Wisatawan Asal Jambi Jadi yang Pertama Kunjungi Museum Batam Raja Ali Haji
Sabtu, 26 Desember 2020 - 06:17 WIB
loading...
Lima Wisatawan Nusantara (wisnus) asal Jambi mengunjungi Museum Batam Raja Ali Haji, bertempat di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Jumat (25/12/20). SINDOnews/Dicky
A
A
A
BATAM - Lima Wisatawan Nusantara (wisnus) asal Jambi mengunjungi Museum Batam Raja Ali Haji, bertempat di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Jumat (25/12/20). Kedatangan wisnus pertama tersebut disambut baik oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata.
Ardi langsung memandu wisnus untuk melihat koleksi Museum Batam Raja Ali Haji . Ia memulai dari tata pamer Nasi Besar merupakan nasi yang dihidangkan dalam acara kebesaran, seperti pernikahan, khataman Alquran. Selanjutnya ada Bangkeng yang menjadi wadah penyimpanan baju pengantin Melayu. Ardi juga menjelaskan tentang sketsa wajah Nong Isa.
"Untuk mendapatkan petunjuk wajah Nong Isa atau Raja Isa bin Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda Riau V bin Daeng Kamboja bin Daeng Parani, kita upayakan dari seorang pelukis sketsa, Marani. Adapun, sketsa itu dilukis berdasarkan penggambaran dari Raja Badrillah, salah satu keturunan ke-7 dari Nong Isa," kata Ardi.
Kemudian, wisatawan diajak melihat khazanah Melayu yang dipajang disetiap dinding museum yakni menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang. "Disini kita mengambarkan before dan after infrastruktur Batam, di bawahnya ada masa kota administrasi," jelasnya.
Dia juga menuturkan, Museum Raja Ali Haji diresmikan (soft opening) oleh Wali Kota Batam Muhammad Rudi bertempatan dengan Hari Jadi Batam (HJB) ke-191 tahun. Museum ini sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia.
Ardi langsung memandu wisnus untuk melihat koleksi Museum Batam Raja Ali Haji . Ia memulai dari tata pamer Nasi Besar merupakan nasi yang dihidangkan dalam acara kebesaran, seperti pernikahan, khataman Alquran. Selanjutnya ada Bangkeng yang menjadi wadah penyimpanan baju pengantin Melayu. Ardi juga menjelaskan tentang sketsa wajah Nong Isa.
"Untuk mendapatkan petunjuk wajah Nong Isa atau Raja Isa bin Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda Riau V bin Daeng Kamboja bin Daeng Parani, kita upayakan dari seorang pelukis sketsa, Marani. Adapun, sketsa itu dilukis berdasarkan penggambaran dari Raja Badrillah, salah satu keturunan ke-7 dari Nong Isa," kata Ardi.
Kemudian, wisatawan diajak melihat khazanah Melayu yang dipajang disetiap dinding museum yakni menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang. "Disini kita mengambarkan before dan after infrastruktur Batam, di bawahnya ada masa kota administrasi," jelasnya.
Dia juga menuturkan, Museum Raja Ali Haji diresmikan (soft opening) oleh Wali Kota Batam Muhammad Rudi bertempatan dengan Hari Jadi Batam (HJB) ke-191 tahun. Museum ini sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia.
Lihat Juga :