Psikolog Ini Ungkap Fakta di Balik Hebohnya Antrean Pembeli BTS Meal

Jum'at, 11 Juni 2021 - 16:33 WIB
loading...
Psikolog Ini Ungkap...
Sejumlah ojol berkerumun untuk membeli prpmo BTS Meal di gerai McDonalds di Jakarta Pusat, Rabu (9/6/2021). Foto: SINDOphoto/Yulianto
A A A
JAKARTA - Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta Psikolog menilai demam BTS Meal di Tanah Air tidak bisa dikategorikan sebagai bentuk penjajahan budaya. Hal itu hanya sebagai bentuk dari kemudahaan kemajuan teknologi.

“Pada dasarnya fans itu ada di mana-mana, dan fans itu akan mencari apapun yang berhubungan dengan idolanya. Nah kesempatan ini memang ditangkap oleh gerai McD untuk mempromosikan produknya,” ujarnya, Jumat (11/6/2021).

Baca juga: Buntut Kerumunan BTS Meal, Wagub DKI: 32 Gerai McD Ditutup Sementara 1 x 24 Jam

Menurut dia, fenomena antrean yang terjadi kemarin merupakan bukti teknik marketing yang baik. Dulu sebelum teknologi berkembang sangat pesat seperti sekarang, untuk bertemu idola atau mendapat merchandise adalah sesuatu yang sulit didapat. Sekarang, hal itu menjadi sangat mudah.
“Apalagi di Indonesia bisa meminta jasa layanan antarmakanan online sehingga pembeli tidak berpikir panjang untuk memesan karena memang mudah (didapat),” ungkapnya.

Hal yang harus diperhatikan, kata dia, manajemen McD memang seharusnya mengatur sehingga tidak terjadi antrean atau pembeli yang membludak. "Secara marketing memang prinsip orang berjualan kan memang ingin laku sehingga yang dilakukan McD adalah dengan menggandeng artis terkenal. Hal ini bukan hal baru untuk membuat produk menjadi laku," katanya.

Seperti diketahui bahwa ARMY ini cukup banyak jumlahnya di Indonesia. Di sisi lain, McD juga makanan yang biasa dikonsumsi remaja termasuk ARMY.

Baca juga: Sayang Anak, Menteri Erick Berburu BTS Meal Sampai Keringetan

“Remaja juga memiliki konformitas yang tinggi dengan sebayanya, sehingga keinginan untuk ‘sama’ dengan yang lain menjadi kuat. Bisa mendapatkan merchandise idola- di sini adalah BTS Meal menjadi kebanggaan tersendiri. Isi dari makanannya sendiri tidak jadi penting. Jadi ini sebenarnya fenomena biasa. Kemudahan teknologi, banyaknya ARMY, dan kurangnya antisipasi dari McD sendiri yang membuat keadaan menjadi tidak terkendali,” paparnya.

Promo tentang BTS ini dibuat heboh di seluruh dunia karena hanya 50 negara. Bahkan ARMY yang negaranya tidak termasuk dalam list protes keras. Jadi, memang secara marketing emosi para ARMY ini dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan. Kesulitan untuk mendapatkan sesuatu akan membuat seuatu itu lebih ‘berharga’ daripada yang bisa beli kapan dan dimana saja.

Baca juga: Peluncuran BTS Meal Timbulkan Kerumunan, McDonald's Sampaikan Terima Kasih

“Ya memang bukan konten dan kemasannya yang biasa aja (nugget dan saos korea bergambar anggota BTS), tapi cara mendaptkannya, kehebohannya, kecintaan pada idola, membuat para fans menjadi ‘buta’ dan rela melakukan apa saja,” ungkapnya.

Terkait pendapat bahwa McD melakukan ‘tormenting’ pada pelanggan, Shinta berpendapat mungkin kalau tidak dalam kondisi pandemi bisa saja pelanggan rela antre langsung ke gerai. Namun karena kondisi maka pelanggan pun berfikir untuk melakukannya sehingga memilih untuk memesan melalui jasa kurir.
(thm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rayakan 35 Tahun Kebersamaan,...
Rayakan 35 Tahun Kebersamaan, McDonald’s Indonesia Gelar Open House Idulfitri di 10 Restoran
Perluas Wawasan Industri...
Perluas Wawasan Industri Mahasiswa, MNC University Gelar Company Visit ke McDonald’s
McDonald’s Edukasi...
McDonald’s Edukasi Keamanan Pangan di SDN Cikini 01
Rekomendasi
Spesial, Investor Patriot...
Spesial, Investor Patriot Bond Dilindungi dari Tuntutan Pidana hingga Pajak
Bos Blueray Cargo Jalani...
Bos Blueray Cargo Jalani Sidang Tuntutan Korupsi Bea Cukai Hari Ini
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dilimpahkan ke Kejari Jakarta Selatan, TNI-Polri Siaga di Lokasi
Seruan Masyayikh NU...
Seruan Masyayikh NU di Ponpes Al Falah Ploso Redam Ketegangan di PBNU
Bayar PKB Makin Mudah,...
Bayar PKB Makin Mudah, Bapenda DKI Hadirkan Layanan Samsat di PRJ
Pabrik Karet di Tangerang...
Pabrik Karet di Tangerang Kebakaran Sejak Semalam, Sudah 9 Jam Api Masih Berkobar
3.761 Personel Dikerahkan...
3.761 Personel Dikerahkan Amankan Aksi Unjuk Rasa di 2 Lokasi di Jakarta Hari Ini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Diserahkan ke Kejaksaan Hari Ini
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved