IYSDGS 2026 Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Air dan Pangan
Senin, 06 Juli 2026 - 13:21 WIB
loading...
A
A
A
“Pasal 33 ayat 4 menyatakan bahwa pembangunan ekonomi harus dilandaskan pada prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Artinya, sejak awal kita memiliki dasar konstitusional bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Sementara itu, tokoh lingkungan dan pembangunan berkelanjutan Emil Salim, mengajak peserta untuk melihat pembangunan berkelanjutan sebagai agenda jangka panjang Indonesia. Ia menekankan pentingnya merintis pola pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.
“Dalam menyongsong masa depan Indonesia pada 50 tahun mendatang, pertanyaan penting yang harus kita jawab adalah: bisakah kita merintis pola pembangunan yang benar-benar berkelanjutan?” ujar Emil Salim.
Emil juga menegaskan bahwa keberlanjutan perlu dibangun sebagai pola pikir bersama, bukan sekadar program sesaat. “Pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan. Kita perlu memastikan bahwa pembangunan juga menjaga manusia, lingkungan, dan generasi yang akan datang” tambahnya.
Perspektif global turut disampaikan oleh Rajendra Aryal, Perwakilan Food and Agriculture Organization atau FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste. Dalam paparannya, Rajendra menekankan bahwa ketahanan pangan perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek distribusi, keberlanjutan, inklusivitas, dan daya tahan sistem pangan terhadap berbagai krisis.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang memproduksi lebih banyak pangan. Food security is also about making our food systems more resilient, inclusive, and sustainable. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan generasi muda menjadi sangat penting,” ungkap Rajendra.
Rajendra juga menilai bahwa generasi muda dapat menjadi penggerak penting dalam menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan pangan dan pertanian berkelanjutan. “Young people bring creativity, energy, and new perspectives. Tugas kita adalah memastikan ide-ide tersebut terhubung dengan data, riset, kebijakan, dan implementasi di lapangan agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Selain sesi pembukaan, IYSDGS 2026 juga menghadirkan SDGs Actor Session yang menampilkan praktik baik dan inisiatif dari LUME CARBON, Generasi Energi Bersih, dan Zeekend. Sesi ini memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap SDGs dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari komunitas, bisnis, inovasi sosial, hingga gerakan anak muda.
Pada Session I: Future-Proofing Water Infrastructure for National Water Security, para narasumber membahas tantangan pembangunan infrastruktur air, inovasi teknologi, tata kelola, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan air nasional. Sesi ini menghadirkan Rio Fafen Ciptaswara, President Director LUME CARBON; Dr. Ir. Firdaus Ali, Founder & Chairman Indonesia Water Institute; serta Rendy Ardiansyah, Direktur Utama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur.
Sementara itu, tokoh lingkungan dan pembangunan berkelanjutan Emil Salim, mengajak peserta untuk melihat pembangunan berkelanjutan sebagai agenda jangka panjang Indonesia. Ia menekankan pentingnya merintis pola pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.
“Dalam menyongsong masa depan Indonesia pada 50 tahun mendatang, pertanyaan penting yang harus kita jawab adalah: bisakah kita merintis pola pembangunan yang benar-benar berkelanjutan?” ujar Emil Salim.
Emil juga menegaskan bahwa keberlanjutan perlu dibangun sebagai pola pikir bersama, bukan sekadar program sesaat. “Pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan. Kita perlu memastikan bahwa pembangunan juga menjaga manusia, lingkungan, dan generasi yang akan datang” tambahnya.
Perspektif global turut disampaikan oleh Rajendra Aryal, Perwakilan Food and Agriculture Organization atau FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste. Dalam paparannya, Rajendra menekankan bahwa ketahanan pangan perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek distribusi, keberlanjutan, inklusivitas, dan daya tahan sistem pangan terhadap berbagai krisis.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang memproduksi lebih banyak pangan. Food security is also about making our food systems more resilient, inclusive, and sustainable. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan generasi muda menjadi sangat penting,” ungkap Rajendra.
Rajendra juga menilai bahwa generasi muda dapat menjadi penggerak penting dalam menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan pangan dan pertanian berkelanjutan. “Young people bring creativity, energy, and new perspectives. Tugas kita adalah memastikan ide-ide tersebut terhubung dengan data, riset, kebijakan, dan implementasi di lapangan agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Selain sesi pembukaan, IYSDGS 2026 juga menghadirkan SDGs Actor Session yang menampilkan praktik baik dan inisiatif dari LUME CARBON, Generasi Energi Bersih, dan Zeekend. Sesi ini memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap SDGs dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari komunitas, bisnis, inovasi sosial, hingga gerakan anak muda.
Pada Session I: Future-Proofing Water Infrastructure for National Water Security, para narasumber membahas tantangan pembangunan infrastruktur air, inovasi teknologi, tata kelola, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan air nasional. Sesi ini menghadirkan Rio Fafen Ciptaswara, President Director LUME CARBON; Dr. Ir. Firdaus Ali, Founder & Chairman Indonesia Water Institute; serta Rendy Ardiansyah, Direktur Utama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur.
Lihat Juga :