Dapat Bantuan, Porter Terminal Kampung Rambutan: Semoga MNC Peduli Banyak Rezeki
Jum'at, 21 Mei 2021 - 21:34 WIB
loading...
MNC Peduli memberikan bantuan kepada porter Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Jumat (21/5/2021). Foto: MPI/Widya Michella
A
A
A
JAKARTA - Sardiman (53) salah satu Porter resmi bernomor A11 menjadi kuli panggul Terminal Kampung Rambutan selama 29 tahun merasakan dampak pandemi Covid-19.
Penghasilannya sehari tidak lebih dari Rp50 ribu-Rp60 ribu akibat menurunnya jumlah pemudik yang menggunakan bus.
Setiap hari Senin-Jumat, ia berangkat pagi pukul 06.00 dan pulang sehabis salat Ashar pukul 16.00 WIB. Selain bekerja sebagai Porter, ia pun juga menjadi kuli bangunan di saat ada tawaran dari rekan kerjanya. Hal tersebut dapat mencukupi kebutuhan keluarganya di Kampung Bulok, Pinang Ranti.
Baca juga: MNC Peduli Salurkan Bantuan untuk Dai di Pedalaman dan Porter Stasiun KA
Sama halnya dengan Wajri B Sanadi (40). Dia pernah menjadi pedagang buah namun usahanya bangkrut sehingga Porter menjadi penghasilan utama guna menghidupi tiga anak dan istrinya di Bengkulu. "Saya merantau ke Jakarta bersama keluarga pernah dagang buah karena modalnya kosong, saya jadi Porter gak ada kerjaan lain dan keluarga balik ke Bengkulu," kata Wajri, Jumat (21/5/2021).
Pria kelahiran 1982 ini mengaku kehidupan Porter sangat keras karena sering bersinggungan dengan karyawan bus atau Porter lainnya. "Mereka (karyawan bus) mau manggul juga, karena penumpang sepi," ucap Wajri.
Selain porter, dia juga kerap kali melakukan pekerjaan serabutan seperti kuli bangunan yang bebas menyesuaikan tenaga. Saat ini ia mengontrak bersama teman Porter lainnya di RT 11/06 Kampung Rambutan sebesar Rp700 ribu/bulan.
Berbeda dengan Abdul Muthalib (60) yang menjadi porter selama tiga puluh tahun. Ia pun juga menumpang hidup di Terminal Kampung Rambutan. Alasannya menjadi porter karena kurangnya kemampuan dalam berbagai hal dan faktor umur juga menjadi kendala dalam mencari pekerjaan.
Penghasilannya sehari tidak lebih dari Rp50 ribu-Rp60 ribu akibat menurunnya jumlah pemudik yang menggunakan bus.
Setiap hari Senin-Jumat, ia berangkat pagi pukul 06.00 dan pulang sehabis salat Ashar pukul 16.00 WIB. Selain bekerja sebagai Porter, ia pun juga menjadi kuli bangunan di saat ada tawaran dari rekan kerjanya. Hal tersebut dapat mencukupi kebutuhan keluarganya di Kampung Bulok, Pinang Ranti.
Baca juga: MNC Peduli Salurkan Bantuan untuk Dai di Pedalaman dan Porter Stasiun KA
Sama halnya dengan Wajri B Sanadi (40). Dia pernah menjadi pedagang buah namun usahanya bangkrut sehingga Porter menjadi penghasilan utama guna menghidupi tiga anak dan istrinya di Bengkulu. "Saya merantau ke Jakarta bersama keluarga pernah dagang buah karena modalnya kosong, saya jadi Porter gak ada kerjaan lain dan keluarga balik ke Bengkulu," kata Wajri, Jumat (21/5/2021).
Pria kelahiran 1982 ini mengaku kehidupan Porter sangat keras karena sering bersinggungan dengan karyawan bus atau Porter lainnya. "Mereka (karyawan bus) mau manggul juga, karena penumpang sepi," ucap Wajri.
Selain porter, dia juga kerap kali melakukan pekerjaan serabutan seperti kuli bangunan yang bebas menyesuaikan tenaga. Saat ini ia mengontrak bersama teman Porter lainnya di RT 11/06 Kampung Rambutan sebesar Rp700 ribu/bulan.
Berbeda dengan Abdul Muthalib (60) yang menjadi porter selama tiga puluh tahun. Ia pun juga menumpang hidup di Terminal Kampung Rambutan. Alasannya menjadi porter karena kurangnya kemampuan dalam berbagai hal dan faktor umur juga menjadi kendala dalam mencari pekerjaan.
Lihat Juga :