Ngabuburit, FEB Unisma Kupas SDGs dan Perekonomian Islam
Jum'at, 22 Mei 2020 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Dia menyebutkan, ada 17 agenda SDGs dalam pembagunan ekonomi global, di antaranya tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, air bersih dan sanitasi layak, energi bersih dan terjangkau, industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, ekosistem laut, ekosistem daratan, perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.
"Dari yang saya paparkan terlihat ada benang merah dan kesinambungan antara konsep pembangunan ekonomi Islam dengan SDGs. Bahkan pembangunan perekonomian Islam sudah terimplementasikan terlebih dahulu dibanding konsep SDGs yang baru dicanangkan tahun 2015," ujarnya.
Sistem perekonomian Islam yang berpijak pada konsep Khalifah ini, menurutnya berpijak sejak Rasulullah, dilanjutkan oleh para sahabat nabi. "Sebagaimana Rasulullah yang telah mengajarkan dan memberikan pijakan pedoman nilai perekonomian Islam, yang kemudian tetap berlanjut kendati Rasulullah telah wafat," ungkapnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, di era Khalifah Abu Bakar Asshidiq, melanjutkan sistem perekonomian yang dibangun Rasulullah dan menggiatkan Baitul Maal. Kondisi itu terus berkembang di era Khalifah Umar Bin Khattab, yang berijtihad untuk membentuk lembaga pengontrol harga serta melembagakan Baitul Maal.
Sementara, Khalifah Utsman Bin Affan lebih mengedepankan perbaikan infrastruktur dalam perekonomian, serta Khalifah Ali Bin Abi Tholib yang fokus pada pemungutan pajak dan zakat, serta pelaksanaan pendistribusian berdasarkan azas pemerataan serta memungut pajak jizyah kepada non-mulim. "Indonesia sebagai negera dengan penduduk muslim terbesar di dunia, harus menjadi pijakan utama dalam implementasi perekonomian islam," tegasnya.
Diana menyampaikan, bahwa nilai-nilai dalam Islam sejalan dengan tujuan mencapai SDGs. Dalam Islam terdapat dua instrumen keuangan yang dapat dimanfaatkan, fungsinya untuk mendukung tercapainya SDG, yaitu zakat dan wakaf.
"Dari yang saya paparkan terlihat ada benang merah dan kesinambungan antara konsep pembangunan ekonomi Islam dengan SDGs. Bahkan pembangunan perekonomian Islam sudah terimplementasikan terlebih dahulu dibanding konsep SDGs yang baru dicanangkan tahun 2015," ujarnya.
Sistem perekonomian Islam yang berpijak pada konsep Khalifah ini, menurutnya berpijak sejak Rasulullah, dilanjutkan oleh para sahabat nabi. "Sebagaimana Rasulullah yang telah mengajarkan dan memberikan pijakan pedoman nilai perekonomian Islam, yang kemudian tetap berlanjut kendati Rasulullah telah wafat," ungkapnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, di era Khalifah Abu Bakar Asshidiq, melanjutkan sistem perekonomian yang dibangun Rasulullah dan menggiatkan Baitul Maal. Kondisi itu terus berkembang di era Khalifah Umar Bin Khattab, yang berijtihad untuk membentuk lembaga pengontrol harga serta melembagakan Baitul Maal.
Sementara, Khalifah Utsman Bin Affan lebih mengedepankan perbaikan infrastruktur dalam perekonomian, serta Khalifah Ali Bin Abi Tholib yang fokus pada pemungutan pajak dan zakat, serta pelaksanaan pendistribusian berdasarkan azas pemerataan serta memungut pajak jizyah kepada non-mulim. "Indonesia sebagai negera dengan penduduk muslim terbesar di dunia, harus menjadi pijakan utama dalam implementasi perekonomian islam," tegasnya.
Diana menyampaikan, bahwa nilai-nilai dalam Islam sejalan dengan tujuan mencapai SDGs. Dalam Islam terdapat dua instrumen keuangan yang dapat dimanfaatkan, fungsinya untuk mendukung tercapainya SDG, yaitu zakat dan wakaf.
Lihat Juga :