Puluhan Siswa SMA Belajar Riset, AI, dan Keberlanjutan secara Langsung
Senin, 06 Juli 2026 - 20:07 WIB
loading...
Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) Swiss German University (SGU) sukses menyelenggarakan DY/DX 2.0 yang diikuti siswa SMA se-Indonesia. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) Swiss German University (SGU) sukses menyelenggarakan DY/DX 2.0 yang diikuti siswa SMA se-Indonesia. Program pembelajaran intensif selama tiga hari yang dirancang untuk memperkenalkan dunia riset ilmiah, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta praktik keberlanjutan (sustainability).
Program dimulai dengan pembekalan mengenai penyusunan problem statement, research methodology, data analysis, serta scientific writing yang dibawakan para dosen dan akademisi SGU.
Baca juga: Dimulainya Kolaborasi Pengembangan Riset Ilmiah dan Pengujian Lingkungan
Rektor Swiss German University Assoc Prof Dr Dipl-Ing Samuel P Kusumocahyo mengatakan, kegiatan seperti DY/DX 2.0 merupakan bagian dari komitmen SGU dalam mempersiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Melalui DY/DX 2.0, para siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana proses penelitian dilakukan, bagaimana Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk mendukung sains, serta bagaimana inovasi harus selalu berjalan seiring dengan kepedulian terhadap keberlanjutan,” ujar Samuel, Sabtu (4/7/2026).
Dia berharap pengalaman ini dapat menginspirasi mereka untuk menjadi generasi yang kritis, inovatif, dan siap memberikan solusi bagi tantangan masa depan.
“Penyelenggaraan DY/DX 2.0 mencerminkan komitmen Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) bersama Swiss German University dalam menghadirkan pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning), yang mengintegrasikan riset, teknologi, dan keberlanjutan dalam satu rangkaian pembelajaran,” ungkapnya.
Program ini menjadi bagian dari upaya SGU menumbuhkan minat generasi muda terhadap bidang sains dan teknologi sekaligus memperkenalkan ekosistem pembelajaran yang diterapkan di lingkungan universitas.
Para peserta juga mengikuti berbagai workshop aplikatif seperti pembuatan biodiesel, Bobalogy, serta pemanfaatan Artificial Intelligence untuk cell counting, sehingga mereka dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi diterapkan dalam penelitian modern.
Dekan Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) SGU Assoc Prof Dr Hery Sutanto menjelaskan bahwa DY/DX 2.0 dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
Peserta diajak memahami bagaimana proses penelitian dilakukan sejak tahap awal hingga menghasilkan solusi yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Melalui DY/DX 2.0, kami ingin memperkenalkan kepada para siswa bahwa riset bukan sekadar teori di dalam buku, tetapi sebuah proses untuk menemukan solusi atas berbagai tantangan nyata,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya menggabungkan pembelajaran mengenai metodologi penelitian, pemanfaatan AI, hingga isu sustainability agar peserta memperoleh gambaran utuh mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat.
Program dimulai dengan pembekalan mengenai penyusunan problem statement, research methodology, data analysis, serta scientific writing yang dibawakan para dosen dan akademisi SGU.
Baca juga: Dimulainya Kolaborasi Pengembangan Riset Ilmiah dan Pengujian Lingkungan
Rektor Swiss German University Assoc Prof Dr Dipl-Ing Samuel P Kusumocahyo mengatakan, kegiatan seperti DY/DX 2.0 merupakan bagian dari komitmen SGU dalam mempersiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Melalui DY/DX 2.0, para siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengalami sendiri bagaimana proses penelitian dilakukan, bagaimana Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk mendukung sains, serta bagaimana inovasi harus selalu berjalan seiring dengan kepedulian terhadap keberlanjutan,” ujar Samuel, Sabtu (4/7/2026).
Dia berharap pengalaman ini dapat menginspirasi mereka untuk menjadi generasi yang kritis, inovatif, dan siap memberikan solusi bagi tantangan masa depan.
“Penyelenggaraan DY/DX 2.0 mencerminkan komitmen Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) bersama Swiss German University dalam menghadirkan pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning), yang mengintegrasikan riset, teknologi, dan keberlanjutan dalam satu rangkaian pembelajaran,” ungkapnya.
Program ini menjadi bagian dari upaya SGU menumbuhkan minat generasi muda terhadap bidang sains dan teknologi sekaligus memperkenalkan ekosistem pembelajaran yang diterapkan di lingkungan universitas.
Para peserta juga mengikuti berbagai workshop aplikatif seperti pembuatan biodiesel, Bobalogy, serta pemanfaatan Artificial Intelligence untuk cell counting, sehingga mereka dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi diterapkan dalam penelitian modern.
Dekan Faculty of Life Sciences and Technology (FLST) SGU Assoc Prof Dr Hery Sutanto menjelaskan bahwa DY/DX 2.0 dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
Peserta diajak memahami bagaimana proses penelitian dilakukan sejak tahap awal hingga menghasilkan solusi yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Melalui DY/DX 2.0, kami ingin memperkenalkan kepada para siswa bahwa riset bukan sekadar teori di dalam buku, tetapi sebuah proses untuk menemukan solusi atas berbagai tantangan nyata,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya menggabungkan pembelajaran mengenai metodologi penelitian, pemanfaatan AI, hingga isu sustainability agar peserta memperoleh gambaran utuh mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat.
(jon)
Lihat Juga :