Jambore Relawan NU Peduli se-Jateng, Gus Rozin Dorong Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Minggu, 26 Juli 2026 - 14:35 WIB
loading...
Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin) memimpin Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang. Foto/istimewa
A
A
A
SEMARANG - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menegaskan kerja-kerja kemanusiaan tidak boleh tersekat oleh latar belakang organisasi, politik, maupun agama. Hal itu penting dalam menghadapi ancaman bencana alam yang semakin sulit diprediksi.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin) saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu, 25 Juli 2026.
"Dalam konteks kemanusiaan, kerja sama antarelemen masyarakat tanpa memandang kelompok, ideologi, maupun agama harus kita kedepankan. kemanusiaan adalah fondasi utama," ujar Gus Rozin, Minggu (26/7/2026).
Baca juga: PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Apel kesiapsiagaan ini menjadi momentum konsolidasi kekuatan relawan NU terbesar di Jawa Tengah. Sebanyak 418 peserta mengikuti apel, dengan 270 orang di antaranya merupakan peserta aktif Jambore Relawan NU Peduli. Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan dari 27 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah.
Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan komitmen relawan dalam memperkuat kesiapsiagaan serta mempererat sinergi antarwilayah untuk merespons potensi bencana secara terpadu. Gus Rozin menyoroti kondisi Jawa Tengah yang hampir setiap tahun menghadapi berbagai bencana, mulai dari krisis air bersih akibat kemarau panjang hingga ancaman banjir dan tanah longsor saat musim penghujan.
Lihat video: Prabowo: Saya Lebih Berani di Tengah NU, Setiap Negara dalam Bahaya, NU Menyelamatkan
Pada musim kemarau, wilayah seperti Klaten rutin menghadapi kekeringan. Sementara saat musim hujan, daerah seperti Demak, Grobogan, Pekalongan, Brebes, Tegal, hingga Purbalingga menjadi wilayah yang kerap terdampak banjir dan longsor.
Melihat kondisi tersebut, Gus Rozin meminta para relawan agar tidak lagi bekerja secara insidental atau musiman, melainkan menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya. "Respons cepat itu menentukan segala-galanya. Dan kecepatan itu tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara terus-menerus," tegasnya.
Salah satu poin penting yang disoroti dalam apel ini adalah penanganan pascabencana. Menurut Gus Rozin, tugas relawan tidak selesai ketika banjir surut atau tanah berhenti bergerak.
PWNU Jawa Tengah mendorong penanganan yang bersifat holistik dengan turut memperhatikan aspek psikologis korban melalui program trauma healing. Untuk mewujudkannya, NU Peduli siap menggandeng akademisi, khususnya Fakultas Psikologi, organisasi perempuan seperti Fatayat NU, hingga berbagai komunitas kemanusiaan lainnya.
"Fokus kita adalah menjaga keselamatan dan martabat manusia (hifzhun nafs). Bukan cuma memikirkan pemulihan fisik dan rumah yang rusak, tetapi juga mengembalikan kehormatan serta kesehatan mental para korban," tambah Gus Rozin.
Apel kesiapsiagaan ini tidak hanya diisi dengan pengarahan, tetapi juga langkah-langkah konkret dalam modernisasi penanganan bencana, antara lain:
Inovasi Digital (Aplikasi NU Risk) yakni pertama, peluncuran platform NU Risk yang berfungsi sebagai sistem data terpadu relawan sekaligus sarana pelaporan kejadian bencana secara real-time. Kedua, dukungan Logistik BPBD: Penyerahan bantuan simbolis dari BPBD Jawa Tengah berupa tenda komando dan peralatan dapur umum skala besar.
Ketiga, aksi tanggap kekeringan berupa penyaluran bantuan air bersih secara simbolis oleh Lazisnu Jawa Tengah bagi wilayah terdampak kemarau. Keempat, komitmen lingkungan dalam bentuk penanaman pohon sebagai simbol komitmen menjaga keseimbangan alam dan mengurangi risiko bencana.
Kegiatan ini dihadiri jajaran Forkopimda, Wakil Ketua LPBI PBNU Sobirin, Ketua NU Peduli Jawa Tengah KH Mandzur Labib, serta para pimpinan lembaga NU lainnya. Tampak ratusan relawan yang memadati lokasi berasal dari berbagai badan otonom NU, mulai dari LPBI NU, Lazisnu, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, hingga Pagar Nusa. Mereka bahu-membahu bersama relawan BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam memperkuat kesiapsiagaan serta memperluas kerja sama kemanusiaan di Jawa Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin) saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu, 25 Juli 2026.
"Dalam konteks kemanusiaan, kerja sama antarelemen masyarakat tanpa memandang kelompok, ideologi, maupun agama harus kita kedepankan. kemanusiaan adalah fondasi utama," ujar Gus Rozin, Minggu (26/7/2026).
Baca juga: PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Apel kesiapsiagaan ini menjadi momentum konsolidasi kekuatan relawan NU terbesar di Jawa Tengah. Sebanyak 418 peserta mengikuti apel, dengan 270 orang di antaranya merupakan peserta aktif Jambore Relawan NU Peduli. Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan dari 27 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah.
Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan komitmen relawan dalam memperkuat kesiapsiagaan serta mempererat sinergi antarwilayah untuk merespons potensi bencana secara terpadu. Gus Rozin menyoroti kondisi Jawa Tengah yang hampir setiap tahun menghadapi berbagai bencana, mulai dari krisis air bersih akibat kemarau panjang hingga ancaman banjir dan tanah longsor saat musim penghujan.
Lihat video: Prabowo: Saya Lebih Berani di Tengah NU, Setiap Negara dalam Bahaya, NU Menyelamatkan
Pada musim kemarau, wilayah seperti Klaten rutin menghadapi kekeringan. Sementara saat musim hujan, daerah seperti Demak, Grobogan, Pekalongan, Brebes, Tegal, hingga Purbalingga menjadi wilayah yang kerap terdampak banjir dan longsor.
Melihat kondisi tersebut, Gus Rozin meminta para relawan agar tidak lagi bekerja secara insidental atau musiman, melainkan menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya. "Respons cepat itu menentukan segala-galanya. Dan kecepatan itu tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara terus-menerus," tegasnya.
Salah satu poin penting yang disoroti dalam apel ini adalah penanganan pascabencana. Menurut Gus Rozin, tugas relawan tidak selesai ketika banjir surut atau tanah berhenti bergerak.
PWNU Jawa Tengah mendorong penanganan yang bersifat holistik dengan turut memperhatikan aspek psikologis korban melalui program trauma healing. Untuk mewujudkannya, NU Peduli siap menggandeng akademisi, khususnya Fakultas Psikologi, organisasi perempuan seperti Fatayat NU, hingga berbagai komunitas kemanusiaan lainnya.
"Fokus kita adalah menjaga keselamatan dan martabat manusia (hifzhun nafs). Bukan cuma memikirkan pemulihan fisik dan rumah yang rusak, tetapi juga mengembalikan kehormatan serta kesehatan mental para korban," tambah Gus Rozin.
Apel kesiapsiagaan ini tidak hanya diisi dengan pengarahan, tetapi juga langkah-langkah konkret dalam modernisasi penanganan bencana, antara lain:
Inovasi Digital (Aplikasi NU Risk) yakni pertama, peluncuran platform NU Risk yang berfungsi sebagai sistem data terpadu relawan sekaligus sarana pelaporan kejadian bencana secara real-time. Kedua, dukungan Logistik BPBD: Penyerahan bantuan simbolis dari BPBD Jawa Tengah berupa tenda komando dan peralatan dapur umum skala besar.
Ketiga, aksi tanggap kekeringan berupa penyaluran bantuan air bersih secara simbolis oleh Lazisnu Jawa Tengah bagi wilayah terdampak kemarau. Keempat, komitmen lingkungan dalam bentuk penanaman pohon sebagai simbol komitmen menjaga keseimbangan alam dan mengurangi risiko bencana.
Kegiatan ini dihadiri jajaran Forkopimda, Wakil Ketua LPBI PBNU Sobirin, Ketua NU Peduli Jawa Tengah KH Mandzur Labib, serta para pimpinan lembaga NU lainnya. Tampak ratusan relawan yang memadati lokasi berasal dari berbagai badan otonom NU, mulai dari LPBI NU, Lazisnu, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, hingga Pagar Nusa. Mereka bahu-membahu bersama relawan BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam memperkuat kesiapsiagaan serta memperluas kerja sama kemanusiaan di Jawa Tengah.
(cip)
Lihat Juga :