni Fakir Miskin dan Bangun Toko Kita
Minggu, 14 November 2021 - 12:37 WIB
loading...
Pengurus Muhammadiyah Ranting Grand Wisata (PMR-GW) mendirikan usaha ritel toko serba ada bernama Toko Kita. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Pada Oktober 2021, Pengurus Muhammadiyah Ranting Grand Wisata (PMR-GW) baru dibentuk. Satu bulan kemudian, dua kegiatan rutin telah dilaksanakan yakni santunan fakir miskin melalui LAZISMU dan berdirinya usaha ritel toko serba ada bernama Toko Kita.
Toko Kita dikembangkan secara profesional dengan memerhatikan kualitas dan kelengkapan komoditas serta harga bersaing. Pasar yang dibidik adalah segala lapisan masyarakat umum. Bukan hanya warga muslim saja. Jaringan pasarnya inklusif bukan eksklusif. Jangkauannya luas sehingga diharapkan cepat berkembang dan mempunyai beberapa cabang.
Baca juga: Lazismu dan MPS Luncurkan Rumah Singgah Pasien Muhammadiyah
Profit dari Toko Kita adalah hasil bersih penjualan setelah dikurangi biaya operasional. Sebanyak 50 persen dibagi ke investor, para saudagar Muhammadiyah yang mukhlis. 50 persennya lagi dipakai untuk membiayai kegiatan PMR-GW dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui bisnis-bisnis ritel lainnya. Hal ini merupakan langkah kecil menuju kemandirian di bidang ekonomi seperti yang diamanatkan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar.
PMR-GW belum membahas secara detail bentuk pemberdayaan itu. Apakah hanya pemindahan modal tanpa bagi hasil atau pemindahan modal plus supervisi bisnis. Tetapi yang pasti peminjam adalah pedagang kecil yang membutuhkan kapital dengan jenis usaha yang dinilai prospek ke depan. Bukan asal pedagang kecil. Yang pasti juga peminjam adalah warga Muhammadiyah atau yang bersedia menjadi anggota Muhammadiyah.
Toko Kita dikembangkan secara profesional dengan memerhatikan kualitas dan kelengkapan komoditas serta harga bersaing. Pasar yang dibidik adalah segala lapisan masyarakat umum. Bukan hanya warga muslim saja. Jaringan pasarnya inklusif bukan eksklusif. Jangkauannya luas sehingga diharapkan cepat berkembang dan mempunyai beberapa cabang.
Baca juga: Lazismu dan MPS Luncurkan Rumah Singgah Pasien Muhammadiyah
Profit dari Toko Kita adalah hasil bersih penjualan setelah dikurangi biaya operasional. Sebanyak 50 persen dibagi ke investor, para saudagar Muhammadiyah yang mukhlis. 50 persennya lagi dipakai untuk membiayai kegiatan PMR-GW dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui bisnis-bisnis ritel lainnya. Hal ini merupakan langkah kecil menuju kemandirian di bidang ekonomi seperti yang diamanatkan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar.
PMR-GW belum membahas secara detail bentuk pemberdayaan itu. Apakah hanya pemindahan modal tanpa bagi hasil atau pemindahan modal plus supervisi bisnis. Tetapi yang pasti peminjam adalah pedagang kecil yang membutuhkan kapital dengan jenis usaha yang dinilai prospek ke depan. Bukan asal pedagang kecil. Yang pasti juga peminjam adalah warga Muhammadiyah atau yang bersedia menjadi anggota Muhammadiyah.
Lihat Juga :