IYSDGS 2026 Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Air dan Pangan
Senin, 06 Juli 2026 - 13:21 WIB
loading...
Wakil Ketua MPR Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Universitas Bakrie melalui Program Studi Ilmu Politik kembali menggelar Indonesian Youth SDGs Summit atau IYSDGS 2026 di Jakarta. Acara tersebut mengusung tema “Next-Gen Solutions for Energy and Food Security”.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi internasional, sektor swasta, komunitas, dan generasi muda dalam membahas isu ketahanan air, ketahanan pangan, energi, serta pembangunan berkelanjutan. IYSDGS 2026 mengangkat dua isu utama, yaitu Future-Proofing Water Infrastructure for National Water Securitydan National Strategy for Food Security and Sustainable Agriculture.
Kedua isu tersebut berkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals atau SDGs, khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak. Rektor Universitas Bakrie Sofia W. Alisjahbana menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa Universitas Bakrie yang telah menginisiasi dan menggerakkan penyelenggaraan IYSDGS 2026.
Baca juga: Komisi VIII DPR: Ada Ancaman Besar jika LGBT Masif di Indonesia
Menurutnya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda dapat mengambil peran aktif dalam isu keberlanjutan. “Saya mengapresiasi mahasiswa Universitas Bakrie yang telah menginisiasi kegiatan ini. IYSDGS menjadi bukti bahwa anak muda bukan hanya peserta dalam agenda pembangunan berkelanjutan, tetapi juga dapat menjadi penggerak, penghubung, dan pencipta solusi” ujar Sofia dikutip Senin (6/7/2026).
Sofia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membuka ruang pertemuan antara gagasan akademik, pengalaman lapangan, dan kebutuhan kebijakan publik. “Isu sustainability membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi perlu hadir sebagai ruang yang mempertemukan pengetahuan, riset, inovasi, dan aksi nyata agar solusi yang lahir dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam sesi pembukaan, Wakil Ketua MPR Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno menegaskan bahwa isu sustainability dan lingkungan hidup bukanlah isu baru dalam kerangka bernegara. Menurutnya, para pendiri bangsa telah meletakkan dasar mengenai pentingnya lingkungan hidup dalam konstitusi Indonesia.
“Permasalahan sustainability dan lingkungan hidup sesungguhnya sudah diatur oleh para founding fathers kita dalam Undang-Undang Dasar. Setiap warga negara berhak untuk hidup dalam lingkungan yang baik, bersih, dan sehat,” ujar Eddy.
Ia juga menekankan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah tercermin dalam Pasal 33 ayat 4 UUD 1945, yang menyatakan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan dengan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
“Pasal 33 ayat 4 menyatakan bahwa pembangunan ekonomi harus dilandaskan pada prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Artinya, sejak awal kita memiliki dasar konstitusional bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Sementara itu, tokoh lingkungan dan pembangunan berkelanjutan Emil Salim, mengajak peserta untuk melihat pembangunan berkelanjutan sebagai agenda jangka panjang Indonesia. Ia menekankan pentingnya merintis pola pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.
“Dalam menyongsong masa depan Indonesia pada 50 tahun mendatang, pertanyaan penting yang harus kita jawab adalah: bisakah kita merintis pola pembangunan yang benar-benar berkelanjutan?” ujar Emil Salim.
Emil juga menegaskan bahwa keberlanjutan perlu dibangun sebagai pola pikir bersama, bukan sekadar program sesaat. “Pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan. Kita perlu memastikan bahwa pembangunan juga menjaga manusia, lingkungan, dan generasi yang akan datang” tambahnya.
Perspektif global turut disampaikan oleh Rajendra Aryal, Perwakilan Food and Agriculture Organization atau FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste. Dalam paparannya, Rajendra menekankan bahwa ketahanan pangan perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek distribusi, keberlanjutan, inklusivitas, dan daya tahan sistem pangan terhadap berbagai krisis.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang memproduksi lebih banyak pangan. Food security is also about making our food systems more resilient, inclusive, and sustainable. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan generasi muda menjadi sangat penting,” ungkap Rajendra.
Rajendra juga menilai bahwa generasi muda dapat menjadi penggerak penting dalam menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan pangan dan pertanian berkelanjutan. “Young people bring creativity, energy, and new perspectives. Tugas kita adalah memastikan ide-ide tersebut terhubung dengan data, riset, kebijakan, dan implementasi di lapangan agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Selain sesi pembukaan, IYSDGS 2026 juga menghadirkan SDGs Actor Session yang menampilkan praktik baik dan inisiatif dari LUME CARBON, Generasi Energi Bersih, dan Zeekend. Sesi ini memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap SDGs dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari komunitas, bisnis, inovasi sosial, hingga gerakan anak muda.
Pada Session I: Future-Proofing Water Infrastructure for National Water Security, para narasumber membahas tantangan pembangunan infrastruktur air, inovasi teknologi, tata kelola, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan air nasional. Sesi ini menghadirkan Rio Fafen Ciptaswara, President Director LUME CARBON; Dr. Ir. Firdaus Ali, Founder & Chairman Indonesia Water Institute; serta Rendy Ardiansyah, Direktur Utama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur.
Diskusi tersebut menyoroti bahwa isu air tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga menyangkut tata kelola, infrastruktur, akses masyarakat, dan kesiapan Indonesia menghadapi perubahan iklim.
Sementara itu, Session II: National Strategy for Food Security and Sustainable Agriculture membahas strategi ketahanan pangan melalui kebijakan berbasis data, inovasi riset, penguatan sistem produksi dan distribusi pangan, serta kolaborasi multipihak dalam menghadapi perubahan iklim dan dinamika krisis pangan global. Sesi ini menghadirkan Rico Eric Estrada, Clara Citra Arundati, Muhammad Ulil Ahmad, dan Hendra Adi Susila sebagai narasumber.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, IYSDGS 2026 juga memberikan penghargaan kepada para pemenang kegiatan pre-event melalui SDGs Awarding Session. Tiga sekolah terbaik, yaitu School of Human Bekasi, SMK Bisnis dan Teknologi, dan MAN 14 Jakarta, turut mempresentasikan gagasan mereka sebelum menerima penghargaan.
Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie Aditya Batara Gunawan menyampaikan bahwa IYSDGS dirancang bukan hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik bagi mahasiswa dan generasi muda. “Kami ingin IYSDGS menjadi ruang yang mempertemukan gagasan akademik, pengalaman praktis, dan kebutuhan kebijakan publik. Isu air, pangan, energi, dan sustainability terlalu penting untuk dibahas secara sektoral. Karena itu, forum ini menghadirkan berbagai aktor agar mahasiswa dapat melihat persoalan secara lebih utuh” ujar Aditya.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam forum seperti ini penting untuk membangun literasi kebijakan dan kepedulian terhadap isu pembangunan berkelanjutan. “Generasi muda perlu dibiasakan membaca persoalan publik secara kritis, tetapi juga solutif. Harapannya, IYSDGS dapat menjadi salah satu pintu bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari pengetahuan, riset, advokasi, hingga kolaborasi,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan IYSDGS 2026, Universitas Bakrie menegaskan komitmennya dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui pendidikan tinggi, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pelibatan aktif generasi muda dalam menjawab tantangan strategis nasional.
Indonesian Youth SDGs (IYSDGs) Summit merupakan forum tahunan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie sebagai wadah kolaborasi, diskusi, dan aksi bagi generasi muda dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
Melalui seminar, diskusi panel, dan berbagai inisiatif kepemudaan, IYSDGs Summit mendorong lahirnya gagasan inovatif serta kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045 dan Agenda SDGs 2030.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi internasional, sektor swasta, komunitas, dan generasi muda dalam membahas isu ketahanan air, ketahanan pangan, energi, serta pembangunan berkelanjutan. IYSDGS 2026 mengangkat dua isu utama, yaitu Future-Proofing Water Infrastructure for National Water Securitydan National Strategy for Food Security and Sustainable Agriculture.
Kedua isu tersebut berkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals atau SDGs, khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak. Rektor Universitas Bakrie Sofia W. Alisjahbana menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa Universitas Bakrie yang telah menginisiasi dan menggerakkan penyelenggaraan IYSDGS 2026.
Baca juga: Komisi VIII DPR: Ada Ancaman Besar jika LGBT Masif di Indonesia
Menurutnya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda dapat mengambil peran aktif dalam isu keberlanjutan. “Saya mengapresiasi mahasiswa Universitas Bakrie yang telah menginisiasi kegiatan ini. IYSDGS menjadi bukti bahwa anak muda bukan hanya peserta dalam agenda pembangunan berkelanjutan, tetapi juga dapat menjadi penggerak, penghubung, dan pencipta solusi” ujar Sofia dikutip Senin (6/7/2026).
Sofia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membuka ruang pertemuan antara gagasan akademik, pengalaman lapangan, dan kebutuhan kebijakan publik. “Isu sustainability membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi perlu hadir sebagai ruang yang mempertemukan pengetahuan, riset, inovasi, dan aksi nyata agar solusi yang lahir dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam sesi pembukaan, Wakil Ketua MPR Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno menegaskan bahwa isu sustainability dan lingkungan hidup bukanlah isu baru dalam kerangka bernegara. Menurutnya, para pendiri bangsa telah meletakkan dasar mengenai pentingnya lingkungan hidup dalam konstitusi Indonesia.
“Permasalahan sustainability dan lingkungan hidup sesungguhnya sudah diatur oleh para founding fathers kita dalam Undang-Undang Dasar. Setiap warga negara berhak untuk hidup dalam lingkungan yang baik, bersih, dan sehat,” ujar Eddy.
Ia juga menekankan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah tercermin dalam Pasal 33 ayat 4 UUD 1945, yang menyatakan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan dengan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
“Pasal 33 ayat 4 menyatakan bahwa pembangunan ekonomi harus dilandaskan pada prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Artinya, sejak awal kita memiliki dasar konstitusional bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Sementara itu, tokoh lingkungan dan pembangunan berkelanjutan Emil Salim, mengajak peserta untuk melihat pembangunan berkelanjutan sebagai agenda jangka panjang Indonesia. Ia menekankan pentingnya merintis pola pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.
“Dalam menyongsong masa depan Indonesia pada 50 tahun mendatang, pertanyaan penting yang harus kita jawab adalah: bisakah kita merintis pola pembangunan yang benar-benar berkelanjutan?” ujar Emil Salim.
Emil juga menegaskan bahwa keberlanjutan perlu dibangun sebagai pola pikir bersama, bukan sekadar program sesaat. “Pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan. Kita perlu memastikan bahwa pembangunan juga menjaga manusia, lingkungan, dan generasi yang akan datang” tambahnya.
Perspektif global turut disampaikan oleh Rajendra Aryal, Perwakilan Food and Agriculture Organization atau FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste. Dalam paparannya, Rajendra menekankan bahwa ketahanan pangan perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek distribusi, keberlanjutan, inklusivitas, dan daya tahan sistem pangan terhadap berbagai krisis.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang memproduksi lebih banyak pangan. Food security is also about making our food systems more resilient, inclusive, and sustainable. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan generasi muda menjadi sangat penting,” ungkap Rajendra.
Rajendra juga menilai bahwa generasi muda dapat menjadi penggerak penting dalam menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan pangan dan pertanian berkelanjutan. “Young people bring creativity, energy, and new perspectives. Tugas kita adalah memastikan ide-ide tersebut terhubung dengan data, riset, kebijakan, dan implementasi di lapangan agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Selain sesi pembukaan, IYSDGS 2026 juga menghadirkan SDGs Actor Session yang menampilkan praktik baik dan inisiatif dari LUME CARBON, Generasi Energi Bersih, dan Zeekend. Sesi ini memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap SDGs dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari komunitas, bisnis, inovasi sosial, hingga gerakan anak muda.
Pada Session I: Future-Proofing Water Infrastructure for National Water Security, para narasumber membahas tantangan pembangunan infrastruktur air, inovasi teknologi, tata kelola, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan air nasional. Sesi ini menghadirkan Rio Fafen Ciptaswara, President Director LUME CARBON; Dr. Ir. Firdaus Ali, Founder & Chairman Indonesia Water Institute; serta Rendy Ardiansyah, Direktur Utama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur.
Diskusi tersebut menyoroti bahwa isu air tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga menyangkut tata kelola, infrastruktur, akses masyarakat, dan kesiapan Indonesia menghadapi perubahan iklim.
Sementara itu, Session II: National Strategy for Food Security and Sustainable Agriculture membahas strategi ketahanan pangan melalui kebijakan berbasis data, inovasi riset, penguatan sistem produksi dan distribusi pangan, serta kolaborasi multipihak dalam menghadapi perubahan iklim dan dinamika krisis pangan global. Sesi ini menghadirkan Rico Eric Estrada, Clara Citra Arundati, Muhammad Ulil Ahmad, dan Hendra Adi Susila sebagai narasumber.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, IYSDGS 2026 juga memberikan penghargaan kepada para pemenang kegiatan pre-event melalui SDGs Awarding Session. Tiga sekolah terbaik, yaitu School of Human Bekasi, SMK Bisnis dan Teknologi, dan MAN 14 Jakarta, turut mempresentasikan gagasan mereka sebelum menerima penghargaan.
Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie Aditya Batara Gunawan menyampaikan bahwa IYSDGS dirancang bukan hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik bagi mahasiswa dan generasi muda. “Kami ingin IYSDGS menjadi ruang yang mempertemukan gagasan akademik, pengalaman praktis, dan kebutuhan kebijakan publik. Isu air, pangan, energi, dan sustainability terlalu penting untuk dibahas secara sektoral. Karena itu, forum ini menghadirkan berbagai aktor agar mahasiswa dapat melihat persoalan secara lebih utuh” ujar Aditya.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam forum seperti ini penting untuk membangun literasi kebijakan dan kepedulian terhadap isu pembangunan berkelanjutan. “Generasi muda perlu dibiasakan membaca persoalan publik secara kritis, tetapi juga solutif. Harapannya, IYSDGS dapat menjadi salah satu pintu bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari pengetahuan, riset, advokasi, hingga kolaborasi,” tambahnya.
Melalui penyelenggaraan IYSDGS 2026, Universitas Bakrie menegaskan komitmennya dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui pendidikan tinggi, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pelibatan aktif generasi muda dalam menjawab tantangan strategis nasional.
Indonesian Youth SDGs (IYSDGs) Summit merupakan forum tahunan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie sebagai wadah kolaborasi, diskusi, dan aksi bagi generasi muda dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
Melalui seminar, diskusi panel, dan berbagai inisiatif kepemudaan, IYSDGs Summit mendorong lahirnya gagasan inovatif serta kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045 dan Agenda SDGs 2030.
(rca)
Lihat Juga :