Aktivitas Meningkat, Sejak Pagi Gunung Sinabung Alami 13 Kali Guguran Panas
Selasa, 02 Maret 2021 - 11:36 WIB
loading...
Aktivitas Meningkat, Sejak Pagi Gunung Sinabung Alami 13 Kali Guguran Panas. Foto/Ist
A
A
A
BANDUNG - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mencatat kenaikan aktivitas guguran awan panas di Gunung Sinabung sejak pagi, Selasa (2/3/2021).
PVMBG mencatat mulai pukul 06:42 WIB terjadi rangkaian awan panas guguran dengan jarak luncur 2.000 hingga 5.000 meter ke arah tenggara timur. Guguran disertai kolom asap setinggi 4.000 hingga 5.000 meter dari tubuh aliran awan panas guguran.
"Hingga pukul 08:20 WIB terlah terjadi 13 kali kejadian awan panas guguran di Gunung Sinabung," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Andiani.
Menurut dia, rangkaian kejadian awan panas guguran pada 2 Maret 2021 merupakan karakter erupsi Gunung Sinabung yang telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2013.
Mekanisme kejadian awan panas guguran diakibatkan oleh adanya pembentukan kubah lava di bagian puncak, kemudian diikuti oleh adanya migrasi fluida (batuan padat, cairan, gas) ke permukaan yang mendorong kubah lava.
Migrasi fluida ini diindikasikan oleh jumlah gempa-gempa Low Frequency dan Hybrid yang tinggi. "Pengamatan visual dan kegempaan hingga 2 Maret 2021 pukul 9.00 WIB menunjukkan fluktuasi dalam pola yang masih tinggi, tetapi tidak ada indikasi peningkatan potensi ancaman bahaya," jelas dia.
PVMBG mencatat mulai pukul 06:42 WIB terjadi rangkaian awan panas guguran dengan jarak luncur 2.000 hingga 5.000 meter ke arah tenggara timur. Guguran disertai kolom asap setinggi 4.000 hingga 5.000 meter dari tubuh aliran awan panas guguran.
"Hingga pukul 08:20 WIB terlah terjadi 13 kali kejadian awan panas guguran di Gunung Sinabung," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Andiani.
Menurut dia, rangkaian kejadian awan panas guguran pada 2 Maret 2021 merupakan karakter erupsi Gunung Sinabung yang telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2013.
Mekanisme kejadian awan panas guguran diakibatkan oleh adanya pembentukan kubah lava di bagian puncak, kemudian diikuti oleh adanya migrasi fluida (batuan padat, cairan, gas) ke permukaan yang mendorong kubah lava.
Migrasi fluida ini diindikasikan oleh jumlah gempa-gempa Low Frequency dan Hybrid yang tinggi. "Pengamatan visual dan kegempaan hingga 2 Maret 2021 pukul 9.00 WIB menunjukkan fluktuasi dalam pola yang masih tinggi, tetapi tidak ada indikasi peningkatan potensi ancaman bahaya," jelas dia.
Lihat Juga :