Viral Video Letusan Gunung Anak Krakatau Disertai Semburan Api Merah, PVMBG: Hoaks Buatan AI
Sabtu, 04 Juli 2026 - 16:17 WIB
loading...
PVMBG memastikan bahwa video viral letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung, disertai semburan api merah besar pada malam hari adalah hoaks dan buatan AI. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Viral video di media sosial yang memperlihatkan letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung, disertai semburan api merah besar pada malam hari. Video letusan berdurasi sekitar 10 detik itu juga memperlihatkan pemandangan dari atas kapal dengan sejumlah penumpang tampak mengarahkan ponsel ke langit malam yang dipenuhi kepulan asap, pijaran api kemerahan, dan kilatan cahaya di sekitar kawah.
Bahkan, video yang viral tersebut disertai narasi, “Izin, dapet video dari teman yang adiknya kerja di kapal Gunung Anak Krakatau jam 20.49 WIB.”
Baca juga: Status Gunung Anak Krakatau Naik Level Siaga, Masyarakat Dilarang Mendekat Radius 3 Km
Menanggapi beredarnya video tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa video tersebut hoaks. Bahkan, PVMBG mengungkapkan gunung yang di video bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau.
Selain itu, PVMBG menjelaskan bahwa video letusan Gunung Anak Krakatau tersebut merupakan hasil dari penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal ini terlihat dari layar HP yang ada di dalam video pun tidak merekam kejadian letusan.
“Jika diperhatikan, bentuk gunung bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau, dalam layar HP diatas kapal pun tidak terlihat merekam adanya Letusan, sehingga besar kemungkinan video ini adalah penyalahgunaan AI,” tegas PVMBG dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: 5 Dampak Letusan Gunung Krakatau di Tahun 1883, Dunia Sampai Dikira Sudah Kiamat
PVMBG mengingatkan bahwa perkembangan teknologi AI seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal positif dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan digunakan untuk menyebarkan informasi yang dapat meresahkan publik. “Kecerdasan buatan sebaiknya digunakan untuk hal-hal baik, bukan untuk Meresahkan Masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Badan Geologi telah resmi menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) per Kamis, 2 Juli 2026. Kenaikan status dimulai setelah terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu teramati 200 m di atas puncak (+357 m di atas permukaan laut).
Dengan adanya kenaikan status menjadi Siaga, masyarakat, wisatawan maupun pendaki melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi.
Bahkan, video yang viral tersebut disertai narasi, “Izin, dapet video dari teman yang adiknya kerja di kapal Gunung Anak Krakatau jam 20.49 WIB.”
Baca juga: Status Gunung Anak Krakatau Naik Level Siaga, Masyarakat Dilarang Mendekat Radius 3 Km
Menanggapi beredarnya video tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa video tersebut hoaks. Bahkan, PVMBG mengungkapkan gunung yang di video bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau.
Selain itu, PVMBG menjelaskan bahwa video letusan Gunung Anak Krakatau tersebut merupakan hasil dari penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal ini terlihat dari layar HP yang ada di dalam video pun tidak merekam kejadian letusan.
“Jika diperhatikan, bentuk gunung bukanlah bentuk gunung Anak Krakatau, dalam layar HP diatas kapal pun tidak terlihat merekam adanya Letusan, sehingga besar kemungkinan video ini adalah penyalahgunaan AI,” tegas PVMBG dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: 5 Dampak Letusan Gunung Krakatau di Tahun 1883, Dunia Sampai Dikira Sudah Kiamat
PVMBG mengingatkan bahwa perkembangan teknologi AI seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal positif dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan digunakan untuk menyebarkan informasi yang dapat meresahkan publik. “Kecerdasan buatan sebaiknya digunakan untuk hal-hal baik, bukan untuk Meresahkan Masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Badan Geologi telah resmi menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) per Kamis, 2 Juli 2026. Kenaikan status dimulai setelah terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu teramati 200 m di atas puncak (+357 m di atas permukaan laut).
Dengan adanya kenaikan status menjadi Siaga, masyarakat, wisatawan maupun pendaki melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi.
(shf)
Lihat Juga :