Terima Program Bedah Rumah, Kakek-Nenek di Tangsel Malah Terlilit Utang
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 01:04 WIB
loading...
Pasangan kakek-nenek, Yanto (65) dan Saoni (63) pusing bukan kepalang, lantaran harus berutang sana-sini guna membayar berbagai kebutuhan tempat tinggalnya di Pondok Cabe Ilir, RT03 RW09, Pamulang, Tangsel. Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Pasangan kakek-nenek, Yanto (65) dan Saoni (63) pusing bukan kepalang, lantaran harus berutang sana-sini guna membayar berbagai kebutuhan tempat tinggalnya di Pondok Cabe Ilir, RT03 RW09, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) .
Keduanya merupakan penerima manfaat dari program Rumah Umum Tidak Layak Huni (RUTLH). Tempat tinggal mereka pun dibongkar dan dibedah agar menjadi layak huni. Selama proses berjalan, kakek Yanto dan keluarganya harus sewa kontrakan sementara. Baca juga: Percepat PTM, LKNU Tangsel Rutin Gelar Vaksinasi Pelajar di Sekolah dan Pesantren
Namun belakangan kakek Yanto mengeluh karena hutangnya bertambah. Dia awalmya tak tahu jika beberapa kebutuhan seperti sewa kontrakan, biaya bongkar rumah, hingga biaya pembuatan sumur air bersih ditanggung sendiri.
"Awalnya dikira gratis, semua ditanggung. Ternyata harus keluar biaya sendiri juga buat bayar kuli bongkar rumah, sewa rumah, sama bikin sumur. Saya jadi ngutang sana-sini, udah Rp5 juta lebih," ujarnya saat memantau proses perbaikan rumah, Kamis (30/9/21).
Dia membeberkan untuk uang jasa kuli bongkar rumah dia harus mengeluarkan biaya Rp800 ribu perhari untuk 4 orang selama 4 hari. Lalu ada pula biaya sewa kontrakan yang mencapai Rp1 jutaan, pembuatan sumur air Rp1,5 juta.
"Itu semua kita tanggung sendiri, makanya sekarang ada senengnya rumah diperbaiki tapi pusing juga karena malah nambah utang," ucapnya.
Kakek Yanto mengaku telah coba menanyakan biaya-biaya itu kepada pelaksana program. Penjelasan yang dia peroleh menyebut memang ada beberapa kebutuhan yang tak dianggarkan dalam program bedah rumah.
Keduanya merupakan penerima manfaat dari program Rumah Umum Tidak Layak Huni (RUTLH). Tempat tinggal mereka pun dibongkar dan dibedah agar menjadi layak huni. Selama proses berjalan, kakek Yanto dan keluarganya harus sewa kontrakan sementara. Baca juga: Percepat PTM, LKNU Tangsel Rutin Gelar Vaksinasi Pelajar di Sekolah dan Pesantren
Namun belakangan kakek Yanto mengeluh karena hutangnya bertambah. Dia awalmya tak tahu jika beberapa kebutuhan seperti sewa kontrakan, biaya bongkar rumah, hingga biaya pembuatan sumur air bersih ditanggung sendiri.
"Awalnya dikira gratis, semua ditanggung. Ternyata harus keluar biaya sendiri juga buat bayar kuli bongkar rumah, sewa rumah, sama bikin sumur. Saya jadi ngutang sana-sini, udah Rp5 juta lebih," ujarnya saat memantau proses perbaikan rumah, Kamis (30/9/21).
Dia membeberkan untuk uang jasa kuli bongkar rumah dia harus mengeluarkan biaya Rp800 ribu perhari untuk 4 orang selama 4 hari. Lalu ada pula biaya sewa kontrakan yang mencapai Rp1 jutaan, pembuatan sumur air Rp1,5 juta.
"Itu semua kita tanggung sendiri, makanya sekarang ada senengnya rumah diperbaiki tapi pusing juga karena malah nambah utang," ucapnya.
Kakek Yanto mengaku telah coba menanyakan biaya-biaya itu kepada pelaksana program. Penjelasan yang dia peroleh menyebut memang ada beberapa kebutuhan yang tak dianggarkan dalam program bedah rumah.
Lihat Juga :