Ibunya Hadapi Ajal Saat Lockdown COVID-19, PM Belanda Tak Menjenguk
Rabu, 27 Mei 2020 - 07:28 WIB
loading...
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. Foto/Reuters
A
A
A
AMSTERDAM - Ibu Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte, Mieke Rutte-Dilling (96), meninggal di panti jompo di Den Haag pada 13 Mei 2020. Dia sebelumnya sakit selama berminggu-minggu tanpa dikunjungi putranya.
(Baca juga: Main Korek Api, 2 Balita Tewas Terbakar Dalam Mobil )
Rutte memilih tidak menjenguk ibunya pada saaat-saat terakhir sebelum meninggal di sebuah panti jompo. Dia beralasan dia mematuhi aturan penguncian (lockdown) pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona baru (COVID-19).
Mengutip laporan surat kabar Belanda, De Telegraaf, Rabu (27/5/2020), pada hari kematian sang Ibu, PM Rutte justru menghadiri pertemuan kabinet tentang respons krisis COVID-19 oleh negara.
Meskipun ibunya tidak meninggal karena COVID-19, ada wabah COVID-19 di panti jompo tersebut. "Perdana menteri telah mematuhi semua arahan untuk menghentikan penyebaran infeksi sejak penutupan negara itu diumumkan pada 15 Maret," kata juru bicara Rutte kepada AFP.
"Selain kesedihan yang luar biasa dan semua kenangan indah, keluarga saya dan saya juga memiliki perasaan syukur bahwa kami diizinkan membawanya bersama begitu lama," kata Rutte.
"Kami sekarang telah mengucapkan selamat tinggal padanya dalam lingkaran keluarga dan berharap untuk dapat menangani kehilangan besar dalam kedamaian ini dalam waktu dekat."
(Baca juga: Main Korek Api, 2 Balita Tewas Terbakar Dalam Mobil )
Rutte memilih tidak menjenguk ibunya pada saaat-saat terakhir sebelum meninggal di sebuah panti jompo. Dia beralasan dia mematuhi aturan penguncian (lockdown) pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona baru (COVID-19).
Mengutip laporan surat kabar Belanda, De Telegraaf, Rabu (27/5/2020), pada hari kematian sang Ibu, PM Rutte justru menghadiri pertemuan kabinet tentang respons krisis COVID-19 oleh negara.
Meskipun ibunya tidak meninggal karena COVID-19, ada wabah COVID-19 di panti jompo tersebut. "Perdana menteri telah mematuhi semua arahan untuk menghentikan penyebaran infeksi sejak penutupan negara itu diumumkan pada 15 Maret," kata juru bicara Rutte kepada AFP.
"Selain kesedihan yang luar biasa dan semua kenangan indah, keluarga saya dan saya juga memiliki perasaan syukur bahwa kami diizinkan membawanya bersama begitu lama," kata Rutte.
"Kami sekarang telah mengucapkan selamat tinggal padanya dalam lingkaran keluarga dan berharap untuk dapat menangani kehilangan besar dalam kedamaian ini dalam waktu dekat."
Lihat Juga :