IABHI: Pandemik Covid-19 Membuat Masyarakat Memperbaharui Perilaku Hidup
Jum'at, 17 April 2020 - 20:02 WIB
loading...
A
A
A
Sementara, bila bangunan dilihat sebagai bagian dari lingkungan binaan, sangatlah penting integrasi antara ruang dalam dan ruang luar yang dapat menjamin kualitas udara sekaligus kenyamanan termal dengan bersikap responsif terhadap iklim tropis di Indonesia. Tentunya, integrasi ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat menciptakan iklim mikro yang kondusif.
Setiap individu dituntut pemahamannya akan bangunan hijau. Kompetensi ahli GB perlu sekali dijabarkan menjadi kompetensi masyarakat awam sehingga dapat menjadi life skill bagi setiap orang. Untuk itu, perlu penyederhanaan teknis, panduan mempraktikkan prinsip bangunan hijau yang lebih implementatif serta ketrampilan mengukur dengan menggunakan alat-alat ukur terkait kualitas ruang.
Dibutuhkan pula, platform aplikasi yang menarik bagi masyarakat luas untuk melakukan pemantauan mandiri dalam pengelolaan bangunan hijau melalui gawai seperti smartphone. Model bisnis jasa profesional ahli bangunan hijau harus dirumuskan dengan mengakomodasi etika dan kesadaran akan survivability yang lebih intensif.
Keahlian bangunan hijau disokong oleh disiplin ilmu lain seperti arsitektur, desain interior, lansekap, mekanikal, elektrikal dsb. Untuk itu sebagai suatu profesi, ahli bangunan hijau perlu memiliki kemampuan komunikasi ilmiah-profesional dan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Sehingga, perannya dapat diperluas dan ditingkatkan baik secara jangkauan maupun kualitasnya untuk turut serta dalam berbagai upaya penerapan bangunan hijau.
Penyusunan standar teknis bangunan hijau; perintisan praktik bangunan hijau dalam lingkup kuasa yang dimilikinya; konsultansi penerapan bangunan hijau pada bangunan umum; serta pendidikan atau pelatihan kepada masyarakat luas, merupakan perwujudan dari peran sekaligus tanggung jawab moral, sosial dan profesional yang dapat terus digali oleh para ahli bangunan hijau.
Setiap individu dituntut pemahamannya akan bangunan hijau. Kompetensi ahli GB perlu sekali dijabarkan menjadi kompetensi masyarakat awam sehingga dapat menjadi life skill bagi setiap orang. Untuk itu, perlu penyederhanaan teknis, panduan mempraktikkan prinsip bangunan hijau yang lebih implementatif serta ketrampilan mengukur dengan menggunakan alat-alat ukur terkait kualitas ruang.
Dibutuhkan pula, platform aplikasi yang menarik bagi masyarakat luas untuk melakukan pemantauan mandiri dalam pengelolaan bangunan hijau melalui gawai seperti smartphone. Model bisnis jasa profesional ahli bangunan hijau harus dirumuskan dengan mengakomodasi etika dan kesadaran akan survivability yang lebih intensif.
Keahlian bangunan hijau disokong oleh disiplin ilmu lain seperti arsitektur, desain interior, lansekap, mekanikal, elektrikal dsb. Untuk itu sebagai suatu profesi, ahli bangunan hijau perlu memiliki kemampuan komunikasi ilmiah-profesional dan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Sehingga, perannya dapat diperluas dan ditingkatkan baik secara jangkauan maupun kualitasnya untuk turut serta dalam berbagai upaya penerapan bangunan hijau.
Penyusunan standar teknis bangunan hijau; perintisan praktik bangunan hijau dalam lingkup kuasa yang dimilikinya; konsultansi penerapan bangunan hijau pada bangunan umum; serta pendidikan atau pelatihan kepada masyarakat luas, merupakan perwujudan dari peran sekaligus tanggung jawab moral, sosial dan profesional yang dapat terus digali oleh para ahli bangunan hijau.
(hab)
Lihat Juga :