Dukung Keberlanjutan Pesisir, Sinergi BUMN Jalankan Konservasi Terumbu Karang di Lampung Selatan
Kamis, 18 Juni 2026 - 14:18 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Upaya menjaga keberlanjutan kawasan pesisir membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Berangkat dari semangat tersebut, PERURI bersama enam BUMN lainnya berpartisipasi dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Blue Impact yang digelar di Pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kabupaten Lampung Selatan, pada Jumat (12/6).
Program Blue Impact merupakan kolaborasi antara tujuh Badan Usaha Milik Negara, yaitu PERURI, PNM, Adhi Karya, Brantas Abipraya, Nindya Karya, Waskita, dan WIKA. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata BUMN dalam menghadirkan kontribusi yang tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup warga pesisir.
Melalui program ini, PERURI turut memperkuat peran BUMN dalam mendukung agenda keberlanjutan, khususnya pada kawasan pesisir yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat. Blue Impact mengusung tiga agenda utama, yaitu konservasi terumbu karang, literasi keuangan, serta pengecekan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar.
Ketiga agenda tersebut dirancang sebagai satu kesatuan program yang merepresentasikan kepedulian terhadap lingkungan, penguatan kapasitas ekonomi masyarakat, dan dukungan terhadap kesehatan warga. Dengan pendekatan ini, Blue Impact diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar Pantai Minang Rua.
Head of Corporate Secretary PERURI, Adi Sunardi, menyampaikan bahwa kolaborasi antar-BUMN menjadi kunci dalam menghadirkan program TJSL yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan berdampak langsung bagi lingkungan.
“Melalui program Blue Impact, PERURI turut hadir dalam upaya bersama menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bagi kami, sinergi antar-BUMN seperti ini menjadi bentuk nyata bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan perlu dijalankan secara kolaboratif, terarah, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Adi.
Pantai Minang Rua dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata pesisir dan menjadi salah satu destinasi unggulan di Lampung Selatan. Keberadaan ekosistem laut yang sehat menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik pariwisata, mendukung keseimbangan lingkungan, serta menopang aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Program Blue Impact merupakan kolaborasi antara tujuh Badan Usaha Milik Negara, yaitu PERURI, PNM, Adhi Karya, Brantas Abipraya, Nindya Karya, Waskita, dan WIKA. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata BUMN dalam menghadirkan kontribusi yang tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup warga pesisir.
Melalui program ini, PERURI turut memperkuat peran BUMN dalam mendukung agenda keberlanjutan, khususnya pada kawasan pesisir yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi bagi masyarakat. Blue Impact mengusung tiga agenda utama, yaitu konservasi terumbu karang, literasi keuangan, serta pengecekan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar.
Ketiga agenda tersebut dirancang sebagai satu kesatuan program yang merepresentasikan kepedulian terhadap lingkungan, penguatan kapasitas ekonomi masyarakat, dan dukungan terhadap kesehatan warga. Dengan pendekatan ini, Blue Impact diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar Pantai Minang Rua.
Head of Corporate Secretary PERURI, Adi Sunardi, menyampaikan bahwa kolaborasi antar-BUMN menjadi kunci dalam menghadirkan program TJSL yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan berdampak langsung bagi lingkungan.
“Melalui program Blue Impact, PERURI turut hadir dalam upaya bersama menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bagi kami, sinergi antar-BUMN seperti ini menjadi bentuk nyata bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan perlu dijalankan secara kolaboratif, terarah, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Adi.
Pantai Minang Rua dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata pesisir dan menjadi salah satu destinasi unggulan di Lampung Selatan. Keberadaan ekosistem laut yang sehat menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik pariwisata, mendukung keseimbangan lingkungan, serta menopang aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Lihat Juga :