Jabar Bakal Miliki Pusat Komando Ketahanan Pangan
Kamis, 24 Desember 2020 - 15:03 WIB
loading...
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil saat memberikan arahan kepada Tim Penyusun Pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (23/12/2020). Foto/Humas Pemprov Jabar
A
A
A
BANDUNG - Pemprov Jawa Barat intens mematangkan rencana pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan yang nantinya berbentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jabar.
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengatakan, landasan pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar adalah adanya kebutuhan melakukan digitalisasi data, baik mengenai pangan dan gizi.
"Sambil menunggu UPTD berproses saya minta proses jalan terus. Lakukan upaya kontrak kerja kepada personel yang akan membangun ini," tutur Ridwan Kamil dalam keterangan resminya, Kamis (24/12/2020).
Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil menjelaskan, Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar akan dilengkapi dengan teknologi, informasi, dan komunikasi yang berfungsi sebagai sistem kewaspadaan atau early warning system, agar daerah rawan pangan dan bencana bisa diketahui secara cepat.
"Dengan begini saya bisa tahu daerah mana yang rawan pangan dengan membuat zonasi warna, seperti zonasi kewaspadaan COVID-19. Tantangan terbesarnya adalah mengambil data pangan dari daerah yang sudah harus online," katanya.
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengatakan, landasan pembentukan Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar adalah adanya kebutuhan melakukan digitalisasi data, baik mengenai pangan dan gizi.
"Sambil menunggu UPTD berproses saya minta proses jalan terus. Lakukan upaya kontrak kerja kepada personel yang akan membangun ini," tutur Ridwan Kamil dalam keterangan resminya, Kamis (24/12/2020).
Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil menjelaskan, Pusat Komando Ketahanan Pangan Jabar akan dilengkapi dengan teknologi, informasi, dan komunikasi yang berfungsi sebagai sistem kewaspadaan atau early warning system, agar daerah rawan pangan dan bencana bisa diketahui secara cepat.
"Dengan begini saya bisa tahu daerah mana yang rawan pangan dengan membuat zonasi warna, seperti zonasi kewaspadaan COVID-19. Tantangan terbesarnya adalah mengambil data pangan dari daerah yang sudah harus online," katanya.
Lihat Juga :