Satgas Depok Sebut Ketidaksinkronan Data Pasien Covid-19 dengan Pemerintah Pusat

Jum'at, 08 Januari 2021 - 06:30 WIB
loading...
Satgas Depok Sebut Ketidaksinkronan...
Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
A A A
DEPOK - Juru bicara Satgas Covid-19 Kota Depok Dadang Wihana mengungkap ketidaksinkronan data jumlah pasien Covid-19 antara pemerintah pusat dan daerah. Dia menyebutkan, ada gap data sekitar 5.000 antara Pusdatin Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan data riil yang ada di Kota Depok.

“Saat ini, terjadi gap data yang cukup tinggi sejumlah 5.068 kasus perbedaan data antara pusat dengan Kota Depok. Ini informasinya terjadi juga dengan daerah lainnya,” kata Dadang di Depok, Kamis 7 Januari 2021.

Disebutkan dia, status Covid-19 itu adalah data yang digunakan salah satunya untuk menghitung zona risiko daerah oleh Satgas Pusat. Mereka mengambil data dari pusdatin Kementerian Kesehatan. Untuk kabupaten dan kota di Jawa Barat fasilitas untuk data itu memang dikendalikan oleh pikobar Jawa Barat. Saat ini untuk Kota Depok data itu di input dalam Picodep.

“Aplikasi itu lebih dulu hadir ketika 1 bulan terjadinya kasus Covid 19 Kota Depok sudah punya aplikasi sebelum pikobar dan sebelum aplikasi all new record di Kemenkes,” ungkapnya. (Baca juga: Vaksinasi COVID-19, DPRD Minta Pemprov DKI Tak Takuti Warga dengan Denda )

Untuk data di Kota Depok, sambung Dadang, sudah diumumkan setiap hari sehingga tidak ada dua data. Data yang di Kota Depok publish adalah data realtime karena ini menyangkut keselamatan manusia.

“Kita sudah menyampaikan masalah ini pada lebih kurang bulan Oktober kepada provinsi untuk difasilitasi rekonsiliasi data dengan pusat akan tetapi belum ada tindak lanjut sehingga kami Kota Depok berkoordinasi dengan pusdatin Kementerian Kesehatan,” tambahnya. (Baca juga: Berlomba Melawan Keraguan Vaksin Covid-19 )

Beberapa waktu lalu pihaknya diminta kabupaten kota untuk mengikuti data rilis yang sama dengan pemerintah pusat. Kemudian diarahkan untuk menyajikan dua data, tetapi Kota Depok tidak bisa memenuhi itu karena Kota Depok tetap dengan paradigmanya adalah menggunakan data real Time yang di publik.

“Saat ini yang dibutuhkan adalah bagaimana agar pusdatin dengan Kota Depok bisa melakukan (bliring)? Data. Gap Data yang 5.068 itu bisa langsung di input ke pusdatin tanpa harus diinput satu per satu,” katanya.

(mhd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
47 Sekolah Swasta Gratis...
47 Sekolah Swasta Gratis di Depok 2026, dari Pancoran Mas, Beji, hingga Cinere
Rekor! Pria Ini Terinfeksi...
Rekor! Pria Ini Terinfeksi Covid-19 selama 2 Tahun Nonstop
33 Sekolah Swasta di...
33 Sekolah Swasta di Depok Gratis Jenjang SMP, Cek Daftar Lengkapnya
Rekomendasi
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Wali Kota Agustina Tegaskan...
Wali Kota Agustina Tegaskan Kerukunan Jadi Kekuatan Utama Membangun Kota Semarang
Kemenag Susun Kosa Isyarat...
Kemenag Susun Kosa Isyarat Istilah Fikih dan Teologi Islam untuk Disabilitas
Berita Terkini
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Peringati Tahun Baru...
Peringati Tahun Baru Islam, DPP PSI Santuni 100 Anak Yatim dan Duafa
KAMMI Sesalkan Pembubaran...
KAMMI Sesalkan Pembubaran Forum Diskusi di UGM
Gempa Magnitudo 6,7...
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulteng, 1 Warga Sigi Meninggal Dunia
Yayasan Syarif Hidayatullah...
Yayasan Syarif Hidayatullah Dipakai Tanpa Izin, UIN Jakarta Siapkan Langkah Hukum
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat
Infografis
Waspada, Kasus COVID-19...
Waspada, Kasus COVID-19 Meningkat 2 Kali Lipat di Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved