Harga Sapi di Indonesia Akan Terus Bergejolak, Ini Penyebabnya

Kamis, 10 Juni 2021 - 11:01 WIB
loading...
Harga Sapi di Indonesia...
Harga sapi di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami gejolak, apalagi jelang Idul Fitri dan Idul Adha. Penyebabnya, sistem peternakan di Indonesia belum stabil. Foto ilustrasi SINDOnews
A A A
BANDUNG - Harga sapi di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami gejolak, apalagi jelang Idul Fitri dan Idul Adha. Banyak penyebab terjadinya gejolak harga, salah satunya sistem peternakan di Indonesia yang belum stabil.

Menurut pengamat pertanian Asosiasi Ekonomi politik Indonesia (AEPI) Khudori, pemerintah Indonesia mestinya sudah mulai memikirkan sistem perdagangan dan peternakan sapi di Indonesia. Sehingga, suplai dan demand sapi tak hanya mengikuti hukum pasar. Baca juga: Didorong Pusat Bantu Pasokan Daging Sapi, Peternak Kobar Diminta Tingkatkan Inovasi

"Sebenarnya, swa sembada sapi telah direncanakan sejak jauh hari, namun sampai sejauh ini, tidak ada perkembangan baik. Bahkan, kita lihat kuota impor terus naik," kata dia pada webinar Rantai Pasokan Sapi Menjelang Idul Adha.

Akibat belum baiknya sistem peternakan, akibatnya Indonesia mengandalkan impor. Kuota impor hampir sama atau stabil setiap tahunnya. Misalnya tahun 2018 60,5 persen sapi dipenuhi dari dalam negeri, 39 persen impor. Pada 2019 juga tidak jauh beda, sekitar 62 persen dalam negeri, sisanya impor.

"Memang yang jadi soal, kebutuhan daging dalam negeri hanya dipenuhi dari peternak kecil rumah tangga. Sementara mereka menjual ketika butuh saja. Ini yang menyebabkan terjadinya gejolak harga, karena mereka tidak bisa memenuhi naiknya permintaan pasar," beber dia.

Harga sapi akan makin parah, ketika tidak bisa memenuhi dengan cara impor. Misalnya Indonesia hanya andalkan Australia, tapi populasi sapi di sana turun akibat banjir dan kebakaran. Tahun 2019 bisa 600 sampai 700 ekor. Tahun lalu hanya 400 sapi bakalan. Kecenderungan penurunan akan berlanjut 2021 ini.

"Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi daging sapi di Indonesia 6,4 persen. Sementara pertumbuhan produksi hanya 1,3 persen, jadi konsumsi dan produksi akan semakin melebar. Ini akan terus terjadi," imbuh dia. Baca juga: Didorong Pusat Bantu Pasokan Daging Sapi, Peternak Kobar Diminta Tingkatkan Inovasi

Sementara menurut Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia Budiono, salah satu yang menimbulkan gejolak adalah permintaan sapi saat Idul Adha. Menurut dia, permintaan sapi hidup pada Idul Adha akan sulit dibendung. Karena memang masyarakat membutuhkan sapi untuk hewan kurban. Berbeda dengan Idul Fitri, pemerintah bisa melakukan impor dalam bentuk daging beku, atau daging kerbau.

Akibat tidak seimbangnya suplai dan demand, salah satu yang dikhawatirkan adalah dijualnya sapi betina produktif. Sayangnya akan banyak betina produktif banyak dijual. Misalnya di Jawa Timur, populasi sapi betina produktif tinggal 50 persen. Hal itu tak lepas dari adanya pedagang yang mengambil untung sesaat.

"Payahnya lagi, semua sapi yang masuk ke Jakarta, semua dipotong. Tapi memang, di sisi lain tak ada industri yang bisa penuhi sapi. Bahkan daerah lain luar Jawa juga ambil sapi dari Jawa. Mestinya pemerintah ada solusi," imbuh dia.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rifqi Ali Mubarok, Sosok...
Rifqi Ali Mubarok, Sosok di Balik Misi Besar Partai Perindo di Jawa Barat
Hadapi Musim Kemarau,...
Hadapi Musim Kemarau, Petani Jabar Ikuti Edukasi Pentingnya Perubahan Pola Budidaya
Jawa Barat Diprediksi...
Jawa Barat Diprediksi Hujan Sangat Lebat hingga 4 Mei 2026, Rawan Banjir
Anggota DPRD Jabar Soroti...
Anggota DPRD Jabar Soroti Dugaan Praktik Tak Wajar di Perguruan Tinggi
Musda XI Tetapkan Daniel...
Musda XI Tetapkan Daniel Muttaqien Syaifuddin sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat
Waka MPR Ibas: Kelancaran...
Waka MPR Ibas: Kelancaran Irigasi Kunci Sukses Ketahanan Pangan Nasional
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Teknologi Fungisida...
Teknologi Fungisida Baru Syngenta Dukung Target Swasembada Beras
Kisah Karin Manuela...
Kisah Karin Manuela di Audisi Miss Indonesia 2026, Bangkit Setelah Gagal Tahun Lalu
Rekomendasi
Raih Predikat Tertinggi...
Raih Predikat Tertinggi IRCA Dua Kali Berturut-turut, GDPS Tegaskan Budaya Kepatuhan
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
Acaraki Jamu Festival...
Acaraki Jamu Festival 2026 Dorong Jamu Jadi Penggerak Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Parapuar 2026 Hadirkan...
Parapuar 2026 Hadirkan Senja, Budaya dan Musik di Labuan Bajo
Tragis! Wanita Tewas...
Tragis! Wanita Tewas usai Jatuh dari Lantai 27 Apartemen di Cempaka Putih
KORPRI Lebak Tantang...
KORPRI Lebak Tantang 1.700 Pelari di Ajang RUNK5BITUNG 2026
Momen Siswa SRMP 17...
Momen Siswa SRMP 17 Tabanan Curhat ke Prabowo
Tembus 16,46 Juta Pengguna,...
Tembus 16,46 Juta Pengguna, LinkUMKM BRI Sukses Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved