Diabadikan Nama Jalan di Bogor, Berikut 5 Fakta tentang Tirto Adhi Soerjo

Rabu, 10 November 2021 - 15:51 WIB
loading...
A A A
1. Bangkitkan pergerakan kaum terdidik di Indonesia.
Tirto dianggap sebagai orang yang paling berjasa atas bangkitnya pergerakan kaum terdidik di Indonesia. Meskipun lahir di Blora, Jawa Tangah, namun Tirto lebih lama tinggal di wilayah Bandung, Jawa Barat. sejak usia muda ia rajin mengirimkan tulisan-tulisannya ke sejumlah surat kabar, baik dalam bahasa Belanda maupun Jawa.

Di Bandung Tirto mendirikan 3 surat kabar, yakni Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Poetri Hindia (1908). Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama yang terbit. Medan Prijaji saat itu digemari masyarakat karena menyediakan penyuluhan hukum gratis.

2. Mendirikan Sarikat Priyayi dan Sarikat Dagang Islam.
Pada tahun 1906 atau dua tahun sebelum perkumpulan Budi Utomo lahir, Tirto sudah mendirikan organisasi pribumi bercorak modern pertama dengan nama Sarikat Priyayi. Organisasi ini yang kemudian cikal bakal melahirkan surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907. Tirto kemudian mendirikan Sarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1911 di Bogor. Sarekat Dagang Islam selanjutnya berubah nama menjadi Sarekat Islam setelah H.O.S Tjokroaminoto masuk dalam organisasi atas ajakan H Samanhudi.

3. Perintis perjuangan nasional modern.
Dalam buku Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, karya Takashi Shiraishi, disebutkan Tirto merupakan putra pribumi pertama yang menggerakkan bangsa melalui tulisan. Tirto dikenal memiliki kepiawaian dan ketajaman pikiran dalam setiap tulisannya. Takeshi menyebut Titro sebagai perintis model perjuangan nasional modern, yakni lewat tulisan di koran dan organisasi.

4. Corong suara rakyat lawan kolonialisme.
Tirto benar-benar memanfaatkan media yang ia terbitkan sebagai corong suara rakyat melawan kolonialisme. Titro tak gentar dengan risiko atas tulisannya, mulai dari dibuang, diasingkan, hingga dimiskinkan. Bahkan, meskipun sebagai "pemilik media" namun wafatnya tanpa pemberitaan besar.

Dalam buku 'Pers Pergerakan dan Kebangsaan' yang ditulis Iswara Noor Raditya Akbar, disebutkan kritik-ktritik Tirto melalui tulisan pemberitaan benar-benar membuat gerah pejabat kolonial Belanda saat itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pendaftaran SPMB SD...
Pendaftaran SPMB SD Kota Bogor 2026 Mulai 8 Juni, Ini Syarat dan Cara Seleksinya
Bahlil Soal Masih Ada...
Bahlil Soal Masih Ada Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto: Mudah-mudahan Mereka Bisa Ikhlaskan
Rahmah El Yunusiyyah...
Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional
Rekomendasi
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
Kapolri Mutasi Kapolda...
Kapolri Mutasi Kapolda dan Wakapolda pada Akhir Juni 2026, Ini Daftarnya
Berita Terkini
Gelar Nikah Massal,...
Gelar Nikah Massal, PGN Bantu Masyarakat Peroleh Kepastian Hukum Pernikahan
Aksi Mahasiswa Bagian...
Aksi Mahasiswa Bagian dari Kontrol Jalannya Pemerintahan
Tuntaskan Jaringan 8,1...
Tuntaskan Jaringan 8,1 Km, Kapal Perang TNI AL Angkut 100 Ton Pipa Air Bersih YTBN Menuju Adonara
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Sejak 2023, Kabel Udara...
Sejak 2023, Kabel Udara Sepanjang 11 Kilometer di Jakarta Barat Direlokasi
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved